Fri,4 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. TPA Putri Cempo Terbakar Lagi, Warga Jadi Korban Buruknya Tata Kelola Sampah

TPA Putri Cempo Terbakar Lagi, Warga Jadi Korban Buruknya Tata Kelola Sampah

tpa-putri-cempo-terbakar-lagi,-warga-jadi-korban-buruknya-tata-kelola-sampah
TPA Putri Cempo Terbakar Lagi, Warga Jadi Korban Buruknya Tata Kelola Sampah
service

Jakarta, NU Online

Kebakaran kembali melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kota Surakarta, Kamis (3/9/2026) sore. Berulangnya kebakaran justru memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar yaitu pengelolaan sampah yang belum mampu mencegah timbunan sampah menjadi ancaman bagi lingkungan dan warga sekitar.

TPA Putri Cempo sebelumnya juga terbakar pada 2023. Sepanjang 2026, kebakaran dilaporkan terjadi pada 6 Juni dan 10 Juni. Rentetan kejadian tersebut menunjukkan bahwa risiko kebakaran bukan peristiwa insidental, melainkan ancaman yang terus berulang.

Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah Nur Cholis menilai bahwa kebakaran tidak semestinya selalu dikaitkan dengan suhu tinggi dan musim kemarau.

“Alih-alih menempatkan musim kemarau sebagai dugaan dan penjelasan tunggal atas berulangnya kebakaran, kami justru melihat persoalannya jauh lebih mendasar,” katanya dalam keterangan diterima NU Online, Jumat (4/9/2026).

Cholis mengungkapkan bahwa faktor ekologis dan persoalan tata kelola turut membentuk serta meningkatkan risiko kebakaran. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surakarta sebelumnya menyatakan bahwa praktik open dumping di TPA Putri Cempo menghasilkan emisi metana yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pada musim kemarau.

Senada, Pengampanye Urban Berkeadilan Walhi Nasional Wahyu Eka Styawan mengungkapkan, hasil simulasi emisi metana menggunakan metode First Order Decay (FOD) dari IPCC menunjukkan tingkat akurasi sekitar 75 persen dengan tingkat kepercayaan menengah. Hal itu berkaitan dengan keterbatasan data historis timbulan sampah di TPA Putri Cempo.

Berdasarkan simulasi tersebut, pada 2025 timbulan sampah diperkirakan mencapai 153.840,85 ton. Timbulan itu menghasilkan metana kotor sebesar 1.117,07 ton dan metana bersih sebesar 1.005,36 ton.

“Jika dilakukan pengukuran berdasarkan kedalaman timbunan sampah yang ada, sangat mungkin jumlah metana yang dihasilkan jauh lebih besar. Artinya, TPA Putri Cempo adalah bom waktu yang sewaktu-waktu dapat kembali memicu kebakaran. Risiko ini akan terus meningkat apabila upaya pengurangan sampah dari sumbernya tidak dijalankan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,” ucap Wahyu.

Wahyu menegaskan bahwa musim kemarau tidak semestinya dijadikan penyebab tunggal atau kambing hitam.

“Suhu tinggi memang dapat menjadi pemicu, tetapi timbunan sampah dalam jumlah besar, pembusukan yang menghasilkan gas metana, akumulasi panas di dalam timbunan, serta sistem pengelolaan sampah yang masih bermasalah merupakan faktor yang saling berkaitan,” katanya.

Warga terdekat hadapi dampak

Dampak kebakaran tidak berhenti di dalam kawasan TPA. Cholis mengungkapkan bahwa kebakaran terjadi di Blok B dan merembet ke Blok D. Petugas pemadam kebakaran masih melakukan pemadaman. Area terbakar pada titik awal diperkirakan sekitar 100 meter persegi, sedangkan total luas lahan yang terdampak mencapai sekitar enam hektare.

Ia menyampaikan bahwa kepulan asap juga memaksa kelompok rentan, seperti lansia dan balita yang tinggal di RT 03/RW 39 di ujung TPA, tepatnya di seberang Kali Jengglong, untuk diungsikan ke Puskesmas Sibela karena berisiko mengalami gangguan pernapasan.

Cholis mengatakan warga sekitar harus berhadapan dengan debu, asap, dan polusi udara yang semakin memburuk ketika kebakaran terjadi. Jika tidak segera diatasi, dampaknya dapat mengancam kawasan permukiman serta fasilitas publik seperti sekolah, kampus, dan rumah sakit yang berada tidak jauh dari lokasi TPA.

“Pengelolaan sampah yang buruk bukan hanya persoalan teknis di dalam TPA, melainkan juga persoalan keadilan lingkungan. Sayangnya, risiko dan dampak dari buruknya pengelolaan sampah justru lebih besar dirasakan oleh warga yang hidup paling dekat dengan kawasan pengelolaan sampah,” tegasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.