Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Tentang Alam Semesta, dan Bagaimana Sikap Beragama Kita?

Tentang Alam Semesta, dan Bagaimana Sikap Beragama Kita?

tentang-alam-semesta,-dan-bagaimana-sikap-beragama-kita?
Tentang Alam Semesta, dan Bagaimana Sikap Beragama Kita?
service

Mubadalah.id – Dalam dunia yang sudah berubah di segala bidangnya, persoalan-persoalan agama serasa menempati posisinya yang terpinggirkan. Dalam keadaan ini, keyakinan seseorang yang beriman sering kali teruji dengan penemuan-penemuan baru oleh para saintis.

Teori Big Bang misalnya, merupakan salah satu teori yang banyak digunakan oleh mereka yang meyakini bahwa dunia yang ada pada saat ini adalah dunia yang terbentuk tanpa adanya intervensi kekuasaan Tuhan yang selama ini kita yakini. Hal ini sebagaimana penjelasan Angga Dito Fauzi dalam sebuah pengantar populernya tentang kosmologi modern yang berjudul Teori Big Bang: Memahami Kelahiran Alam Semesta (2020).

Lebih kurangnya dalam pengantar tersebut menyebutkan bahwa: “Teori Big Bang menjelaskan bahwa alam semesta kita berasal dari suatu ledakan besar yang terjadi sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Pada saat itu, alam semesta berada dalam keadaan sangat padat dan panas. Namun, ketika ledakan besar terjadi, alam semesta mulai mengembang dengan cepat. Proses ini dikenal sebagai ekspansi ruang. Seiring dengan ekspansi tersebut, alam semesta juga mendingin dan mengembang lebih lanjut.

Salah satu bukti yang sangat kuat untuk mendukung teori ini adalah adanya radiasi latar belakang mikro, yang Arno Penzias dan Robert Wilson temukan secara tidak sengaja pada tahun 1965. Radiasi ini merupakan sisa panas dari awal alam semesta yang masih tersebar di seluruh ruang kosmik. Selain itu, pengamatan pergeseran merah galaksi dan data dari satelit seperti COBE, WMAP, dan Planck semakin memperkuat validitas teori ini.”

Membaca Ulang Teori Big Bang Melalui Argumentasi Teologi

Tentu saja teori tersebut dengan segala bukti-bukti empiris yang menguatkannya, harus kita sikapi dengan narasi yang memadai. Alih-alih menolaknya secara simplistik-apologetik, terkait keberadaan alam ini dengan argumentasi orang beriman melalui rumpun ilmu teologi.

Sebagaimana yang seseorang yang beriman yakini, alam semesta dengan segala keindahan dan keteraturannya ini, adalah alam yang memiliki pencipta, yaitu Allah.

Dalam perbincangan teologi Islam, Tuhan yang kita percayai adalah Dzat yang memiliki Sifat, di mana secara garis besar terbagi menjadi empat. Antara lain sifat nafsiyyah, salbiyyah, ma’ani, dan ma’nawiyyah. Secara nafsiyyah (eksistensial), Dzat Tuhan hanyalah satu, yaitu Sifat Wujud (ada). Sifat wujud ini adalah sifat yang secara akal tidak mungkin ada atau nyata tanpa adanya Dzat yang Maha Ada.

Kita dapat mengambil contoh lain dengan menyifati suatu benda. Kita dapat menyifati sesuatu, sudah barang tentu karena benda yang tersifati tersebut itu ada. Karena tanpa adanya benda yang kita sifati, tidak mungkin kita dapat menyifatinya.

Dalam pembahasan Ilmu Kalam, substansi benda dalam hal ini, biasa kita kenal dengan (jirm). Sementara sifat yang melekat pada benda tersebut, biasa kita kenal dengan istilah (‘arad) aksiden. Sehingga ketiadaan sifat Wujud (Ada) pada Dzat yang Maha Wujud (Ada), menjadi sesuatu yang secara akal tidak mungkin (mustahil ‘aqli).

Lalu bagaimana kita bisa membuktikan, bahwa Tuhan itu ada?

Dalam kitab Al-Ma’rifah Fi Bayani ‘Aqidatil-Muslim, Syaikh ar-Rifa’i mencoba membuktikannya dengan narasi berikut: “yadulluna ‘ala wujudil-ilahi, wujudu hadzal-‘alam al-musytamili ‘ala hadzihi-shifati al-‘ajibati wal-khashaisi al-ghoribati wan-nidzhami al-badi’i”.

Kalimat tersebut, secara terjemahan bebas kiranya memiliki arti demikian: “Keberadaan alam semesta ini, yang di dalamnya terdapat sifat-sifat yang menakjubkan, karakteristik yang unik, serta keteraturan yang begitu indah, menjadi petunjuk bagi kita akan adanya Tuhan.”

Argumen teologi di atas, seakan mengatakan bahwa keteraturan (an-nidzham) dan keindahan struktur yanng ada pada alam ini tidak mungkin hadir secara kebetulan—seperti lemparan dadu. Justru, alam dengan segala keteraturan dan keindahannya, telah mengisyaratkan adanya Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Mengatur di baliknya.

Dalam kerangka ini, alam semesta juga dapat kita pahami sebagai sesuatu yang tersusun dari substansi (jirm murakkab) dan aksiden (‘araḍh). Seperti gerak, warna, perubahan, dan keadaan-keadaan lain yang terus berlangsung. Sifat-sifat ini, secara empiris, selalu berubah—dan karena perubahan adalah tanda kebaruan, maka aksiden tersebut bersifat ḥadits (baru dan tidak kekal).

Sementara itu, substansi (jirm) tidak mungkin terlepas dari aksiden (‘aradh). Dengan kata lain, setiap benda pasti berada dalam sifat atau keadaan tertentu, mengalami perubahan tertentu. Maka, ketika aksiden bersifat baru, substansi yang tidak terpisahkan darinya pun ikut bersifat baru.

Di titik ini, dalil akal (‘aqli) dapat bekerja lebih jauh. Kita dapat menggambarkannya melalui argumen demikian: “bahwa segala sesuatu yang baru (haadits) tidak mungkin hadir dengan sendirinya tanpa sebab yang mengadakannya (muhdits).”

Sebab, jika keberadaan sesuatu hanya pada batas mungkin (kemungkinan)—antara ada (wujud) dan tiada (‘adam), maka kita memerlukan sesuatu yang bisa mengunggulkan keberadaan itu atas ketiadaannya. Dalam istilah teologi, istilah ini biasa kita sebut murajjiḥ. Nah, tanpa adanya murajjiḥ ini, maka secara akal menjadi tidak mungkin (mustahil) salah satu dari dua kemungkinan yang setara—ada atau tidak ada—menjadi nyata.

Dari sini, kesimpulan teologis menjadi keniscayaan yang tidak bisa terhindari secara akal: bahwa alam semesta, karena bersifat baru, pasti memiliki pencipta. Dan Sang Pencipta, tidaklah mungkin bersifat baru seperti ciptaannya, melainkan harus bersifat qidam, azali, tidak didahului oleh ketiadaan, namun menjadi sumber dari segala yang ada. Dialah yang dalam bahasa iman kita sebut sebagai Allah.

Teori Big Bang Sebagai Afirmasi Kebaruan Alam

Menariknya, jika kita cermati secara lebih jernih, teori Big Bang di atas tidak serta-merta menafikan kerangka berpikir ini. Justru, dengan menyatakan bahwa alam semesta memiliki titik awal, yakni sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Kosmologi modern secara tidak langsung mengafirmasi gagasan bahwa alam ini tidak bersifat dahulu (qidam) dan kekal.

Akan tetapi, ia bermula, berubah, dan berkembang. Dalam perspektif teologi, sesuatu yang memiliki permulaan justru semakin menegaskan statusnya sebagai ḥadits, lawan dari sifat qidam, yang membutuhkan sebab pertama.

Dalam Ilmu Manthiq (logika), terkenal dengan adagium: “kullu ‘alamin, mutaghoyyirun, wa kullu mutaghoyyirin, haaditsun.” Seluruh alam raya adalah hal yang berubah/berkembang. Dan setiap sesuatu yang berubah, adalah sesuatu yang diciptakan/baru (haadits).

Dengan demikian, sikap beragama yang ideal dalam dunia hyper-modern bukanlah sikap defensif yang secara simpistik menolak sains. Akan tetapi sikap reflektif yang mampu membaca temuan-temuan ilmiah sebagai ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda Tuhan di alam semesta.

Sebagaimana penegasan dalam Al-Qur’an, bahwa tanda-tanda itu tidak hanya hadir di cakrawala luar, tetapi juga dalam diri manusia sendiri. Menunggu untuk kita baca, kita renungkan, dan kita pahami sebagai petunjuk menuju kebenaran yang lebih hakiki (Q.S Fushilat ayat 53). []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.