Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Robohnya Rumah Tetangga Kami

Robohnya Rumah Tetangga Kami

robohnya-rumah-tetangga-kami
Robohnya Rumah Tetangga Kami
service

Yang roboh sebenarnya bukan hanya sebuah rumah.

Yang ikut runtuh adalah rasa memiliki satu sama lain. Yang retak adalah gotong royong. Yang lapuk adalah kesediaan untuk memikul beban sesama.

Rumah itu milik seorang tetangga kami. Ia hidup sederhana, telah renta, dan tak memiliki cukup kemampuan untuk memperbaiki rumahnya sendiri. Atapnya bocor. Dindingnya mulai rapuh. Tiang-tiangnya tak lagi kokoh menahan usia.

Semua orang tahu kondisinya.

Namun mengetahui ternyata berbeda dengan peduli.

Beberapa waktu sebelumnya, warga kampung baru saja bergotong royong mengumpulkan dana untuk pembangunan mushola. Sambutannya luar biasa. Uang terkumpul dengan cepat. Tenaga sukarela berdatangan. Orang-orang merasa terpanggil untuk mengambil bagian.

Tetapi ketika muncul ajakan memperbaiki rumah tetangga yang hampir roboh, semangat itu seakan menghilang. Yang datang membantu hanya segelintir orang. Sebagian besar memilih diam, menunggu, atau merasa persoalan itu bukan tanggung jawab bersama.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu mudah membangun rumah untuk beribadah kepada Tuhan, tetapi begitu sulit membangun rumah agar seorang manusia dapat hidup dengan layak?

Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan itu justru saya tujukan kepada diri saya sendiri, karena mungkin saya pun bagian dari masyarakat yang lebih mudah tersentuh oleh simbol daripada oleh kenyataan.

Barangkali inilah yang dikritik oleh Byung-Chul Han. Dalam masyarakat modern, kita semakin kehilangan relasi yang hidup dengan sesama. Solidaritas melemah, sementara perhatian kita lebih mudah diarahkan kepada proyek-proyek yang tampak, seremonial, dan menghasilkan pengakuan. Kita tidak kekurangan aktivitas sosial, tetapi sering kehilangan kedalaman hubungan antarmanusia.

Emha Ainun Nadjib juga berulang kali mengingatkan bahwa agama tidak berhenti pada pembangunan tempat ibadah. Agama seharusnya melahirkan manusia yang mampu merasakan lapar tetangganya, merasakan dingin rumah tetangganya, dan menganggap penderitaan orang lain sebagai urusan bersama.

Maka yang sesungguhnya roboh bukan hanya rumah tetangga kami.

Yang roboh adalah kemampuan kami untuk melihat bahwa memuliakan manusia adalah inti dari setiap ajaran yang kami yakini.

Sebuah kampung tidak menjadi mulia karena musholanya paling megah. Kampung menjadi mulia ketika rumah paling rapuh di kampung itu tidak dibiarkan roboh sendirian.

Karena ukuran sebuah peradaban bukanlah seberapa indah bangunan sucinya, melainkan seberapa besar kasih sayang yang hidup di antara manusia yang membangunnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.