Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. 252 Juta Tahun Lalu, Gunung Berapi ini Hampir Menghapus Seluruh Kehidupan di Bumi

252 Juta Tahun Lalu, Gunung Berapi ini Hampir Menghapus Seluruh Kehidupan di Bumi

252-juta-tahun-lalu,-gunung-berapi-ini-hampir-menghapus-seluruh-kehidupan-di-bumi
252 Juta Tahun Lalu, Gunung Berapi ini Hampir Menghapus Seluruh Kehidupan di Bumi
service

252 juta tahun lalu, Bumi hampir kehilangan segalanya. Bukan karena asteroid, bukan karena perubahan iklim bertahap. Melainkan karena serangkaian letusan gunung berapi kolosal di Siberia yang berlangsung hampir satu juta tahun, memuntahkan lava, abu, dan gas beracun dalam jumlah yang hampir tidak bisa dibayangkan. Ketika semuanya selesai, 96 persen spesies laut telah musnah dan 70 persen vertebrata darat lenyap dari muka Bumi. Para ilmuwan menyebutnya The Great Dying, kepunahan massal terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah planet ini. Letusan itu meninggalkan jejak berupa hamparan batuan vulkanik raksasa yang kini dikenal sebagai Perangkap Siberia atau Siberian Trap, terbentuk dari sekitar 1,5 juta kilometer kubik lava yang dimuntahkan dari retakan di kerak Bumi. Skalanya begitu masif sehingga para ilmuwan selama bertahun-tahun bertanya-tanya: mengapa letusan ini jauh lebih mematikan dibanding letusan besar lainnya dalam sejarah Bumi? Jawaban itu kini mulai terkuak. Ahli geologi Michael Broadley dari Pusat Penelitian Petrografi dan Geokimia di Prancis dan timnya menganalisis sampel mantel xenolith, yaitu batuan dari lapisan litosfer yang tertangkap oleh magma dan dimuntahkan bersama lava saat erupsi. Dari sampel itu, mereka bisa mengidentifikasi komposisi kimia litosfer Siberia sebelum dan sesudah letusan. Hasilnya mengejutkan. Litosfer di Siberia sebelum erupsi dipenuhi unsur halogen, termasuk klorin, bromin, dan yodium. Setelah letusan besar, unsur-unsur itu tidak ditemukan lagi dalam sampel, artinya semuanya telah termuntahkan ke atmosfer selama erupsi. Halogen adalah elemen gas yang sangat beracun, dan dampaknya menjadi jauh lebih berbahaya ketika bergabung dengan molekul lain di atmosfer. Dalam jumlah masif seperti yang dilepaskan oleh Perangkap Siberia, gas-gas ini naik…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.