Wed,27 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Suara dari Klender: Kisah Para Perempuan Kehilangan Orang-orang yang Dicintainya Saat Tragedi Mei 1998

Suara dari Klender: Kisah Para Perempuan Kehilangan Orang-orang yang Dicintainya Saat Tragedi Mei 1998

suara-dari-klender:-kisah-para-perempuan-kehilangan-orang-orang-yang-dicintainya-saat-tragedi-mei-1998
Suara dari Klender: Kisah Para Perempuan Kehilangan Orang-orang yang Dicintainya Saat Tragedi Mei 1998
service

Peringatan pemicu: isi dari artikel ini memuat paparan tentang kerusuhan dan pembakaran yang terjadi pada Tragedi Mei 1998

RUMINAH, 65 tahun, menuturkan sering duduk berdoa di satu pusara makam korban Tragedi Mei 1998 di Tempat Pemakaman Umum Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Di depan pusara itu ia kadang berbicara sendiri, mengenang anaknya yang jadi korban tragedi itu.

Ruminah percaya anaknya Gunawan ada di antara ratusan korban tragedi 13-15 Mei 1998 yang dikubur di sini: di antara 113 nisan, masing-masing berisi lebih dari satu jenazah. Gunawan yang ketika itu berusia 12 tahun tewas terpanggang di Mall Yogya Plaza, Klender, Jakarta Timur, yang sengaja dibakar.

Pagi-pagi benar ia naik taksi dari rumah menuju ke TPU Pondok Ranggon. Ia pulang terkadang menjelang mahgrib. 

“Saya seperti orang stres, bolak-balik Pondok Ranggon. Ada kali sampai 40 hari, habis itu saya berhenti,” ujarnya kepada Konde, Selasa, 19 Mei 2026.

Ruminah menabur bunga di salah satu makam korban Tragedi Mei 1998 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur di acara Napak Reformasi Mei 1998 pada Rabu, 13 Mei 2026. Foto: Anita Dhewy/Konde.co.

Hari itu Ruminah bersama Binaria Sinaga dan Kusmiyati keluarga korban tragedi Mei yang lain, menyambut sekitar seratus peserta Napak Reformasi Mei 1998 yang diadakan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, di Kampung Jati, Kelurahan Jatinegara Kaum, di bilangan Jakarta Timur.

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) 1998 memperkirakan, kebakaran di Yogya Plaza menewaskan hingga 488 orang, terbanyak selama kerusuhan Mei.

Kelurahan Jatinegara Kaum termasuk yang paling terpukul. Sekitar 100 anak dan remaja tidak kembali lagi ke rumah. Rukun Tetangga tempat Ruminah dan Binaria kehilangan tujuh orang anak. Terletak hanya sekitar 1 km dari pusat perbelanjaan modern itu, yang menjadi tempat bermain favorit anak-anak Jatinegara Kaum.

Baca juga: “Perkosaan Massal Mei ’98 Bukan Rumor”: Gugatan Ditolak PTUN, Keadilan untuk Perempuan Dikhianati di Hari Kartini 

“Saya setiap tahun kepengennya kayak gini, dikunjungi, silaturahmi,” kata Ruminah.

Dia berharap acara napak tilas diadakan rutin setiap tahun, khawatir masyarakat segera melupakan tragedi kelam yang merenggut Gunawan dari sisinya.

Dua puluh delapan tahun bukan jarak yang singkat. Banyak yang sudah berubah. Kalau dulu sebagian lahan masih berupa kebun pisang dan empang, kini rumah-rumah tumbuh padat, banyak warga pendatang.

Dulu, tak jauh dari gapura di mulut kampung berdiri prasasti Jarum Mei, yang didirikan oleh keluarga korban dan lembaga Solidaritas Nusa Bangsa. Komnas Perempuan meresmikannya pada 2009. Sekarang, prasasti itu sudah tidak ada, longsor terbawa arus Kali Sunter yang mengalir di sisi jalan masuk kampung. Peserta napak tilas hanya melihat fotonya dan lokasi bekas prasasti.

Sejumlah orang tua korban juga sudah meninggal. Yogya Plaza sudah kembali berdiri dan berganti nama menjadi City Plaza Klender. Namun, bagi Ruminah dan keluarga korban lain di Kampung Jati waktu seolah membeku.

Ruminah masih ingat jelas hari terakhir menjelang anak nomor tiganya itu pergi dari rumah untuk bermain bersama teman-temannya. Seperti biasa, dia tengah bekerja di salonnya, tak jauh dari rel kereta yang terhubung dengan jalan menuju Yogya Plaza.

“Hari itu suasana di sekitar kawasan Yogya Plaza memang tampak menegangkan. Sekelompok orang dengan pakaian seragam SMA terlibat tawuran. Tapi ada yang aneh, mereka terlihat tua, ada yang berambut cepak, dan ada yang gondrong,” kata Ruminah.

“Saya tidak familiar dengan wajah mereka,” katanya.

Khawatir ada yang tidak beres, Ruminah bergegas menutup salonnya dan pulang. Dia mengingatkan anak-anaknya supaya tidak pergi melihat keramaian di jalan raya menuju Yogya Plaza.

Baca juga: Wiwin Suryadinata, Ibu Korban Perkosaan Mei 1998 Yang Menolak Diam

Gunawan sudah menyelesaikan pekerjaan hariannya, mengepel lantai rumah dan bermain bersama teman-temannya, Agung dan Nur, di gang depan rumah.

Selang beberapa waktu, Gunawan tak terlihat di sekitar rumah. Ruminah mulai cemas saat hari makin sore tetapi Gunawan belum pulang. Ada tetangga mengatakan melihat Gunawan bersama teman-temannya pergi ke arah Yogya Plaza.

Ruminah bergegas mencari, sementara dua adiknya ditinggal di rumah. Suaminya, yang bekerja sebagai aparat sipil negara di Yon Air TNI AD Tanjung Priok, Jakarta Utara belum pulang. Di jalan menuju Yogya Plaza, ibu lima orang anak tersebut dikejar mobil kijang berisi sejumlah laki-laki.

Ia mendengar teriakan dari dalam mobil,  “Ada cewek, ada cewek”. Dia bersembunyi di antara pepohonan sehingga mobil itu menjauh.

Sesampainya di Yogya Plaza, ia melihat mal sudah terbakar. Orang-orang di lantai atas berteriak minta tolong. Ada yang terjun ke bawah berusaha menyelamatkan diri.  Ada juga yang turun dengan tali. Ada yang selamat meski luka-luka dan berdarah, ada pula yang meninggal.

Karena tidak menemukan Gunawan di Yogya Plaza, Ruminah melapor ke Kantor Polisi Sektor Pulo Gadung. Di sana ia bertemu dua anggota polisi tetapi mereka angkat tangan. Jaringan telepon putus, sekadar menghubungi petugas pemadam kebakaran pun mereka tidak bisa.

Setelah suaminya pulang kerja, mereka kemudian kembali mencari Gunawan, termasuk mendatangi sejumlah rumah sakit. Malam harinya, Ruminah bersama anaknya yang paling besar datang ke kantor Komando Distrik Militer 0505 Jakarta Timur, yang melayani wilayah Kalimalang dan sekitarnya. Mereka juga tak dapat membantu.

Malam itu terasa sangat panjang bagi Ruminah. Ia tak memejamkan mata sedikit pun. Menelan makanan pun susah. Esok harinya dia kembali ke Yogya Plaza. Namun, lagi-lagi hampa.

Baca juga: Dear Fadli Zon, Perkosaan Massal Mei 1998 Itu Nyata, Kami Perempuan Muda Tolak Sejarah yang Misoginis

“Suami saya akhirnya menemukan kaos warna krem yang dipakai Gunawan hari itu dan gespernya di Rumah Sakit Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Baju tersebut ditaruh di kantong plastik yang hanya berisi dua jenis barang tersebut,” ujar Ruminah mengenang. Mereka kemudian menguburkan barang tersebut di Pemakaman Umum Tanah Koja.

KETIKA Ruminah kelimpungan mencari Gunawan, Binaria Sinaga yang tinggal tak jauh dari rumahnya mencari anaknya Rinawati Tampubolon atau Rina yang ketika itu di bangku kelas 2 SMP.

Binaria sedang berjualan di Terminal Pulo Gadung saat kerusuhan meletus di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta. Ia berangkat pagi setelah tiga anaknya pergi ke sekolah dan pulang saat sudah malam.

Situasi Jakarta saat itu memanas setelah demonstrasi mahasiswa pada 12 Mei 1998 dibalas aparat kepolisian dengan tembakan yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti. Esoknya dan sesudahnya kerusuhan pecah di sejumlah lokasi di Jakarta, diikuti penjarahan dan pembakaran sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan kota besar lain seperti Medan, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Palembang, dan Lampung.

Rina dan adiknya Lisme yang hanya satu kelas di bawahnya pulang lebih cepat. Di rumah mereka menonton televisi yang menyiarkan berita kerusuhan. Sementara mereka memotong jalan di depan rumah mulai ramai. Terdengar suara orang berteriak, “Yogya Plaza noh, dibakarin. Orang-orang pada disuruh masuk, ambil-ambilin barang.”

Binaria Sinaga dan Lisme Tampubolon di depan rumah sekaligus kios mainan di Kampung Jati, Jakarta Timur pada Selasa, 19 Mei 2026. Setelah kehilangan anaknya, Rinawati Tampubolon dalam Tragedi Mei 1998, Binaria melanjutkan hidup dengan kembali berjualan. Foto: Anita Dhewy/Konde.co.

Seorang tetangga, Yuniar (27) datang, mengajak Rina dan Lisme ke Yogya Plaza. Ia penasaran pengen melihat situasi yang terjadi. Rina menolak. Begitu juga Lisme. Yuniar berlalu.

Baca juga: 27 Tahun Berlalu, Kami Masih Menuntut Keadilan Perkosaan Mei 1998 

Lisme lalu ke toilet buang buang air kecil. Tapi sebelumnya dia mengingatkan Rina. “Jangan keluar lho, itu di TV aja lihatnya”.

Waktu Lisme keluar dari toilet, Rina sudah tidak ada di depan TV. Ternyata Yuniar datang lagi mengajak Rina ke Yogya Plaza. Dia pun buru-buru keluar mendapati Rina dan Yuniar di halaman.

“Rina mau ke mana?” tanya Lisme.

“Diajak kak Yuniar,” jawab Rina.

“Kak mau ke mana?” sambung Lisme.

“Mau ke surga,” balas Yuniar.

Setelah itu mereka berdua pergi. Lisme tak bisa lagi mencegah kakaknya.

Sore hari saat Rina tak kunjung pulang, sementara suasana di sekitar rumahnya makin ramai, Lisme menyusul ke Yogya Plaza. Dia melihat api melahap pusat perbelanjaan itu, sementara orang berkerumun di luar dan menyaksikan. Tak ada satu pun polisi di sekitar lokasi.

“Kok ada kejadian begini, tapi polisi enggak ada. Sekuriti juga kayaknya enggak ada. Kalau ada polisi, mungkin korbannya enggak terlalu banyak karena ada yang melarang masuk,” tutur Lisme.

Sebaliknya, Lisme melihat bapak-bapak berpenampilan rapi dan berbadan tegap menyuruh orang-orang yang menonton masuk ke dalam. Ia berkeliling mencari Rina. Seorang kenalan mengatakan melihat Rina tampak kebingungan di dalam. Lisme mulai khawatir kakaknya terjebak api.

Baca juga: Mei 1998, Sejarah Hitam Perempuan Dalam Tragedi Perkosaan

Binaria yang baru pulang malam hari mengajak Lisme kembali ke Yogya Plaza. Namun Rina tak mereka temukan. Esoknya mereka sempat melihat jenazah korban dikeluarkan dari dalam gedung dan diletakkan di parkiran. Mereka yang kehilangan anggota keluarganya berusaha mengidentifikasi korban. Lisme mencoba menemukan Rina yang mengenakan kaos kuning berkerah dan celana pendek. Tetapi jenazah yang sudah gosong sangat sulit dikenali.

Dari semua korban asal Kampung Jati, hanya jenazah Yuniar yang dikenali lewat kalung salib dari emas di lehernya.

Binaria dan Lisme juga mencari ke RSCM, membuka satu-satu kantong-kantong plastik yang berisi jenazah. Mereka tak menemukan satu tanda pun.  Setelah tiga hari, jenazah yang tidak teridentifikasi dimakamkan secara massal di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

“Kami setiap tahun selalu ke Pondok Ranggon. Kalau enggak ke Pondok Ranggon kan bingung juga kami. Sebagai orang tua kami kepengen anak kami ada kuburannya,” tutur Ruminah.

Trauma dan Rasa Bersalah

MESKI tak bisa mengidentifikasi jenazah anaknya, Binaria percaya Rina ada di antara jenazah yang dimakamkan di Pondok Ranggon. Dia bercerita Rina datang dalam mimpi suaminya, memanggil-manggil bapaknya. Badannya tampak hitam. “Saya berdoa, di mana pun kamu, nak, mudah-mudahan sudah tenang,” ujar Binaria lirih.

Lisme masih belum memaafkan dirinya karena pergi ke kamar mandi, yang menyebabkan Rina mengiyakan ajakan Yuniar. Pikiran seperti, “Kalau saja enggak ke kamar mandi,” juga pertanyaan seperti, “Kenapa kemarin ke kamar mandi?” sering terlintas di benaknya.

“Tapi aku mikir juga, Kak Yuniar bilang mau ke surga, ya mudah-mudahan jalannya benar-benar ke surga,” ujar Lisme.

Sementara itu, Sri Wuryanti, kakak dari Agung Kurniawan (16), yang pergi ke Yogya Plaza bersama Gunawan dan beberapa anak yang lain, hingga beberapa tahun tidak tahan melihat sarung yang diikat seperti cucian baju. Jenazah Agung tidak ditemukan, tetapi celana basket pendek warna hijau yang ia pakai hari itu ditemukan ditaruh di selembar sarung yang diikat.

Sejak saat itu, hingga beberapa tahun, Sri tidak bisa melihat sarung yang diikat. “Di-ules gitu, enggak kuat. Saya enggak bisa, enggak berani kalau ngeliat ulesan itu, inget adik terus,” tutur Sri dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Sri, peristiwa Mei 1998 seperti mimpi dan ia selalu berharap adiknya suatu saat pulang ke rumah. Ia berharap adiknya masih hidup.

Sri Wuryanti, di depan rumahnya di Kampung Jati, Jakarta Timur, hingga sekarang tidak berani masuk ke Yogya Plaza yang sudah berganti nama menjadi City Plaza Klender, bahkan masih di area parkiran tubuhnya sudah gemetar. Padahal dulu tempat itu menjadi lokasi nongkrongnya. Foto: Anita Dhewy/Konde.co.
Baca juga: Rujak Pare Sambal Kecombrang, Upaya Melawan Lupa Tragedi Kekerasan Seksual Mei 1998

Hari-hari setelah kepergian Gunawan, Rina, Yuniar, Agung, anak-anak lain, hidup keluarga mereka tak lagi sama.

Ruminah memindahkan salon ke rumahnya yang terletak di dalam gang. Akibatnya, jumlah pelanggan jauh berkurang.

Gunawan, tutur Ruminah, biasanya membantu mencari tambahan uang untuk keluarga dengan berjualan buah potong. Sebelum ke sekolah, dia biasa bangun pagi-pagi dan ke pasar untuk membeli buah, seperti semangka, melon, dan buah lain. Buah tersebut lalu dia kupas, potong-potong, dimasukan ke plastik, lalu disimpan di kulkas salon ibunya. Ia menulis daftar harga buahnya dan ditempel di pintu kulkas.

Mengikis Stigma

RUMINAH naik darah mendengar stigma yang muncul kepada para korban Tragedi Mei 1998 yang dinarasikan sebagai penjarah. Mereka yang terbakar dan tewas dalam tragedi itu dianggap wajar karena dianggap sebagai penjarah.

Pernah satu kali, dalam sebuah diskusi yang digelar oleh sebuah lembaga nonpemerintah untuk membahas peristiwa Mei 1998, seorang pembicara dari pemerintah melontarkan hal itu. “Sakit hatinya semakin menjadi. Alih-alih mendorong pemenuhan hak korban, yang terjadi justru kembali menyalahkan korban,” ujarnya.

Lisme mengatakan menyaksikan sendiri ada yang memprovokasi orang-orang yang datang menonton untuk masuk ke dalam mall dan mengambil barang. 

“Kalau dibilang penjarah, mungkin memang ada penjarahan. Tapi  kalau kita melihat ini sebagai penjarahan, masak se-Indonesia kompak terjadi di hari yang sama?” ujar Lisme.

Sebaliknya, dari rangkaian kejadian yang masih dia ingat dengan jelas, Lisme yakin kakaknya dan korban lain sengaja dibakar di dalam Yogya Plaza.

“Mereka adalah korban dari rencana para pelaku yang sesungguhnya,” kata Lisme.

TGPF 1998 menyimpulkan terdapat pola yang sistematis di sejumlah wilayah dalam hal pembakaran dan aksi provokasi. Kejadiannya pun cenderung serentak di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan di kota-kota besar lain. Bukan saja pada hari yang sama, tapi pada kisaran jam yang sama. Ciri-ciri orang yang memprovokasi juga sama.

Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) yang mendampingi keluarga korban membantu dengan konseling psikologis dan membawa mereka beraudiensi ke sejumlah Dinas di DKI Jakarta.

Sri Hidayah, biasa disapa Hida, staf IKOHI mengatakan audiensi diharapkan mengubah persepsi jajaran pemerintahan dan mengikis stigma terhadap keluarga korban. “Mereka adalah korban dan peristiwa yang terjadi adalah pelanggaran HAM,” ujarnya.

Selain itu, IKOHI berharap peringatan Tragedi Mei, di antaranya melalui kegiatan Napak Reformasi Mei 1998, bisa membuka mata pemerintah dan masyarakat. 

Berani Bicara

BEBERAPA hari setelah kejadian mengerikan itu, rumah Ruminah digedor-gedor orang tengah malam. Suami dan anak-anaknya sudah tidur, hanya ia yang masih terjaga dan mendengar ketukan di pintu tersebut. Dia merasa terintimidasi.

Beberapa waktu lamanya Ruminah tidak berani bicara atau mengungkapkan kejadian yang dia alami. Ia lebih banyak diam, pun ketika ditanya ia hanya menjawab seperlunya. Hingga sejumlah relawan datang dan mendampingi dia dan keluarga korban lainnya.

Dia mulai mengikuti pertemuan para keluarga korban untuk saling berbagi pengalaman dan menguatkan. Dari pertemuan tersebut Ruminah menyadari dirinya tidak sendirian. Ada perempuan-perempuan seperti dirinya dan keluarga korban yang punya pengalaman seperti dirinya.

Perlahan rasa takutnya menghilang. Ada komunitas yang membuatnya merasa senasib, yang siap mendengarkan dan menguatkan.

“Setelah dipertemukan dengan korban-korban yang lain, saya punya keberanian. Pokoknya kalau ada yang tanya, saya akan jawab,” ujar Ruminah.

Ruminah kini sering menceritakan Tragedi Mei 1998 dan yang menyebabkan Gunawan  bersama ribuan korban lainnya tewas, kepada cucu-cucunya.

Foto cover: Luthfi Maulana Adhari/Konde.co

Editor: Basilius Triharyanto

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.