Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Siapa Tempat Curhat Laki-laki? Ketimpangan Dukungan Emosional dalam Relasi

Siapa Tempat Curhat Laki-laki? Ketimpangan Dukungan Emosional dalam Relasi

siapa-tempat-curhat-laki-laki?-ketimpangan-dukungan-emosional-dalam-relasi
Siapa Tempat Curhat Laki-laki? Ketimpangan Dukungan Emosional dalam Relasi
service

Bincangperempuan.com- Siapa sih yang tak butuh dukungan emosional? Hampir semua orang ingin didengar, diberi ruang aman, dan dimengerti—bukan cuma saat hidup berantakan, tapi juga ketika lelah tanpa tahu harus cerita ke siapa. Secara psikologis, kebutuhan ini krusial. Dalam piramida kebutuhan Abraham Maslow, rasa aman (safety needs) serta love and belonging—penerimaan, kasih sayang, dan rasa memiliki—menjadi fondasi sebelum seseorang bisa percaya diri dan mengaktualisasikan diri.

Pertanyaannya, dari siapa dan sejauh apa kita mendapat dukungan emosional? Apakah perempuan dan laki-laki punya akses yang sama luas terhadap ruang aman untuk bercerita? Atau justru ada perbedaan cara, ruang, dan kebiasaan dalam mencarinya—yang selama ini dianggap normal?

Pasangan sebagai Sumber Dukungan Emosional Utama

Salah satu relasi yang paling sering menjadi tumpuan adalah hubungan romantis.  Pasangan bukan sekadar pendamping hidup, tetapi juga sebagai sumber utama dukungan emosional.

Asumsi ini dibuktikan oleh hasil survei Pew Research Center tahun 2025, sekitar 74% orang dewasa di Amerika Serikat menyatakan mereka sangat mungkin mencari dukungan emosional dari pasangan ketika menghadapi masalah serius. Angka ini relatif konsisten pada laki-laki maupun perempuan. Artinya, bagi sekitar tiga dari empat orang dewasa, pasangan memang menjadi figur utama tempat bersandar secara emosional. Temuan ini menegaskan bahwa relasi romantis memegang peran penting dalam kesejahteraan psikologis. 

Siapa yang Punya Tempat Curhat Lebih Banyak?

Riset tersebut menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki lebih banyak alternatif ketika membutuhkan dukungan emosional. Sekitar 54% perempuan mengatakan mereka sangat mungkin mencari dukungan dari ibu, dibanding 42% laki-laki. Dalam relasi pertemanan, kesenjangannya bahkan lebih jelas, sebanyak 54% perempuan merasa sangat mungkin curhat ke teman dekat, sementara pada laki-laki angkanya hanya 38%.

Perempuan juga lebih sering mengandalkan anggota keluarga lain di luar orang tua dan pasangan (44% perempuan berbanding 26% laki-laki), serta sedikit lebih terbuka untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental (22% perempuan vs 16% laki-laki). Pola ini menunjukkan bahwa banyak perempuan tidak menggantungkan seluruh kebutuhan emosionalnya pada satu orang saja.

Sebaliknya, laki-laki relatif lebih sempit dalam membangun jaringan dukungan emosional. Ketika mereka akhirnya memiliki pasangan, relasi tersebut kerap menjadi satu-satunya ruang aman untuk menyalurkan emosi yang selama ini tidak tersalurkan.

Baca juga: Bromance, Lelaki Juga Butuh Ruang Aman

Mengapa Dukungan Emosional Laki-laki Lebih Sedikit? Maskulinitas Toksik Budaya Patriarki

Perbedaan ini tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk oleh konstruksi sosial tentang maskulinitas. Sejak kecil, banyak laki-laki dibesarkan dengan nilai maskulinitas toksik seperti tidak boleh banyak curhat, tidak boleh menangis dan harus mandiri. Akhirnya menangis, mengaku lelah secara mental, dianggap tidak maskulin.

Sedangkan perempuan, menurut psikolog Joy Harden Bradford, PhD dalam Self Magazine, mereka disosialisasikan untuk menempatkan pertemanan sebagai pusat kehidupan emosional. Sejak kecil, perempuan didorong untuk membangun keintiman melalui berbagi cerita, rahasia, dan perhatian pada detail-detail kecil kehidupan sahabatnya. Inilah yang membuat perempuan memiliki dukungan emosional yang luas dan berlapis di luar pasangan mereka.

Akibat perbedaan ini, banyak laki-laki tumbuh tanpa pernah benar-benar belajar membangun relasi emosional yang aman di luar pasangan. Sementara perempuan terbiasa membagi beban ke banyak bahu, laki-laki cenderung mengunci emosinya rapat-rapat. Ketika mereka akhirnya menjalin hubungan romantis, seluruh kebutuhan emosional yang terpendam itu tumpah ke satu saluran tunggal yaitu pasangan. 

Ketika Pasangan Berubah Menjadi “Psikolog Tidak Resmi”

Dampak keterbatasan jaringan dukungan emosional tidak hanya dirasakan oleh laki-laki. Ketika sebagian laki-laki menggantungkan hampir seluruh kebutuhan emosionalnya pada pasangan, perempuan kerap menjadi pihak yang menanggung beban tersebut. Tanpa disadari, mereka mengambil peran sebagai pendengar utama, penenang, pengelola emosi, bahkan pemecah persoalan psikologis pasangan. 

Peneliti gender Alice Lassman, melalui tulisannya di HuffPost, menyebut fenomena ini sebagai bentuk mankeeping—kondisi ketika perempuan secara tidak sadar berperan sebagai penopang emosional laki-laki. Dalam praktiknya, perempuan menjadi tempat berkeluh kesah, sumber ketenangan, sekaligus figur yang membantu pasangan menavigasi krisis hidup, seolah menjalankan peran “psikolog tidak resmi” dalam relasi.

Selain itu fenomena mankeeping tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga laki-laki. Ketika seorang laki-laki menjadikan pasangannya sebagai dukungan emosional utama, mereka bisa mengalami kelumpuhan regulasi diri (self-regulation).

Dengan terus menyandarkan seluruh beban mental pada satu orang, laki-laki kehilangan kesempatan untuk melatih otot emosionalnya sendiri. Mereka tidak belajar bagaimana memproses kegagalan, mengelola kecemasan, atau menenangkan diri secara mandiri. 

Akibatnya, mereka menjadi rentan secara psikis. Begitu hubungan tersebut mengalami konflik atau berakhir, dunianya runtuh total karena ia tidak memiliki sistem navigasi internal maupun jaringan pendukung lain. Ketergantungan ini menciptakan siklus ketidakberdayaan atas nama maskulinitas, laki-laki bisa berakhir dalam kondisi yang sangat rapuh dan bergantung sepenuhnya pada pengelolaan emosional pada pihak lain.

Baca juga: #SamaSamaAman: Budaya Maskulinitas Toksik, Ketika Laki-laki Dilarang Jadi Korban 

Dampaknya pada Relasi Jangka Panjang dan Parenting

Ketimpangan emosional berpotensi terbawa hingga pernikahan dan pengasuhan anak. Orang tua yang belum mampu mengelola emosinya sendiri bisa lebih mudah stres, reaktif, dan kesulitan membangun komunikasi yang sehat baik dengan pasangan maupun dengan anak.

Berbagai studi psikologi menunjukkan bahwa stres orang tua berpengaruh langsung pada kualitas pengasuhan. Anak belajar mengelola emosi dari lingkungan terdekatnya. Ketika orang tua tidak memiliki support system yang memadai dan seluruh beban emosional hanya ditumpukan pada satu relasi, pola tersebut berisiko diwariskan lintas generasi.

Relasi Sehat Bukan Soal Ketergantungan

Oleh karena itu relasi yang sehat bukan tentang satu orang menjadi pusat seluruh kebutuhan emosional pasangannya. Relasi yang sehat adalah pertemuan dua individu yang sama-sama mampu mengelola diri, memiliki support system, dan berbagi beban secara seimbang.

Data survei Pew Research Center menunjukkan kalau ketergantungan emosional dalam relasi itu bukan masalah personal semata, tapi hasil budaya tentang cara kita meregulasi emosi, standar gender, dan ekspektasi ke laki-laki sejak kecil. Laki-laki masih sering dipaksa kuat sendirian dengan tidak boleh cerita, apalagi menangis.

Padahal, cerita itu bukan lemah. Menangis itu bukan gagal jadi laki-laki. Mulai dari sekarang, yuk normalisasi laki-laki punya ruang untuk curhat, dan rapuh! Emosi yang dipendam tetap jadi beban, dan seringnya dilimpahkan ke orang terdekat. Sebab individu yang sehat secara mental itu lahir saat beban emosional dibagi, bukan ditahan sendirian.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.