Jakarta, Arina.id — Gerhana matahari total melintasi sejumlah wilayah Eropa pada Rabu (12/8/2026), membawa kegelapan singkat di Islandia dan Spanyol dalam salah satu fenomena astronomi paling langka tahun ini.
Gerhana yang bergerak dari kawasan Arktik menuju selatan tersebut melintasi Greenland, Islandia, dan Samudra Atlantik sebelum mencapai Spanyol bagian utara. Fenomena ini menjadi gerhana matahari total pertama yang terlihat di daratan Eropa sejak 2006 dan menarik perhatian ribuan warga serta wisatawan.
Di Islandia, kegelapan total menyelimuti Keflavik, sekitar 50 kilometer barat daya ibu kota Reykjavik, pada pukul 17.47 waktu setempat atau 17.47 GMT. Kondisi tersebut terjadi meski hujan dan tutupan awan tebal sempat menghalangi pandangan terhadap Matahari yang tertutup Bulan.
Gerhana matahari total juga menjadi peristiwa istimewa bagi Reykjavik karena fenomena serupa terakhir kali terlihat dari ibu kota Islandia tersebut pada 1433. Gerhana berikutnya baru diperkirakan kembali terlihat di Reykjavik pada 2196.
Puluhan ribu wisatawan dan warga lokal tetap memadati sejumlah lokasi pengamatan di Islandia. Astronom dan ilmuwan populer Saevar Helgi Bragason menjadi salah satu pengamat yang telah lama menantikan fenomena tersebut.
Bragason mengatakan dirinya telah menunggu lebih dari 10 tahun untuk menyaksikan gerhana matahari tersebut setelah sebelumnya mengamati gerhana matahari sebagian di Islandia pada 20 Maret 2015.
Namun, prakiraan cuaca yang menunjukkan kemungkinan awan menutupi pemandangan sempat membuatnya kecewa.
“Rasanya hampir seperti saya kehilangan seseorang,” ujar Bragason kepada AFP sebelum gerhana berlangsung.
Durasi gerhana total terpanjang terjadi di atas tebing Latrabjarg, wilayah paling barat Islandia, dengan waktu sekitar dua menit 13 detik. Sementara itu, fase total di pusat Reykjavik berlangsung sedikit lebih dari satu menit.
Setelah melintasi Islandia dan Samudra Atlantik, bayangan Bulan bergerak menuju Spanyol. Di negara tersebut, siang hari berubah menjadi gelap seperti malam ketika gerhana total melintasi sejumlah wilayah.
Gerhana tersebut menjadi gerhana matahari total pertama di Spanyol dalam lebih dari satu abad. Fenomena ini memicu antusiasme besar, dengan warga dan wisatawan berkumpul di sepanjang jalur gerhana, termasuk di kawasan pesisir Mediterania.
Di Tarragona, Isabel Troyano, 56 tahun, menyaksikan gerhana bersama putranya. Ia mengaku terharu melihat fenomena astronomi tersebut.
“Ini pemandangan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya lihat,” katanya kepada AFP.
Peneliti nanoteknologi Alejandro Cuesta, 30 tahun, juga menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa.
“Sungguh luar biasa… ini adalah hal terindah yang pernah saya lihat sepanjang hidup,” ujarnya.
Di Spanyol, bayangan Bulan bergerak melalui jalur sempit dari pesisir utara menuju Kepulauan Balearic. Wisatawan dan warga lokal berkumpul di pantai dengan menggunakan kacamata khusus untuk melindungi mata saat mengamati gerhana.
Permintaan terhadap kacamata pengamatan gerhana meningkat karena gerhana sebagian juga dapat disaksikan di sejumlah wilayah Eropa, Kanada, Amerika Serikat bagian utara, dan Afrika barat laut.
Fenomena Singkat dengan Dampak Besar
Gerhana matahari total terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi sehingga bayangan utama Bulan atau umbra jatuh ke permukaan Bumi.
Fenomena tersebut menciptakan suasana seperti senja dalam waktu singkat. Suhu dapat turun, bayangan benda terlihat tidak biasa, sementara sebagian hewan merespons perubahan cahaya dengan beristirahat.
Menurut Observatorium Paris, bayangan Bulan bergerak melintasi permukaan Bumi dengan kecepatan sekitar 3.430 kilometer per jam. Karena itu, fase gerhana total hanya berlangsung selama beberapa menit di setiap lokasi.
Adapun gerhana sebagian yang terjadi saat Bulan mulai dan selesai melintasi jalur Matahari berlangsung sekitar satu jam 45 menit.
Fenomena tersebut juga menjadi kesempatan penting bagi para ilmuwan. NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) menyiarkan gerhana secara langsung agar dapat diamati masyarakat sekaligus mendukung penelitian terhadap atmosfer Matahari, angin surya, dan medan magnetnya.
Cuaca dan Wisata Jadi Perhatian
Cuaca menjadi salah satu tantangan utama selama pengamatan gerhana. Di Islandia, masyarakat sempat khawatir hujan dan awan tebal akan menghalangi pemandangan, terutama di wilayah Westfjords.
Meski demikian, puluhan ribu wisatawan dan warga lokal tetap mendapatkan kesempatan menyaksikan langit Islandia berubah gelap.
Di Spanyol, langit yang relatif cerah membantu pengamatan gerhana. Namun, pemerintah tetap mewaspadai suhu tinggi dan risiko kebakaran hutan yang berlangsung di sejumlah wilayah.
Antusiasme masyarakat terhadap fenomena tersebut turut memberikan dampak ekonomi bagi Spanyol. Pemerintah memperkirakan hampir 450.000 wisatawan tambahan datang untuk menyaksikan gerhana, dengan potensi kontribusi ekonomi sekitar 347 juta euro atau sekitar US$400 juta.
Untuk menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan, hampir 25.000 personel kepolisian dikerahkan di berbagai wilayah Spanyol.
Gerhana matahari total berikutnya akan melintasi Spanyol bagian selatan dan Afrika Utara pada Agustus 2027. Sementara itu, gerhana matahari cincin atau annular eclipse diprediksi melintasi Semenanjung Iberia pada 2028.





Comments are closed.