Warga Kalurahan Balong, Kapanewon Girisobo, Yogyakarta, mulai memanfaatkan air hujan yang turun di ujung musim penghujan awal April. Dengan begitu, mereka tak perlu khawatir memenuhi kebutuhan minum tahun ini. Jadi, desa yang langganan krisis saat kemarau itu bisa menyaring lebih dari 5.000 meter kubik air hujan dan menyimpannya di balai desa. Mereka sudah mengantisipasi kemarau panjang yang BRIN umumkan akhir Maret lalu. Lembaga ini memperkirakan El Nino berlangsung April hingga Oktober nanti dengan suhu yang lebih panas dari kemarau biasanya. Warga lalu mengantisipasi dengan memanen air hujan sejak Januari lalu. Instalasi penampungan hujan menggunakan sistem penyaringan ini higienis karena menggunakan teknologi yang telah teruji oleh Sekolah Air Hujan (SAH) yang sudah ada di banyak wilayah. “Kami memprediksi berdasarkan penanggalan tradisional titimangsa kalau kemarau tahun ini jadi lebih panjang waktunya. Makanya membangun instalasi dengan air yang siap konsumsi karena ini yang paling penting” kata Purwanta, Carik Kalurahan Balong. Wilayah di ujung selatan Gunungkidul ini membangun instalasi pemanen air hujan pada Desember 2025. Tujuannya, meminimalisasi krisis air yang berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Hampir tidak ada sumur di wilayah itu karena kontur yang seluruhnya kawasan karst. “Pernah dua kali membangun sumur bor bantuan dari pemerintah, sudah mengebor sampai 100 meter tetap tidak ada air,” kata Purwanta, Sekretaris Kalurahan Balong. Dulu, telaga jadi salah satu sumber air warga. Sekarang, sudah jadi lapangan bola karena tak ada lagi air yang keluar. “Sumber air lainnya dari air hujan, tapi hanya dengan bak penampungan terbuka tidak dengan teknologi penyaringan,” kata pria 45 tahun itu. Kebiasaan…This article was originally published on Mongabay
Warga Kalurahan Balong Panen Hujan untuk Hadapi Kemarau
Warga Kalurahan Balong Panen Hujan untuk Hadapi Kemarau





Comments are closed.