Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Visi Ekosentrisme Al-Qur’an

Visi Ekosentrisme Al-Qur’an

visi-ekosentrisme-al-qur’an
Visi Ekosentrisme Al-Qur’an
service

Judul: Al-Qur’an Bilang, Kepentingan Bumi Harus Didahulukan

Penulis: AS Rosyid

Ukuran: 14 x 21 cm

Halaman: 162 Halaman

ISBN: 978-623-6529-25-6

 Mubadalah.id – Bencana ekologis yang menimpa Indonesia beberapa waktu belakangan menuntut evaluasi dan perenungan terhadap pemahaman relasi manusia dengan alam. Agama – dalam hal ini  Al-Qur’an – menempati posisi krusial untuk berbicara mengenai ekologi.

Dalam konteks keislaman, Al-Qur’an sebagai sumber ajaran utama umat Islam juga menggambarkan relasi Tuhan, manusia, dan alam. AS Rosyid dalam buku terbarunya, Al-Qur’an Bilang Alam Harus Didahulukan, menggali kembali ayat-ayat Al-Qur’an untuk melihat bagaimana pola relasi antara manusia dan alam diwahyukan.

Ekosentrisme

AS Rosyid mengemukakan argumen  bahwasanya Al-Qur’an memiliki etika lingkungan hidup yang sesuai dengan ekosentrisme. Al-Qur’an, menurutnya, lebih banyak membicarakan kepentingan alam daripada kepentingan manusia. Ia menyatakan bahwa sebetulnya Al-Qur’an lebih ekosentris daripada antroposentris.

Hal ini mengubah paradigma awal yang selama ini kita yakini mengenai kekhalifahan manusia. Dalam banyak kesempatan, “manusia sebagai khalifah di muka bumi” kita manfaatkan sebagai privilese yang menempatkan manusia dalam puncak hierarki ekosistem alam.

Penafsiran AS Rosyid tersebut membongkar keyakinan lama di atas dan menempatkan manusia sebagai bagian dari  alam – atau anggota komunitas dalam istilah AS Rosyid.Sebagai anggota  komunitas, manusia perlu mematuhi dan menjalankan etika lingkungan hidup.

Dengan menggunakan dharuriyat al-Khamsah dalam Maqashid al-Syari’ah, AS Rosyid menawarkan konsep hifdz al-bi’ah-ekosentris sebagai konteks utama untuk mempertimbangkan nilai-nilai lima daruriyat yang lain.

Abdul Mustaqim, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, menulis kajian serupa. Ia menggunakan tafsir maqashidi metode tematik-kontekstual dan mengedepankan etis-teologis dalam paradigma tafsir ekologi.  Mustaqim menyebut relasi antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai relasi triadik yang setara.

Sementara itu, Rosyid mengelaborasi berbagai faktor kerusakan lebih luas akibat ulah manusia seperti halnya masifnya konsumsi dan kapitalisme modern yang berujung pada satu akar: logika antroposentrisme.

Berangkat dari latar belakang ini pula, ia mengajukan beberapa poin kewajiban moral manusia terhadap alam, di antaranya, deligitimasi antroposentrisme, penyederhanaan konsumsi dan produksi, kritik terhadap ideologi Pembangunan dan pertumbuhan ala kapitalisme, dan lain-lain.

Ke-khalifah-an Manusia sebagai Penyeimbang

Penafsiran Rosyid atas ke-khalifah-an manusia menuntut tugas lebih untuk menjaga alam di tengah krisis iklim yang kita hadapi sekarang. Bencana ekologis yang terjadi menunjukkan bahwa manusia masih belum cukup baik menjalankan tugas khalifah sebagai mitra alam. Ke- khalifah-an masih bersifat eksploitatif, terutama oleh manusia yang mengeruk alam tanpa batas untuk kepentingan dirinya sendiri.

Quraish Shihab dalam “Ngaji Bareng Prof. Quraish Shihab dan Gus Baha’” di UII Yogyakarta (08/12/2025) memberikan penafsiran mengenai ke-khalifah-an manusia. Beliau menyebutkan, “Khalifah itu adalah petugas, mandataris Tuhan. Petugas yang ditugaskan Allah untuk mengelola bumi ini sesuai dengan nilai-nilai yang dikehendakinya.”

Lebih jauh ia juga menafsirkan “Wa ‘allama ādamal-asmā`a kullahā” sebagai apa yang Allah ajarkan kepada Adam adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kesejahteraan manusia di muka bumi dan berkaitan dengan pemeliharaan alam raya. Pengajaran dalam konteks ini adalah potensi yang Allah beri yang berkaitan dengan manusia dan alam raya serta potensi untuk mengembangkannya.

Quraish Shihab juga menyebut bencana di Aceh di Sumatra terjadi karena ulah manusia. Ia merujuk pada ayat QS. Ar-Rahman (55), ayat 7-8 untuk menjelaskan bahwa manusia dan alam semesta selaras. Bencana terjadi karena tidak ada keseimbangan.

Dari buku AS  Rosyid dan tafsir-tafsir tokoh Indonesia lain, kita dapat belajar bahwa tugas utama ke-khalifah-an manusia adalah menjaga dan mengelola alam agar tetap seimbang. Dengan demikian, khalifah bukan saja untuk kepentingan manusia. Melebihi itu, Al-Qur’an mengutamakan alam sebagai amanah yang perlu kita jaga (ekosentrisme). []

.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.