Di bawah terik matahari Desa Tanoyan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut), Hardi Mamonto berdiri dengan tubuh sedikit ke depan. Mata terpaku pada mesin tromol, terbuat dari drum besi, yang terus berputar selama tiga jam terakhir. Suara gemuruh dari tromol memecah sunyi. Denting logam bercampur desis air dan gesekan batu membentuk irama kasar tak beraturan. Sesekali, Hardi melangkah mendekat sembari menunduk, mengamati putaran tromol dengan cermat, memastikan kecepatannya tetap stabil. Bagi Hardi, keseimbangan putaran adalah segalanya. Terlalu lambat, emas tak akan terpisah. Terlalu cepat, hasilnya bisa terbuang percuma. Di tangan kanan, dia menggenggam sebotol kecil berisi cairan berwarna keperakan. Botol itu tampak biasa saja, tanpa label, tanpa peringatan. Isinya, merkuri, inti dari seluruh proses yang dia jalankan hari itu. Hardi melepaskan pengait antara tromol dan mesin untuk menghentikan putaran sejenak. Perlahan, dia membuka tutup botol lalu menuangkan sedikit isi ke tromol sembari menambahkan air ke dalamnya. Langkah serupa dia lakukan pada beberapa tromol lain yang juga terhubung dengan mesin pemutar. Setelah itu, pengait dia pasang kembali agar drum besi berputar lagi untuk 30 menit ke depan. Para pekerja tengah berusaha mengangkut material mengandung emas di Sulawesi Utara. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia. Di kalangan para penambang emas tradisional, apa yang Hardi lakukan merupakan bagian dari proses yang mereka sebut sebagai “pancingan air perak.” Merkuri yang dia masukkan ke dalam tromol akan mengikat butiran-butiran emas yang tidak terlihat oleh mata, membentuk amalgam atau campuran emas dan perak yang menjadi harapan bagi para penambang seperti Hardi. Proses ini umum di…This article was originally published on Mongabay
Jalur Gelap Merkuri di Tambang Emas Ilegal Sulawesi
Jalur Gelap Merkuri di Tambang Emas Ilegal Sulawesi





Comments are closed.