Tue,11 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Waktu: Zaman, Dahr, dan Waqt dalam Tradisi Sufi

Waktu: Zaman, Dahr, dan Waqt dalam Tradisi Sufi

waktu:-zaman,-dahr,-dan-waqt-dalam-tradisi-sufi
Waktu: Zaman, Dahr, dan Waqt dalam Tradisi Sufi
service

Ada satu premis yang begitu telanjang sehingga jarang kita perdebatkan: waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Ini adalah dalil eksistensial paling purbani—hadir dalam nasihat para bijak bestari, dalam ratapan penyair, dan dalam ayat yang bersumpah demi masa (wal-‘Aṣr).

Time waits for no one,” meminjam judul lagu Freddie Mercury yang direkam pada 1986, bukan sekadar ungkapan tentang jam yang terus berdetak. Ia merupakan pengakuan bahwa manusia hidup di dalam arus yang searah, tak dapat diulang, dan tak dapat dinegosiasikan. Ia adalah waktu sebagai dahr—waktu yang menggilas. Oleh sebagian ahli tafsir, konsep ini dikaitkan dengan hadis qudsi bahwa Allah berfirman, “Jangan mencela dahr, karena Akulah dahr.” Semacam waktu yang begitu absolut sehingga mencelanya sama dengan mencela Hyang Mahakuasa itu sendiri.

Namun, di ruang lain, jauh dari mimbar dan majelis zikir, seorang fisikawan bernama Edward Witten pada 1995 mengumumkan sesuatu yang secara diam-diam mengguncang fondasi paling mendasar dari pengalaman kita tentang waktu.

Realitas mungkin memiliki sebelas dimensi. Lima teori dawai (string theory) yang tampak berbeda-beda sesungguhnya merupakan wajah-wajah dari satu struktur tunggal yang lebih dalam—yang kemudian disebut M-Theory. Dalam kerangka ini, ruang-waktu bukan lagi panggung tetap tempat berbagai peristiwa berlangsung, melainkan sesuatu yang bisa jadi emergent—muncul dari struktur yang lebih fundamental, dari getaran brane dan dawai di dalam ruang moduli yang jauh melampaui empat dimensi yang kita huni.

Risalah ini adalah upaya membaca dua bahasa tersebut secara berdampingan: bahasa eksistensial-spiritual tentang waktu yang tak menunggu, dan bahasa matematis-fisis tentang waktu yang mungkin bukan fondasi realitas, melainkan hasil dari sesuatu yang lebih dalam.

Perlu ditegaskan sejak awal: ini bukan pendakuan bahwa fisika teoretis “membuktikan” metafisika Sufistik, atau sebaliknya. Ini adalah pembacaan analogis, sebagaimana para perenialis seperti Syeikh Isa Nuruddin (Frithjof Schuon) memandang sains modern—bukan sebagai otoritas yang menggantikan metafisika tradisional, melainkan sebagai salah satu bahasa manusia yang, jika direnungkan dengan jujur, kadang menggemakan intuisi yang telah lama disimpan oleh tradisi-tradisi kebijaksanaan.

Tiga Wajah Waktu dalam Tradisi Sufi

Tradisi Islam, khususnya dalam elaborasi para metafisikawan Sufi, tidak mengenal satu kata untuk “waktu”. Setidaknya ada tiga istilah yang tidak bisa saling dipertukarkan begitu saja: zaman, dahr, dan waqt.

Zaman adalah waktu yang terukur—waktu kalender, waktu jam, waktu yang dapat dibagi menjadi masa lalu, kini, dan nanti. Inilah waktu fisik dalam pengertian yang paling awam.

Dahr adalah waktu sebagai durasi kosmis yang menyeluruh, waktu yang menjadi wadah bagi seluruh sejarah alam semesta. Ia oleh sebagian ahli metafisika dipahami mendekati keabadian itu sendiri, bukan sekadar rentetan momen.

Sementara waqt, istilah yang paling sentral dalam kosakata Sufi, adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia bukan waktu yang mengalir, melainkan momen kini yang dialami seorang salik (penempuh jalan spiritual) dalam keadaan sarat kehadiran.

Ibn ‘Arabi dan para pewarisnya menyebut sang sufi sebagai ibn al-waqt—anak dari saat ini—karena kehidupan spiritualnya tidak digantungkan pada masa lalu yang telah pergi atau masa depan yang belum tiba, melainkan sepenuhnya hadir dalam titik tunggal keberadaan yang disebut al-waqt al-ḥāḍir, saat yang hadir.

Menariknya, Ibn ‘Arabi juga mengajukan sebuah doktrin yang disebut tajaddud al-amthāl—pembaruan yang terus-menerus atas keserupaan.

Menurut doktrin ini, alam semesta tidak “berlanjut” dalam pengertian sederhana. Ia justru dimusnahkan dan diciptakan kembali pada setiap saat (ān), sedemikian rupa sehingga apa yang kita alami sebagai “kesinambungan” sesungguhnya adalah rangkaian penciptaan baru yang begitu mirip satu sama lain sehingga tampak sebagai satu aliran yang utuh.

Waktu, dalam pandangan ini, bukanlah sungai yang mengalir dengan sendirinya. Ia adalah serangkaian kilatan eksistensi yang terus diperbarui oleh Hyang Maha Ada pada setiap “sekarang” yang tak terbagi.

Waktu yang Melingkar

Namun, ada satu lapisan lagi dalam kosmologi waktu Ibn ‘Arabi yang perlu disisipkan di sini karena ia justru melengkapi—bukan bertentangan dengan—doktrin tajaddud al-amthāl di atas.

Dalam al-Futūḥāt al-Makkiyyah, Ibn ‘Arabi membedakan dua jenis waktu yang lahir dari dua daya jiwa yang berbeda: waktu alami-inderawi (zaman ṭabī’ī), yang lahir dari daya aktif jiwa, dan waktu supra-alami atau spiritual (zaman warā’ at-ṭabī’ah), yang lahir dari daya intelektif.

Menariknya, waktu alami-imajinal—waktu yang kita alami sehari-hari—ia gambarkan memiliki sifat yang melingkar (dawrī), sirkular, relatif, terputus-putus (discrete), dan tidak homogen. Ia bukan garis lurus yang mengalir searah sebagaimana lazim diasumsikan.

Kesimpulan ini bertumpu pada kosmologi klasik yang diwarisi Ibn ‘Arabi dari tradisi filsafat Peripatetik: waktu dipahami sebagai “ukuran gerak” (miqdār al-ḥarakah), dan gerak yang paling asali dalam kosmos—gerak falak (al-falak al-aṭlas atau falak al-aflāk), lingkaran langit terluar yang menaungi seluruh alam—adalah gerak rotasional, melingkar, bukan gerak linear.

Karena waktu diukur dari perputaran falak inilah, waktu itu sendiri mewarisi karakter melingkar sang penggeraknya. Siang dan malam yang berulang, musim yang berdaur, hingga siklus-siklus kosmis yang lebih besar, semuanya menjadi tanda bahwa “aliran” waktu yang kita rasakan linear sesungguhnya adalah busur-busur dari satu lingkaran yang terus berputar kembali ke titik asalnya.

Di sinilah dua ajaran Ibn ‘Arabi tentang waktu—tajaddud al-amthāl (pembaruan penciptaan pada setiap saat) dan sifat dawrī atau melingkar dari waktu alami—saling melengkapi alih-alih berdiri sendiri.

Yang pertama adalah dimensi vertikal. Setiap “sekarang” (ān) adalah penciptaan baru yang seketika, terputus dari yang sebelumnya kecuali oleh keserupaan.

Yang kedua adalah dimensi horizontal. Rangkaian “sekarang-sekarang” yang terputus itu, ketika dirangkai, tidak membentuk garis lurus tak berujung menuju masa depan, melainkan busur yang melengkung kembali. Sebagaimana falak yang berputar tidak pernah benar-benar “maju” ke arah baru, ia hanya kembali menempuh lingkarannya sendiri.

Sebagian pengkaji modern atas pemikiran Ibn ‘Arabi, seperti Mohamed Haj Yousef dalam studinya mengenai konsep waktu dalam Futūḥāt, bahkan mengajukan bahwa kerangka waktu yang diskret, relatif, dan melingkar ini memiliki resonansi tersendiri dengan problem-problem waktu dalam fisika modern.

Meski demikian, sekali lagi, ini adalah pembacaan interpretatif, bukan kesetaraan metodologis antara kedua disiplin. Di titik inilah, tanpa bermaksud memaksakan kesejajaran, kita menemukan gaung yang aneh dari bahasa fisika modern.

Ketika Waktu Tak Lagi Menjadi Panggung

Sebelum Witten mengajukan M-Theory pada 1995 dalam sebuah konferensi di University of Southern California, fisika teori dawai terpecah menjadi lima formulasi berbeda—Tipe I, Tipe IIA, Tipe IIB, dan dua varian Heterotik—yang masing-masing tampak sebagai teori yang berdiri sendiri, meski sama-sama mengasumsikan sepuluh dimensi ruang-waktu.

Witten menunjukkan bahwa kelima teori ini, bersama dengan supergravitasi sebelas dimensi, sesungguhnya terhubung melalui jaringan dualitas matematis. Mereka adalah limit-limit berbeda dari satu struktur yang lebih dalam dan belum sepenuhnya dipahami, yang kemudian disebutnya M-Theory.

Dampak paling menggetarkan dari kerangka ini bukan sekadar penambahan satu dimensi ruang. Implikasinya jauh lebih radikal.

Dalam banyak pendekatan pada gravitasi kuantum yang lahir dari tradisi ini—termasuk gagasan prinsip holografik yang berkembang darinya—ruang-waktu yang kita alami sebagai fondasi realitas justru dicurigai sebagai sesuatu yang muncul dari struktur informasi yang lebih mendasar, alih-alih menjadi panggung tetap tempat segala sesuatu terjadi.

Realitas empat-dimensi kita bisa jadi adalah semacam brane—sebuah permukaan atau lembaran—yang mengambang di dalam ruang berdimensi lebih tinggi yang disebut bulk. Apa yang kita sebut sebagai “aliran waktu” pun dapat dipahami sebagai proyeksi dari geometri yang jauh lebih kaya di ruang moduli tersebut.

Dengan kata lain, fisika teoretis akhir abad ke-20, melalui jalur matematis yang sama sekali berbeda dari metafisika Sufi, sampai pada satu kecurigaan yang serupa: bahwa waktu yang kita alami sebagai sesuatu yang absolut dan linear mungkin bukan hakikat realitas yang paling dalam, melainkan penampakan (maẓhar) dari sesuatu yang lebih fundamental.

Di sinilah kedua bahasa itu bisa dipertemukan—bukan sebagai identitas, melainkan sebagai analogi yang saling menerangi.

Antara Time Waits for No One dan Ibn al-Waqt

Tesis time waits for no one sepenuhnya benar pada level fenomenal. Dalam zaman, dalam pengalaman keseharian manusia yang fana, waktu memang berjalan searah dan tak menunggu.

Inilah dasar dari seluruh etika Islam tentang kefanaan (fanā’) dan kesadaran akan kematian (żikr al-mawt). Karena waktu manusia terbatas dan tak bisa diulang, setiap saat menjadi berharga secara mutlak—persis seperti sumpah dalam Surah al-‘Aṣr yang menyatakan manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Namun, M-Theory mengajukan kemungkinan bahwa di balik pengalaman fenomenal tersebut terdapat struktur yang lebih dalam, di mana waktu bukan lagi kategori fundamental. Di sinilah ia, secara analogis, mengingatkan kita pada waqt dalam tradisi Sufi: bukan waktu yang mengalir, melainkan titik kehadiran yang senantiasa diperbarui.

Doktrin tajaddud al-amthāl Ibn ‘Arabi, yang menyatakan bahwa alam semesta dimusnahkan dan diciptakan kembali pada setiap “sekarang”, menemukan gaung yang jauh dan tidak langsung dalam gagasan bahwa realitas berdimensi empat kita mungkin merupakan proyeksi berkelanjutan dari geometri yang lebih dalam.

Ia dapat dianalogikan dengan sebuah brane yang eksistensinya, pada setiap titik, bergantung pada struktur yang melampauinya. Sebagaimana mumkin al-wujūd (yang mungkin ada) senantiasa bergantung pada wājib al-wujūd (yang wajib ada) dalam metafisika Ibn Sina dan para penerusnya.

Dalam kerangka pendekatan Syeikh Isa dan pemikiran perenial, ini bukanlah kebetulan yang mengejutkan. Baginya, sains modern—ketika menyentuh batas-batas paling ekstremnya, seperti relativitas, mekanika kuantum, atau teori dawai—sering kali secara tidak sadar meraba kembali intuisi-intuisi metafisis yang telah lama dirumuskan oleh tradisi-tradisi kebijaksanaan.
Meski menggunakan kosakata dan metode yang sepenuhnya berbeda, struktur pertanyaannya kadang beririsan.

Bukan berarti fisika “menemukan” Tuhan atau “membuktikan” tasawuf. Melainkan, struktur akal manusia, ketika ia jujur mengikuti logikanya sendiri sampai batas paling jauh, cenderung menabrak pertanyaan-pertanyaan yang sama yang telah lama direnungkan secara lebih langsung oleh metafisika tradisional: apakah yang kita alami sebagai fondasi realitas benar-benar fondasi, ataukah ia sendiri bersandar pada sesuatu yang lebih dalam?

Dua Bahasa, Satu Pertanyaan

Kejujuran ilmiah maupun kejujuran spiritual menuntut satu catatan penting: M-Theory, hingga hari ini, tetap merupakan kerangka matematis yang belum memiliki verifikasi eksperimental langsung. Ia merupakan salah satu kandidat teoretis untuk memahami persoalan gravitasi kuantum, bukan fakta yang telah dikonfirmasi di laboratorium.

Menjadikannya sebagai “bukti ilmiah” bagi metafisika Sufi akan menjadi kekeliruan kategoris—mencampuradukkan bahasa simbolik-spiritual dengan bahasa matematis-empiris, seolah keduanya beroperasi pada bidang yang sama.

Justru yang lebih tepat dikatakan adalah bahwa keduanya, dari jalur yang sama sekali berbeda, mengajukan kecurigaan yang sama terhadap kenaifan intuisi kita tentang waktu sebagai sesuatu yang mutlak dan berdiri sendiri.

Fisika mengajukannya melalui persamaan dan dualitas. Tasawuf mengajukannya melalui pengalaman kontemplatif dan pembacaan atas wahyu.

Keduanya bertemu bukan sebagai satu disiplin, melainkan sebagai dua jendela yang menghadap ke arah yang serupa: kesadaran bahwa yang tampak sebagai fondasi—dahr yang menggilas dan tak menunggu itu—sesungguhnya adalah tirai (ḥijāb) di hadapan sesuatu yang lebih dalam; sesuatu yang tidak terikat waktu, yang justru menjadi sumber dari setiap “sekarang” yang terus-menerus diperbarui.

Barangkali di sinilah letak pelajaran spiritual yang paling praktis dari pertemuan kedua bahasa ini.

Manusia tetap harus hidup di dalam zaman—waktu yang tak menunggu, yang membuat setiap kelalaian menjadi kerugian yang tak terganti. Namun, kesadaran bahwa waktu fenomenal ini mungkin bukan lantai paling dasar dari realitas—baik dalam bahasa Ibn ‘Arabi tentang pembaruan penciptaan di setiap saat, maupun dalam bahasa fisika tentang dimensi-dimensi tersembunyi yang melampaui pengalaman inderawi kita—membuka ruang bagi apa yang oleh para sufi disebut ibn al-waqt.

Hidup sepenuhnya di dalam momen kini bukan berarti mengabaikan keniscayaan waktu yang berjalan. Sebaliknya, ia berarti menyadari bahwa di balik setiap saat yang berlalu, ada sesuatu yang tetap tidak berlalu.

Pengetahuan tentang itulah yang membuat waktu yang tak menunggu ini, pada akhirnya, bisa ditempuh tanpa kecemasan.

Pandhita Wiku Magelung pernah berujar kepada kami: “Ke mana juntrungannya usia yang telah kita tempuh sebelum sampai pada detik ini? Umurmu yang sekarang mungkin belum berjalan setahun penuh. Jika dikalkulasi, masih lebih banyak usia yang sudah kita lalui. Dengan lain kata, jauh lebih banyak pengalaman yang sudah kita jalani pada masa terdahulu daripada saat ini.

Lalu, jika kita mati pada usia sekarang ini, yang berhenti adalah usia tubuh. Sementara jiwa kita akan terus mengembara dalam waktu yang bukan lagi meruang—melainkan pindah ke dimensi lain yang kian sukar dimengerti.

Entah mengabadi atau tidak. Namun yang niscaya, membayangkan selama-lamanya itu jelas mengerikan—bagi kita yang diciptakan dari ketiadaan.”

Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan tentang waktu bukanlah semata-mata tentang berapa lama kita hidup, melainkan tentang di mana kita hadir ketika hidup itu sedang berlangsung.
 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.