Bincangperempuan.com- Kamu mungkin pernah memicingkan mata saat menonton penampakan Naykilla atau Tenxi di atas panggung—“Tunggu, apa sih yang berkilau di gigi mereka?” Kilatan bling-bling yang memantulkan lampu sorot itu adalah tooth gems (permata gigi), elemen estetika yang mendadak hype mengiringi melejitnya gelombang subkultur hipdut (hip-hop dangdut) di ranah musik lokal.
Namun, di balik senyuman berornamen yang terkesan effortless dan rebellious ini, tooth gems menyimpan perjalanan panjang: dari simbol status peradaban kuno, kultur flexing hip-hop 90-an, hingga kini berlabuh sebagai fashion statement Gen Z. Pertanyaannya, apakah kilau instan ini aman untuk menempel di gigi kita, atau justru menyimpan risiko kesehatan mulut di balik estetikanya?
Baca juga: Maximalism Fashion: Bye-Bye Warna Netral, Saatnya Tampil Too Much Tanpa Rasa Bersalah
Apa Itu Tooth Gem?
Menempelkan perhiasan di gigi sebenarnya bukan penemuan baru di era modern. Ribuan tahun lalu, masyarakat Maya Kuno di Tikal sudah menanam batu giok (jadeite) atau pirit (pyrite) di gigi mereka. Arkeolog Marshall Becker dalam wawancaranya dengan Pop Sugar mengatakan bahwa batu yang ditanam (inlaid stones) pada zaman kuno bukan cuma pemanis atau hiasan, tapi jadi penanda kekayaan dan kelas sosial yang tinggi dalam struktur masyarakat.
Dalam sejarah modernnya, tooth gem sering disandingkan atau disamakan dengan grillz—pelapis logam di permukaan gigi (overlays). Grillz sendiri sempat booming di era 1980–1990-an lewat subkultur hip-hop komunitas Kulit Hitam di Amerika Serikat sebagai simbol identitas dan ekspresi diri. Lucunya, pas tooth gems ramai lagi dipakai selebriti kulit putih kayak Katy Perry atau Hailey Bieber (yang bahkan memakainya ke Met Gala), media massa ramai memujinya sebagai tren fashion yang elegan dan chic. Nah, melaluo musisi hipdut lokal seperti Tenxi dan Naykilla, estetika bling-bling ini direbut kembali sebagai ekspresi pop-kultur yang berani, dan penuh warna.
Bagaimana Tooth Gems Dipasang dan Dilepas?
Secara teknis, tooth gem adalah kristal, logam mulia, atau batu permata berukuran mikro yang ditempelkan langsung ke permukaan luar gigi menggunakan bahan perekat kelas medis (dental-grade bonding agent). Tooth gem menawarkan fleksibilitas estetika yang tinggi mulai dari satu kilatan kristal yang halus dan minimalis hingga gugusan beberapa permata yang mencolok untuk memberikan kesan bold yang khas.
Daya tarik utama dari tooth gem terletak pada sifatnya yang semi-permanen dan non-invasif. Berbeda dengan pembuatan lubang pada struktur gigi pada zaman Maya, proses pemasangan modern sama sekali tidak membutuhkan pengikisan enamel atau penggunaan bor gigi. Jika dilakukan oleh profesional gigi seperti terapis kesehatan mulut atau dokter gigi, prosedur penempelannya berlangsung sangat cepat, sederhana, dan biasanya selesai dalam waktu kurang dari 20 menit.
Karena tidak mengubah struktur anatomi gigi secara permanen, tooth gem dapat bertahan mulai dari beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung pada pH mulut, tingkat kebersihan gigi, dan kebiasaan mengunyah. Jika pemiliknya merasa bosan atau ingin berganti gaya, permata dapat dilepas hanya dalam kurun waktu beberapa menit oleh ahli. Praktisi akan melonggarkan daya rekat lem dengan alat khusus, melepaskan kristal tanpa rasa sakit, lalu memoles sisa komposit resin yang menempel agar permukaan enamel kembali halus seperti sediakala. Dalam beberapa kasus, permata mungkin saja lepas sendiri saat makan karena tekanan kunyahan. Ukurannya yang sangat kecil membuatnya relatif tidak berbahaya apabila secara tidak sengaja tertelan ke dalam saluran pencernaan.
Baca juga: Cowok Pakai Rok Dibilang Lembek? Padahal Sejarah Bilang Sebaliknya
Antara Estetika dan Bahaya: Mengapa Kit DIY Berisiko Merusak Enamel?
Meskipun prosesnya terlihat sederhana, lantas apakah menempelkan benda asing pada gigi benar-benar tanpa risiko? Jawabannya sangat bergantung pada siapa yang memasangnya. Dr. Clemons dari Cleveland Clinic menegaskan bahwa pemasangan tooth gem relatif aman dan tergolong tidak berbahaya apabila dikerjakan oleh praktisi medis profesional yang memahami kesehatan jaringan mulut.
Masalah besar justru muncul ketika publik tergiur membeli kit tooth gem rakitan sendiri (DIY) di e-commerce atau mendatangi penyedia jasa salon non-medis demi harga murah. Memasang hiasan gigi tanpa keahlian klinis menyimpan bahaya tersembunyi yang dapat merusak kesehatan mulut secara permanen.
Selain itu kit DIY kerap menggunakan lem kerajinan atau perekat non-medis yang mengandung senyawa kimia berbahaya jika terpapar lingkungan basah mulut dan tertelan secara berkala.
Tanpa teknik persiapan yang steril, maka akan menciptakan celah mikroskopis di sekitar permata. Celah ini menjadi sarang ideal bagi penumpukan plak, sisa makanan, dan bakteri berkembang biak, yang berujung pada erosi enamel, perubahan warna gigi, radang gusi (gingivitis), hingga gigi berlubang (caries).
Selain itu lem yang dipasang sembarangan dapat merusak lapisan enamel secara permanen saat permata terlepas atau dicabut secara paksa. Dr. Clemons mengingatkan bahwa tanpa pemeriksaan medis, orang awam tidak bisa mengetahui apakah gigi mereka cukup sehat dan bebas dari karies sebelum ditimpa permata. Oleh karena itu, menikmati kilau tooth gem ala musisi favorit boleh-boleh saja sebagai bentuk ekspresi diri.
Namun, jangan sembarangan ikut-ikutan tanpa riset terlebih dahulu. Karena sebaiknya pemasangan tooth gem dikerjakan oleh dokter gigi atau ahli di bawah pengawasan tenaga medis. Jangan sampai niat untuk tampil trendy malah jadi mala petaka.
Referensi:
- Cleveland Clinic. (2022, September 12). Are tooth gems safe? Health Essentials from Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/are-tooth-gems-safe
- POPSUGAR. (2022, January 13). The history of tooth gems and how the trend evolved. POPSUGAR Beauty. https://www.popsugar.com/beauty/tooth-gems-history-48671592
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.