Wed,22 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Terlahir Tanpa Rahim, Bunda Ini Tak Menyerah dan Kini Jalani Program IVF demi Punya Momongan

Terlahir Tanpa Rahim, Bunda Ini Tak Menyerah dan Kini Jalani Program IVF demi Punya Momongan

terlahir-tanpa-rahim,-bunda-ini-tak-menyerah-dan-kini-jalani-program-ivf-demi-punya-momongan
Terlahir Tanpa Rahim, Bunda Ini Tak Menyerah dan Kini Jalani Program IVF demi Punya Momongan
service

Jakarta

Bagi sebagian perempuan, kehamilan mungkin terasa seperti perjalanan yang sudah menjadi bagian alami dari kehidupan. Namun, bagi sebagian lainnya, jalan menuju menjadi seorang ibu bisa penuh tantangan dan membutuhkan bantuan teknologi medis.

Salah satunya dialami oleh seorang perempuan yang terlahir tanpa rahim, Betty Mukherjee. Kondisi langka itu membuatnya tidak bisa hamil secara alami, tetapi ia tetap memiliki harapan untuk menjadi ibu melalui perkembangan dunia medis, termasuk program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). 

Dikutip dari BBC, ketika Betty Mukherjee berusia 16 tahun, dokter mengatakan kepadanya bahwa ia dilahirkan tanpa rahim. Lebih dari 12 tahun kemudian, ia menjalani perawatan IVF untuk mencoba memiliki anak setelah berbicara tentang kondisinya saat menjadi kontestan di acara Race Across the World di BBC.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Itu adalah masa yang sangat sulit, menjadi remaja saja sudah cukup sulit,” kata perempuan berusia 28 tahun itu tentang diagnosisnya.

“Saya tidak mengalami menstruasi, jadi saya mulai mengembangkan monolog batin bahwa ada sesuatu yang tidak beres,” sambungnya.

Setelah pemindaian dan tes, Betty, dari Gargrave di North Yorkshire, dia diagnosis menderita sindrom Mayer Rokitansky Küster Hauser (MRKH), yang memengaruhi satu dari 5.000 perempuan. Hal itu mengakibatkan ia dilahirkan tanpa rahim dan hanya dengan satu ginjal, tetapi ia tetap mengalami pubertas dan perubahan hormonal yang terkait.

“Ketika saya mendapatkan diagnosis itu, ada rasa lega karena akhirnya saya mendapatkan jawaban yang selama ini saya inginkan, tetapi kemudian itu adalah masa yang sangat menakutkan memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan,” jelas Betty.

“Pasti ada narasi tentang gadis-gadis muda yang tumbuh dengan naluri keibuan, memulai sebuah keluarga, dan pada usia 16 tahun saya mempertanyakan semua itu. Saya kira selama 10 tahun berikutnya, saya mengalami masa-masa yang cukup gelap, kemudian merasa baik-baik saja, dan kemudian berfluktuasi di antara keduanya,” tambahnya.

Diagnosis MRKH adalah sesuatu yang disembunyikan Betty tentang dirinya, karena takut dia akan dianggap ‘berbeda’.

Perempuan yang lahir tanpa rahim bisa mengalami kondisi yang disebut Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) syndrome. Kondisi ini terjadi ketika rahim dan bagian tertentu dari saluran reproduksi tidak berkembang sempurna sejak lahir. 

Biasanya, tanda yang membuat seseorang mengetahui kondisi ini adalah ketika tidak mengalami menstruasi saat remaja. Meski begitu, banyak perempuan dengan MRKH tetap memiliki ovarium yang berfungsi normal sehingga masih dapat menghasilkan sel telur. 

Artinya, secara biologis mereka tetap memiliki kemungkinan memiliki anak melalui teknologi reproduksi berbantu, meski membutuhkan bantuan medis karena tidak memiliki tempat untuk tumbuhnya janin. 

Berjuang lewat program IVF

Dalam program IVF, dokter akan membantu mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium hingga terbentuk embrio. Embrio yang berhasil kemudian dapat digunakan sesuai kondisi medis pasien.

Bagi perempuan yang tidak memiliki rahim, IVF sering menjadi bagian dari perjalanan menuju kehamilan dengan bantuan metode lain, seperti penggunaan rahim pengganti (surrogacy) atau dalam beberapa kasus melalui transplantasi rahim. 

Teknologi ini memberi peluang bagi perempuan dengan masalah kesuburan tertentu untuk tetap memiliki hubungan genetik dengan anaknya.

Transplantasi rahim: Harapan baru dunia fertilitas

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia medis mengembangkan transplantasi rahim sebagai pilihan bagi perempuan yang mengalami infertilitas karena tidak memiliki rahim yang berfungsi.

Prosesnya cukup kompleks. Perempuan penerima transplantasi harus menjalani operasi besar, mendapatkan terapi untuk mencegah penolakan organ, lalu menjalani program IVF agar embrio dapat ditanamkan ke rahim hasil transplantasi. 

Penelitian besar pertama yang berhasil menunjukkan bahwa transplantasi rahim dapat menghasilkan kehamilan terjadi di Swedia. Pada tahun 2014, lahir bayi pertama di dunia dari rahim hasil transplantasi, membuka jalan baru bagi perempuan dengan infertilitas akibat tidak memiliki rahim. 

Dalam prosedurnya, perempuan penerima transplantasi menjalani operasi pemasangan rahim donor. Setelah tubuh menerima organ tersebut dan kondisi rahim dinilai siap, embrio hasil IVF dapat ditanamkan.

Salah satu keberhasilan besar terjadi pada perempuan yang memiliki MRKH syndrome. Beberapa bayi telah lahir setelah ibunya menjalani transplantasi rahim dan program IVF. 

Perjuangan medis dan emosional

Bagi banyak perempuan yang menghadapi kondisi seperti ini, perjuangannya bukan hanya soal prosedur medis. Ada perjalanan panjang menghadapi rasa kehilangan, pertanyaan tentang masa depan, hingga harapan untuk merasakan pengalaman menjadi seorang Bunda.

Kisah seperti ini menunjukkan bahwa perjalanan menjadi orang tua tidak selalu memiliki satu jalan yang sama. Kemajuan medis membuka kemungkinan baru bagi mereka yang sebelumnya merasa pintunya tertutup.

Meski begitu, transplantasi rahim dan prosedur terkait masih menjadi bidang yang berkembang dan belum tersedia luas di semua negara. Penelitian terus dilakukan untuk membuat prosedur ini lebih aman dan dapat diakses oleh lebih banyak perempuan. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.