Menonton Final Liga Champions semalam (30 Mei 2026) seperti dipaksa melihat masa depan. Di atas kertas, kita cuma menonton laga Paris Saint-Germain melawan Arsenal. Tapi kalau matanya agak jeli, malam tadi itu sebenarnya adalah etalase berjalan dari empat negara yang paling berisik diomongin bakal masuk final Piala Dunia 2026: Prancis, Portugal, Inggris, dan Spanyol.
Kalau melihat apa yang tersaji di lapangan dari jam 23.00 WIB lewat tadi, agak susah buat membantah prediksi orang-orang. Minimal banget, empat negara ini sudah memesan tempat di semifinal Piala Dunia nanti.
Lah, bagaimana tidak? Bahan bakunya saja semewah itu.
Mari kita obrolin PSG dulu. Klub Paris ini isinya kalau bukan cetakan lokal Prancis, ya “imporan” premium dari Portugal. Di kubu Prancis, mereka punya nama-nama seperti Ousmane Dembélé yang amat lincah itu, Bradley Barcola, sampai si muda berbakat Warren Zaïre-Emery.
Lini tengah PSG itu dikendalikan orang Portugal. Ada Vitinha dan João Neves yang jadi dirigen, ditambah Nuno Mendes. Belum lagi yang duduk di bangku cadangan. Yang pasti skuad Portugal di Piala Dunia nanti tinggal comot chemistry yang sudah jadi di Paris ini.
Lalu di seberangnya ada Arsenal. Skuad asal London ini sekarang menjelma jadi tulang punggung Timnas Inggris. Mau cari gelandang angkut air? Ada Declan Rice. Mau nyari winger yang bisa bikin bek lawan kewalahan? Ada Bukayo Saka. Belum lagi ketangguhan Ben White di belakang.
Nah, yang menarik itu Spanyol. Orang-orang mungkin sepakat kalau fondasi utama La Roja itu ada di Barcelona yang kemarin baru juara La Liga. Tapi Final UCL semalam membuktikan kalau stok pemain Spanyol itu menyebar dan ngeri semua. Di bawah mistar Arsenal ada David Raya. Di PSG, ada Fabian Ruiz yang mainnya rapi banget, plus Martin Zubimendi yang taktis.
Lantas, pertanyaannya, dari sekian banyak negara tangguh ini, siapa yang bakal angkat trofi Piala Dunia 2026?
Huft… jujur saja, saya tidak tahu dan agak malas ikut-ikutan memprediksi siapa juaranya.
Tapi, kalau boleh memelihara satu harapan, saya mendadak ingat judul buku antologi esai penulis asal Lamongan, Mahfud Ikhwan, yang terbit persis setelah romansa Piala Dunia Qatar (2022) kemarin. Judul bukunya: Setelah Argentina Juara.
Saya selaku anak pesantren yang pernah belajar ilmu manthiq (logika), menyebut judul bukunya Cak Mahfud itu mirip mukadimah sughro alias premis minor. Dia menggantung dan butuh pasangan. Biar logikanya klop, kita butuh mukadimah kubro atau premis mayor. Dan menurut saya, premis mayor yang paling pas adalah: Argentina Juara Lagi.
Jadi, lewat rumus silogisme yang agak maksa tapi sangat saya harapkan ini, kesimpulannya adalah: Setelah Argentina Juara (2022), Argentina Juara Lagi (2026).
Biar saja malam tadi Eropa pamer kemewahan pemain di Final Liga Champions. Tapi urusan Piala Dunia? Logika manthiq saya masih tertinggal di Buenos Aires. Semoga saja.




Comments are closed.