Kekhawatiran soal uang memang bisa membuat kita sulit tidur. Namun, apakah tekanan finansial selama puluhan tahun juga dapat meninggalkan jejak jangka panjang pada otak?
Itulah pertanyaan yang saya dan rekan-rekan saya ingin menjawab dalam penelitian terbaru kami–dan ternyata jawabannya, ternyata, iya.
Sebagian besar penelitian tentang uang dan kesehatan otak hanya melihat kondisi finansial seseorang pada satu titik waktu tertentu. Akibatnya, sulit mengetahui apakah pengalaman kesulitan keuangan selama beberapa tahun memberikan dampak yang sama dengan tekanan finansial yang berlangsung selama puluhan tahun.
Melalui riset yang terbit di jurnal Innovation in Aging, kami mengikuti orang-orang yang sama sepanjang masa dewasa mereka untuk mencari jawabannya.
Kami menggunakan data dari MRC National Survey of Health and Development, yang juga dikenal sebagai studi kohort kelahiran Inggris tahun 1946. Studi kohort mengikuti sekelompok orang yang lahir pada periode yang sama sepanjang hidup mereka.
Studi ini merupakan studi kohort terlama di dunia yang masih terus berjalan. Penelitian ini mengikuti ribuan orang yang lahir dalam satu minggu pada Maret 1946. Partisipannya pun merayakan ulang tahun ke-80 mereka tahun ini.
Read more: 6 cara menjaga kesehatan otak di usia 20-30an: Rajin bersosialisasi bantu rawat ingatan
Dengan memanfaatkan data tersebut, kami menganalisis kondisi keuangan 2.759 peserta pada beberapa tahap kehidupan dewasa mereka.
Para partisipan melaporkan pendapatan rumah tangga mereka pada usia 26, 43, dan 53 tahun. Kami menggolongkan peserta yang berada di kelompok 20% pendapatan terendah pada setidaknya dua dari tiga kali pengukuran sebagai kelompok dengan memiliki rendah yang berkepanjangan–sekitar satu dari enam orang.
Secara terpisah, kami juga mengukur kesulitan finansial dengan bertanya apakah peserta pernah kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dari pendapatannya atau mengalami kesulitan membayar tagihan, setidaknya dua kali antara usia 36 hingga 53 tahun. Kondisi ini dialami oleh sekitar satu dari delapan orang.
Read more: Inilah langkah-langkah untuk mengurangi risiko demensia
Ketika berusia 53 tahun, seluruh peserta menjalani tes memori verbal dan kecepatan berpikir. Sebagian peserta juga menjalani pemindaian otak pada usia antara 69 dan 71 tahun, sehingga kami dapat mengukur atrofi otak (penyusutan) dan perluasan ventrikel—yaitu melebarnya rongga-rongga berisi cairan di dalam otak, yang merupakan penanda yang diakui sebagai indikasi kesehatan otak yang buruk.
Kami menemukan bahwa peserta yang mengalami kesulitan keuangan dan pendapatan rendah dalam jangka panjang memperoleh skor lebih rendah pada tes kognitif saat berusia 53 tahun.
Hubungan ini tetap terlihat meskipun kami telah memperhitungkan kemampuan berpikir mereka pada masa kecil, tingkat pendidikan, dan kondisi kurang menguntungkan yang dialami semasa kanak-kanak.
Di antara partisipan yang menjalani pemindaian otak, pendapatan rendah yang berkepanjangan juga berkaitan dengan penyusutan otak yang lebih besar pada usia lanjut.

Ketika kami mengamati perubahan kemampuan mengingat dari usia 53 hingga 69 tahun, peserta yang mengalami kesulitan keuangan berkepanjangan justru menunjukkan penurunan daya ingat yang lebih lambat. Mengapa?
Kami menduga hal ini terjadi karena kemampuan mereka sudah lebih banyak menurun sebelum usia 53 tahun–mereka memulai dari titik yang lebih rendah, jadi sisa kemampuan yang bisa hilang pun lebih sedikit.
Kami juga menemukan bahwa hubungan antara kesulitan finansial dan penyusutan otak lebih kuat pada laki-laki, orang-orang yang bertumbuh dalam keluarga kurang mampu, dan mereka yang membawa gen yang meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.
Read more: 10 faktor penyebab peningkatan risiko penyakit Alzheimer
Bagi laki-laki dari generasi ini—yang lahir pada 1946 ketika laki-laki umumnya menjadi pencari nafkah utama keluarga—tekanannya kemungkinan membuat stres finansial terasa lebih berat. Laki-laki dari latar belakang kurang mampu juga memiliki tingkat merokok dan konsumsi alkohol yang lebih tinggi dibandingkan perempuan dari kelompok yang sama.
Temuan terkait faktor genetik menunjukkan bahwa orang yang secara biologis lebih rentan mungkin lebih mudah terdampak oleh tekanan finansial. Namun, karena analisis ini berbasiskan jumlah peserta yang lebih sedikit, kami menganggapnya sebagai indikasi, bukan kesimpulan yang pasti.
Mengapa kekhawatiran soal uang bisa memengaruhi otak?
Bagaimana kesulitan keuangan dapat memengaruhi otak dalam jangka panjang? Stres kronis diketahui dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh, yang pada akhirnya mempercepat penuaan otak.
Selain itu, memikirkan masalah keuangan secara terus-menerus juga menguras energi sehingga kapasitas otak untuk melakukan tugas berpikir lainnya menjadi berkurang. Beban kognitif ini harus bersaing dengan berbagai fungsi lain yang juga sedang dijalankan oleh otak.
Kami menyadari bahwa penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab akibat. Selain itu, karena seluruh peserta berasal dari satu generasi warga Inggris, hasilnya belum tentu dapat diterapkan langsung pada populasi atau negara lain. Namun, mengikuti orang-orang yang sama selama puluhan tahun memberikan gambaran yang jauh lebih jelas dibandingkan penelitian yang hanya melihat kondisi seseorang pada satu waktu.
Kesulitan finansial semakin diakui sebagai salah satu dari beberapa faktor—bersama dengan hal-hal seperti gangguan pendengaran, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik—yang dapat memengaruhi risiko terjadinya penurunan fungsi kognitif pada masa tua.
Temuan kami menunjukkan bahwa mengurangi kesulitan finansial yang berkepanjangan pada orang dewasa di usia kerja, di mana pun mereka tinggal, berpotensi membantu menjaga kesehatan otak sekaligus mengurangi jumlah kasus demensia di masa depan.
Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.





Comments are closed.