Thu,13 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Tanpa Sangkar, Puluhan Spesies Burung Liar Kerasan di Ngulahan

Tanpa Sangkar, Puluhan Spesies Burung Liar Kerasan di Ngulahan

tanpa-sangkar,-puluhan-spesies-burung-liar-kerasan-di-ngulahan
Tanpa Sangkar, Puluhan Spesies Burung Liar Kerasan di Ngulahan
service

13 Agustus 2026 12.56 WIB • 2 menit

Di Desa Ngulahan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, burung-burung tidak ditempatkan di dalam sangkar untuk bisa dilihat pengunjung. Mereka terbang, hinggap di pepohonan, mencari makan, dan bergerak bebas di sekitar kawasan wisata.

Konsep tersebut diterapkan di Ngulahan Park, sebuah destinasi yang menggabungkan wisata dengan upaya konservasi satwa. Kawasan ini dikenal dengan konsep wisata tanpa kandang atau aviary alam. Pengunjung dapat mengamati berbagai satwa yang dilepasliarkan di area taman tanpa harus melihatnya dari balik pagar kandang.

Hal ini membuat banyak orang bertanya-tanya, kalau tidak ada sangkar, mengapa burung-burung liar itu tetap tinggal di Ngulahan?

Berawal dari Desa dan Kader Konservasi

Ngulahan Park mulai dikembangkan pada 2021 melalui inisiatif N Arthur atau yang dikenal sebagai Paman N, kader konservasi BKSDA Jawa Tengah, bersama pemuda Karang Taruna setempat.

Upaya tersebut berfokus pada rehabilitasi dan pemeliharaan satwa, terutama burung yang memiliki nilai konservasi. Salah satu yang dikembangkan adalah jalak oren. Populasinya disebut meningkat dari sepasang menjadi sekitar 80 ekor dalam dua tahun.

Kawasan ini kemudian berkembang menjadi ruang yang memungkinkan masyarakat melihat satwa dalam lingkungan yang dibuat menyerupai habitat alaminya. Sejumlah burung seperti merak dan rangkong Jawa dapat dijumpai di sekitar pepohonan dan area aktivitas warga.

Ngulahan Park juga menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa lain. Sumber yang tersedia menyebut terdapat sekitar 38 jenis hewan, dengan mayoritas berupa unggas. Di antaranya jalak Bali, jalak putih, merak, dan rangkong Jawa. Ada pula satwa lain seperti ular piton, monyet, iguana, hingga tawon klanceng.

Apa yang Membuat Burung Betah?

Tidak adanya kandang tentu tidak otomatis membuat burung liar menetap di sebuah lokasi. Dalam ekologi, keberadaan satwa di suatu kawasan berkaitan dengan tersedianya kebutuhan dasar, seperti makanan, air, tempat berlindung, ruang untuk bergerak, serta kondisi lingkungan yang sesuai.

Karena itu, konsep Ngulahan Park menarik dilihat dari bagaimana lingkungan kawasan tersebut dapat menyediakan kondisi yang membuat satwa tetap berada di sana. Pepohonan dan vegetasi dapat menjadi tempat bertengger sekaligus berlindung, sementara lingkungan desa menyediakan ruang bagi satwa untuk bergerak.

Namun, dari informasi yang tersedia, belum ada data ilmiah yang menjelaskan secara khusus faktor mana yang paling menentukan burung-burung tersebut bertahan di Ngulahan Park. Karena itu, anggapan bahwa satwa menetap semata-mata karena habitatnya sudah ideal perlu dibuktikan melalui pemantauan dan penelitian lapangan.

Yang dapat terlihat adalah adanya pendekatan berbeda dalam mempertemukan manusia dan satwa. Burung tidak harus ditempatkan dalam kandang agar masyarakat dapat mengenalnya. Sebaliknya, pengunjung yang datang perlu menyesuaikan perilakunya dengan keberadaan satwa yang bergerak bebas.

Konservasi Berjalan Bersama Wisata

Model seperti ini juga membuat aktivitas wisata memiliki dimensi edukasi. Pengunjung dapat melihat satwa dari jarak tertentu dan memahami bahwa perilaku hewan liar berbeda dengan satwa yang memang dipelihara sebagai hewan domestik.

Ngulahan Park menyediakan sejumlah aktivitas lain, termasuk wisata edukasi mengenai satwa dilindungi. Ada pula fasilitas kolam renang, area swafoto, serta kegiatan berkuda yang mengajak wisatawan menikmati lingkungan desa.

Dari sisi ekonomi, konsep wisata ini juga memberi ruang bagi masyarakat lokal untuk terlibat. Pengembangan yang dilakukan bersama pemuda desa menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan beriringan dengan kegiatan wisata dan ekonomi masyarakat.

Bagi kawasan pedesaan seperti Ngulahan, pendekatan tersebut penting karena keberadaan destinasi wisata tidak harus selalu bergantung pada pembangunan fasilitas besar. Lingkungan yang sudah ada dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata, selama pengelolaannya memperhatikan kebutuhan satwa dan masyarakat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.