Air Sungai Hubay tampak keruh, berwarna kecoklatan mengalir dan bermuara ke Danau Sentani, Papua. Hulu berada di kaki pegunungan Cycloops, perbatasan kabupaten dan Kota Jayapura, yang menjadi cagar alam dan menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Kini, danau ini terancam lumpur penambangan emas ilegal di hulu. Sepanjang sungai dari hulu ke hilir muara penuh material pasir, batu kerikil, lumpur, yang menyebabkan pendangkalan sungai hingga beberapa titik, muara, hingga melebar ke tengah danau. Salah satunya di jembatan II (hilir Sungai Hubay) kian menyempit. Anggi Rivaldo Ohee, warga Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur, mengatakan, kerusakan sungai itu sudah terjadi kurang lebih 10 tahun terakhir. “Tiap hari sungai mengalir keruh, kadang membawa material masuk ke danau,” katanya kepada Mongabay, (25/7/26). Dia bilang, lumpur mencemarkan Danau Sentani, mulai dari jembatan II sampai Kampung Telaga Maya, Telaga Ria, dan Yoka. Kondisi ini menyebabkan warga kesulitan mendapatkan ikan danau. Meski sudah molo (menyelam), menyaring hingga memancing sudah sulit untuk saat ini. “Sebelum ada tambang, mudah cari ikan. Sejak ada tambang di atas, kita yang tinggal di danau ini setengah mati terutama mencari ikan. Danau makin hari makin dangkal akibat lumpur tambang yang turun,” ujar Anggi. Aktivitas tambang emas sudah ada sejak 1999 hingga kini. Tepatnya, di kawasan Bumi Perkemahan (Buper) Waena. Tambang itu dikelola mandiri pemilik ulayat, meski yang merasakan dampak masyarakat adat di Sentani yang ada di hilir. Danau Sentani menjadi danau terbesar kedua Papua, luas mencapai 9.360 hektar. Danau ini membentang di kaki Pegunungan Cycloops, kabupaten dan Kota Jayapura. Setidaknya, ada 24 kampung di sekitarnya…This article was originally published on Mongabay
Ancaman Tambang Emas Ilegal di Hulu Danau Sentani
Ancaman Tambang Emas Ilegal di Hulu Danau Sentani





Comments are closed.