Arina.id – Opsi operasi militer yang akan diambil Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dinilai masih terbatas di tengah potensi serangan dan meningkatnya ketegangan kawasan. Ini seiring dengan pertimbangan fakta bahwa penempatan aset militer AS di kawasan middle east dinilai dalam kondisi menipis.
Seperti dilaporkan The New York Times yang mengutip sejumlah pejabat AS, Presiden Donald Trump telah menerima berbagai usulan dari Pentagon, termasuk opsi yang menyasar program nuklir Iran. Namun, pilihan yang tersedia dinilai menyempit karena postur kekuatan AS saat ini di kawasan.
Pada Juni 2025 lalu, AS melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—dalam Operasi Midnight Hammer selama perang Iran-Israel yang berlangsung 12 hari. Namun kini, menurut para pejabat, pengerahan kekuatan AS di kawasan berbeda dengan periode tersebut.
Pentagon dilaporkan telah memindahkan kapal induk Gerald R. Ford dan sejumlah kapal perang lain dari Mediterania Timur ke kawasan Karibia, sehingga mengurangi daya tembak angkatan laut AS di Timur Tengah. Meski demikian, Angkatan Laut AS masih mempertahankan tiga kapal perusak berkemampuan peluncuran rudal di kawasan, termasuk USS Roosevelt yang baru-baru ini memasuki Laut Merah.
Pejabat militer juga mengonfirmasi setidaknya satu kapal selam bersenjata rudal masih beroperasi di wilayah tersebut. Di luar opsi serangan langsung, skenario lain yang dipertimbangkan mencakup serangan siber atau langkah yang menargetkan aparat keamanan domestik Iran.
Menurut sumber Amerika, setiap operasi kemungkinan baru akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan dan berpotensi memicu respons kuat dari Iran. Seorang pejabat militer senior sebelumnya mengatakan para komandan meminta waktu tambahan untuk mengonsolidasikan posisi dan memperkuat pertahanan menghadapi kemungkinan serangan balasan.
Ketegangan meningkat di tengah kekhawatiran akan serangan AS, bersamaan dengan meluasnya aksi protes di Iran. Trump dilaporkan membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran dan menyatakan dukungan bagi para demonstran.
Di sisi lain, Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik demonstrasi besar-besaran tersebut dengan menyebutnya sebagai “kerusuhan dan terorisme”. Di tengah kekhawatiran serangan, Qatar juga mengonfirmasi sebagian personel telah meninggalkan Pangkalan Udara Al Udeid.
Para pejabat AS meningkatkan retorika terhadap Iran sejak protes merebak akhir bulan lalu akibat memburuknya kondisi ekonomi. Pada Selasa, Trump mengatakan kepada CBS News bahwa Washington akan mengambil tindakan sangat keras jika Iran mengeksekusi para demonstran.
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi korban jiwa maupun jumlah penahanan. Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga berbasis di AS, memperkirakan sedikitnya 2.500 orang tewas—termasuk demonstran dan aparat keamanan—dengan lebih dari 1.100 orang luka-luka, serta lebih dari 18.000 orang ditahan. Di sisi lain, angka-angka tersebut belum diverifikasi secara independen dan berbeda dengan estimasi pihak lain.
Trump hentikan serangan terhadap Iran
Di sisi lain, Trump juga dilaporkan membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran karena sejumlah alasan, mulai dari kombinasi kemajuan diplomatik, hambatan logistik, dan penolakan signifikan dari sekutu regional utama. Demikian dilaporkan Axios pada Minggu 18 Januari 2026.
“Situasinya sangat genting. Militer berada dalam posisi untuk melakukan sesuatu dengan sangat cepat,” kata seorang pejabat AS kepada media tersebut, menggambarkan intensitas situasi.
Pemerintah dan berbagai negara Timur Tengah mengharapkan operasi segera setelah pertemuan hari Selasa, namun perintah tersebut tidak pernah datang. Trump awalnya mempersempit opsi militer terhadap target Iran tetapi ragu-ragu karena komplikasi muncul.
Salah satu alasan yang memengaruhi pembatalan tersebut adalah pergeseran aset militer AS ke Karibia dan Asia yang membuat Timur Tengah tidak cukup siap, dengan para pejabat mencatat bahwa “wilayah tersebut belum siap,” membatasi pilihan yang tersedia.
Faktor penentu adalah pertukaran informasi rahasia antara utusan AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pada Rabu pagi, Araghchi dilaporkan mengirim pesan kepada Witkoff, berkomitmen untuk menghentikan pembunuhan dan menghentikan eksekusi yang dijadwalkan terhadap para demonstran.
Lebih lanjut, pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memperingatkan Trump bahwa Israel tidak siap menghadapi pembalasan Iran dan berpendapat bahwa rencana AS yang diusulkan tidak memiliki kekuatan cukup.
Demikian pula, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyatakan keprihatinan mendalam mengenai potensi dampak terhadap stabilitas regional. Sehingga pada Rabu sore, menjadi jelas bahwa perintah serangan tidak akan datang, kata para pejabat AS.
Trump telah berulang kali menyatakan dukungan untuk para demonstran Iran dan mengkritik keras penanganan pemerintah terhadap demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember di Tehran terkait kondisi ekonomi. Presiden AS itu sebelumnya mengindikasikan bahwa dia dapat melancarkan serangan jika Iran merespons demonstran dengan kekuatan mematikan.





Comments are closed.