Jakarta, NU Online
Para mahasiswa bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menggelar aksi damai memperingati Hari Bumi dan serukan keadaan iklim dengan mendirikan tenda di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Koordinasi Lapangan Aksi, Feby menyampaikan bahwa keresahan masih terasa hingga saat ini. Sebagai bentuk ekspresi mereka mendirikan tenda serta melakukan aksi kreatif dengan berkemah di depan gedung DPR RI.
“Kita banyak merasakan keresahannya sampai hari ini dan pada detik ini juga kita di depan DPR RI melakukan aksi kreatif membuka tenda, kita camping di depan gedung DPR,” ujar Feby kepada NU Online.
Pihaknya menuturkan bahwa keresahan yang dirasakan dituliskan secara kreatif, lalu disampaikan sebagai bentuk seruan agar anak muda dilibatkan dalam setiap keputusan. Ditekankan bahwa generasi muda adalah kelompok yang paling terdampak oleh krisis iklim saat ini.
Feby juga menjelaskan bahwa nantinya akan dibacakan deklarasi orang muda berisi tuntutan atas keresahan yang dialami.
Deklarasi tersebut dimaksudkan untuk menegaskan harapan agar generasi muda diperhitungkan dalam setiap kebijakan, sekaligus mengingatkan bahwa anak muda akan menanggung beban paling besar dari krisis iklim yang sedang berlangsung.
“Kemudian kita akan membacakan deklarasi orang muda atas tuntutan-tuntutan apa saja yang kita resahkan,” tambahnya.
Adapun tuntutan tersebut di antaranya pengesahan RUU keadilan iklim, transformasi kelembagaan yang kuat, integrasi, instrumen GEDSI, serta akuntabilitas dan penegakan hukum.
Senada, Muhammad Iqbal dari Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan-Kembara lnsani lbnu Battuttah (KMPLHK-RANITA) UIN Syarif menegaskan bahwa deklarasi orang muda akan dibacakan untuk menyampaikan tuntutan atas keresahan yang ada.
Deklarasi tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa generasi muda harus diperhitungkan dalam setiap kebijakan, sebab merekalah yang akan menanggung beban paling besar dari krisis iklim.
“Pertama, kita harus brainstorming lagi, sering-sering adain diskusi terkait seminar lingkungan. Setelah itu kita bangun gerakan kolektif, karena kalau dari kita sendiri itu nggak mungkin bisa,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan secara individu. Karena itu, gerakan kolektif perlu dibangun agar aspirasi dan tuntutan dapat disampaikan bersama, termasuk kepada DPR sebagaimana aksi yang sedang berlangsung.
“Kita harus bangun gerakan kolektif agar bisa menyampaikan aspirasi dan membuat tuntutan Lalu kita sampaikan ke DPR ini, seperti yang sekarang ini,” katanya.
Dia menambahkan, sebagai generasi muda (Gen Z), momentum Hari Bumi seharusnya menjadi dorongan bagi pemerintah untuk lebih serius menegakkan pemerintahan lingkungan. Harapan mereka, izin alih fungsi hutan diperketat, amdal benar-benar dijalankan, dan kebijakan tidak tunduk pada kepentingan investor.
Kontributor: Ahmad Syafiq S




Comments are closed.