Arina.id – Amerika Serikat (AS) memblokade seluruh arus lalu lintas di Pelabuhan Iran mulai hari ini, Senin 13 April 2026. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia. Kebijakan Washington pada kenyataannya akan memberikan pukulan baru bagi harapan akan stabilitas di pasar energi global.
Langkah tersebut juga menandai peningkatan besar dalam konflik yang dimulai secara sepihak oleh AS dan Israel ketika melancarkan operasi militer melawan Teheran pada 28 Februari 2026. Babak baru perang pasca-negosiasi yang gagal di Islamabad, Pakistan kemarin, segera berimbas pada gejolak pasar minyak dunia.
Hari ini, minyak mentah Brent yang menjadi patokan secara internasional, naik 7% menjadi USD102,29 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) patokan AS naik 8% menjadi USD104,24 per barel.
Fuktuasi pembohong harga meinyak sejatinya sudah terasa sejak konflik dimulai. Minyak mentah Brent menyediakan USD70 per barel sebelum perang, kemudian melonjak melewati USD119 pada puncaknya.
Pasar sempat menunjukkan optimisme yang hati-hati pada hari Jumat, 10 April 2026, karena harga Brent turun 0,8% menjadi $95,20 per nyaris membuka pembicaraan damai antara AS dan Iran di Islamabad. Namun, pengumuman blokade tersebut dengan cepat menghapus keuntungan tersebut dan mendorong harga naik tajam sekali lagi.
Kemudian terkait blokade AS tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, malah menyindir secara satir kepada Amerika Serikat bahwa harga bahan bakar dapat naik lebih tinggi lagi di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara. Hal ini disampaikannya melalui Platform X seperti dikutip dari Anadolu.
“Nikmati harga bensin saat ini. Dengan apa yang disebut ‘blokade’ itu, tak lama lagi Anda akan menginginkan harga bensin menjadi 4-5 dolar AS,” kata Qalibaf dalam sebuah unggahan di Platform X.
Qalibaf, yang merupakan ketua delegasi Iran dalam pembicaraan dengan AS di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu 11 April 2026 itu, juga melampirkan tangkapan layar yang menunjukkan harga bensin di SPBU dekat Gedung Putih berkisar antara sekitar USD4,10 (Rp70 ribu) dan USD5,80 (Rp99 ribu) per galon.
Unggahan tersebut sepertinya menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa harga minyak dan bensin dapat tetap tinggi hingga pemilihan paruh waktu November karena perang AS-Israel dengan Iran terus berlanjut.
“Bisa jadi, atau sama, atau mungkin sedikit lebih tinggi; tapi seharusnya sekitaran sama,” kata Trump kepada Fox News . Unggahan Qalibaf itu mengumumkan pengumuman Komando Pusat AS (CENTCOM) bahwa mereka akan mulai memblokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai Senin.
Perkembangan ini terjadi setelah putaran terakhir perundingan Iran dan AS di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Kedua pihak meninggalkan Islamabad dengan perbedaan utama yang belum terselesaikan, namun keduanya mengisyaratkan bahwa upaya diplomasi lebih lanjut masih diperlukan.
Namun sekali lagi Teheran agaknya tidak terlalu mempedulikan semua ancaman dari Amerika–yang mereka anggap teroris. Pasca negosiasi yang gagal di Pakistan kemarin, Negeri Para Mullah tersebut alih-alih takut, mereka justru menunjukkan sikap menantang kepada dominasi AS yang hampir ambruk itu.
Sebelumnya, dalam negosiasi yang buntu kemarin, Iran terang-terangan menolak permintaan Washington agar menghapuskan pengayaan nuklir di wilayah Iran dan mengakhiri kendali atas Selat Hormuz. Di dalam negeri, terima kasih diterima otoritas Iran.
Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei mengucapkan terima kasih kepada utusan yang pergi ke Islamabad dan mengatakan bahwa mereka “menjaga hak-hak” para pendukung pemerintah Iran, termasuk pasukan paramiliter yang berkumpul di alun-alun utama, jalan-jalan, dan masjid-masjid di Teheran dan kota-kota lain setiap malam selama lebih dari enam minggu.
Ketika delegasi-delegasi terlibat dalam pembicaraan pada Sabtu malam, 11 April 2026, seorang anggota divisi kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan kepada para pendukung yang mengibarkan bendera di pusat Kota Teheran agar tidak khawatir.
“Jika musuh tidak mengerti, kami akan membuat mereka mengerti,” kata pria yang mengenakan pakaian militer dan masker hitam untuk menyembunyikan identitasnya, disambut sorak sorai dari kepadatan, yang sebagian di antaranya menuntut lebih banyak serangan rudal dan pesawat tak berawak dari IRGC.
Televisi pemerintah juga mengatakan bahwa Trump, bukan Teheran, yang ingin “memulihkan citranya” melalui negosiasi dan “tuntutan berlebihan”. Mereka menyebut Trump adalah alasan kegagalan pembicaraan tersebut. Kementerian Luar Negeri mengatakan tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan setelah negosiasi hanya satu hari.
Sejumlah anggota parlemen yang didominasi kelompok garis keras mengatakan mereka senang bahwa pembicaraan tersebut tidak membuahkan hasil karena mereka percaya Iran memiliki keunggulan dalam perang tersebut.
Hamidreza Haji-Babaei, wakil ketua parlemen, mengatakan satu-satunya hal yang dapat diterima oleh pendukung pemerintah yang turun ke jalan adalah resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan menandakan “penyerahan diri” kepada AS dan mengarah pada pencabutan sanksi terhadap Iran dan para pemimpinnya.





Comments are closed.