Erupsi dahsyat Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu kerap disebut sebagai salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia purba. Letusan supervolcano di Sumatra ini melontarkan ribuan kilometer kubik magma ke atmosfer dalam waktu sekitar dua minggu saja, jauh lebih besar dibanding letusan Gunung Pinatubo pada 1991. Skala letusan yang luar biasa ini membuat banyak ilmuwan menduga Toba memicu musim dingin vulkanik berkepanjangan, bahkan sampai membawa nenek moyang manusia ke ambang kepunahan. Dugaan itu kini mulai terbantahkan. Penelitian terbaru yang dipimpin Jinheum Park, geosaintis dari Johannes Gutenberg University di Mainz, Jerman, menunjukkan bahwa dampak iklim dari erupsi Toba jauh lebih ringan dari yang selama ini dibayangkan. Buktinya ditemukan bukan di Sumatra, melainkan ribuan kilometer jauhnya, di dasar sebuah danau kecil di Afrika Timur. Sedimen Danau yang Tersusun Seperti Kalender Selama ini, para peneliti kesulitan memastikan seberapa parah dampak Toba karena sedimen laut atau danau pada umumnya bercampur dari tahun ke tahun. Mengukur perubahan iklim yang hanya berlangsung satu atau dua tahun dari sedimen semacam ini ibarat mencoba mengukur waktu lari cepat seratus meter menggunakan kalender dinding. Danau Chala, danau kawah kecil di lereng Gunung Kilimanjaro, Kenya-Tanzania, menawarkan solusi. Danau ini cukup dalam, sekitar 90 meter, dan airnya tidak pernah berputar total sampai ke dasar. Kondisi ini membuat dasar danau minim oksigen dan bebas arus, sehingga sedimen yang mengendap tidak terganggu dan terbentuk sangat teratur setiap tahun, mirip cincin tahunan pada batang pohon, tetapi tersimpan di dasar danau. Gambar mikroskopis lapisan sedimen Danau Chala yang memuat lapisan abu vulkanik Toba (ditandai YTT).…This article was originally published on Mongabay
Riset Danau Purba Ungkap Erupsi Supervolcano Toba 74.000 Tahun Lalu Ternyata Tak Seganas yang Dikira
Riset Danau Purba Ungkap Erupsi Supervolcano Toba 74.000 Tahun Lalu Ternyata Tak Seganas yang Dikira





Comments are closed.