Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Tanpa Tumbuhan, Bagaimana Mamalia ini Bertahan di ketinggian 6.700 mdpl di Habitat Tertinggi Dunia?

Tanpa Tumbuhan, Bagaimana Mamalia ini Bertahan di ketinggian 6.700 mdpl di Habitat Tertinggi Dunia?

tanpa-tumbuhan,-bagaimana-mamalia-ini-bertahan-di-ketinggian-6.700-mdpl-di-habitat-tertinggi-dunia?
Tanpa Tumbuhan, Bagaimana Mamalia ini Bertahan di ketinggian 6.700 mdpl di Habitat Tertinggi Dunia?
service

Pada Maret 2020, sebuah laporan mengejutkan datang dari puncak Gunung Llullaillaco, sebuah gunung berapi aktif di perbatasan Chile dan Argentina. Jay Storz, seorang ahli biologi dari University of Nebraska-Lincoln, berhasil menangkap seekor tikus telinga kuning (Phyllotis vaccarum) hidup-hidup di ketinggian 6.739 meter di atas permukaan laut (mdpl). Penemuan ini seketika meruntuhkan teori lama yang menyebutkan bahwa batas absolut toleransi mamalia terhadap ketinggian hanya berada di sekitar 5.000 meter. Di ketinggian 6.700 meter, oksigen sangat tipis dan suhu ekstrem menjadi tantangan mematikan bagi sebagian besar makhluk hidup. Namun, empat tahun setelah penemuan tersebut, serangkaian data terbaru mengungkapkan bahwa mamalia ini bukan sekadar pengunjung musiman. Mereka adalah penghuni tetap yang tangguh di “atap dunia”. Salah satu pembaruan data paling signifikan muncul pada akhir 2023 melalui sebuah ekspedisi lanjutan. Tim peneliti kembali ke wilayah Puna de Atacama dan menemukan puluhan “mumi” tikus yang terawetkan secara alami oleh udara dingin dan kering di puncak-puncak gunung berapi seperti Gunung Salín, Pular, dan Copiapó. Keberadaan sisa-sisa fisik ini memberikan bukti nyata mengenai sejarah panjang keberadaan mereka di sana. Lokasi penemuan spesimen rekor tikus telinga kuning (Phyllotis vaccarum) di puncak Gunung Llullaillaco pada ketinggian 6.739 meter di wilayah Antofagasta, Chile. Titik ini kini diakui sebagai batas habitat mamalia tertinggi di dunia yang pernah tercatat secara ilmiah. Foto: biorxiv.org Awalnya, mumi-mumi ini diduga sebagai hewan yang dibawa oleh bangsa Inka untuk ritual pengorbanan ratusan tahun silam di puncak gunung yang dianggap sakral. Namun, hasil penanggalan radiokarbon membuktikan bahwa tikus-tikus tersebut mati secara alami dalam rentang waktu yang sangat…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.