Arina.id – Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa agung di malam hari, ketika Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan sebuah perjalanan luar biasa. Pada malam itu, Rasulullah diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina (Isra’), kemudian diangkat naik menembus lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha (Mi’raj) untuk bermunajat di hadapan Allah SWT.
Keagungan peristiwa ini ditegaskan dalam firman Allah:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١
Artinya: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda‑tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al‑Isra’: 1)
Rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj menyimpan pelajaran penting bagi umat Islam. Setidaknya ada 3 urutan perjalanan Isra’ Mi’raj yang bisa diambil hikmah dan pelajarannya sebagai berikut:
1. Pembersihan Hati di Awal Perjalanan
Dalam Sahih al‑Bukhari disebutkan bahwa sebelum diperjalankan, dada Rasulullah SAW dibelah, kemudian dikeluarkan hatinya, dibersihkan dan diisi dengan iman. Selama perjalanan beliau ditemani oleh malaikat Jibril.
Hadits ini diriwayatkan antara lain oleh Imam Bukhari dan Al-Nasa’i:
أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ الدَّسْتَوَائِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا عِنْدَ الْبَيْتِ بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ إِذْ أَقْبَلَ أَحَدُ الثَّلَاثَةِ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ فَأُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَلْآنَ حِكْمَةً وَإِيمَانًا فَشَقَّ مِنْ النَّحْرِ إِلَى مَرَاقِّ الْبَطْنِ فَغَسَلَ الْقَلْبَ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ مُلِئَ حِكْمَةً وَإِيمَانًا
Artinya: “Ya’qub bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Said telah menceritakan kepada kami, dia berkata: Hisyam Ad-Dastawaa’i. Telah menceritakan kepada kami, dia berkata: Qatadah telah menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Ketika saya di depan Ka’bah antara tidur dan terjaga, tiba-tiba datang salah satu dari tiga orang yang ada di tengah-tengah dengan membawa ember emas yang isinya penuh hikmah dan iman, maka ia membelahku dari kerongkongan sampai perut, kemudian mencuci hati dengan air zamzam, lalu diisi hikmah dan iman.”
Proses penyucian hati ini menegaskan bahwa Rasulullah telah bersih dan steril lahir batin sebelum dinaikkan ke atas Buraq, yaitu hewan tunggangan berwarna putih yang sangat cepat.
Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian agung tersebut adalah pentingnya menyucikan hati ketika mendapatkan amanah. Kesuksesan seseorang dalam perjalanan spiritual tidak hanya ditentukan oleh fisik, tetapi juga oleh kebersihan hati dari dosa, keraguan, dan hawa nafsu.
Pelajaran ini juga menjadi peringatan bagi setiap hamba yang ingin dekat (taqarrub), menghadap kepada Allah harus memulai dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), melalui tobat, dzikir, dan keikhlasan.
2. Berjumpa dengan Para Nabi di Tujuh Langit
Dalam beberapa literatur hadits disebutkan bahwa selama perjalanan Isra’ Mi’raj, Rasulullah berjumpa dengan para Nabi. Di langit pertama, Rasulullah berjumpa dengan Nabi Adam AS, bapak seluruh manusia dan para nabi. Lalu langit berikutnya, beliau bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya AS.
Di langit ketiga berjumpa Nabi Yusuf, di langit keempat berjumpa Nabi Idris AS, di langit kelima berjumpa Nabi Harun AS, di langit keenam bertemu Nabi Musa AS, dan bertemu Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh.
Setelah melewati langit ketujuh, Rasulullah sampai di Sidratul Muntaha, sebuah tempat terjauh di atas langit yang menjadi batas ilmu makhluk. Di sana beliau menyaksikan tanda‑tanda kebesaran Allah, lalu dinaikkan ke Baitul Makmur di langit ketujuh yang setiap hari dimasuki tujuh puluh ribu malaikat untuk thawaf dan tidak kembali lagi.
Sebagian ulama menukil dalam al‑Bidayah wal‑Nihayah karya Ibn Katsir saat membahas peristiwa Isra’ Mi’raj:
وَفِي حَدِيثِ الْمِعْرَاجِ: ثُمَّ رُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ
Artinya: “Dan dalam hadits tentang Mi’raj: Kemudian aku dinaikkan menuju Baitul Makmur, yang dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat setiap hari, dan tidak pernah kembali.”
Nabi Muhammad kemudian ditawari tiga minuman: khamar (arak), susu, dan madu yang kemudian beliau memilih susu. Jibril AS menafsirkan pilihan itu sebagai tanda bahwa Nabi berada di atas fitrah yang lurus dan umatnya akan dibimbing pada jalan fitrah.
3. Pengawalan Istimewa dalam Melaksanakan Misi Mulia
Pengawalan malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad sejak awal hingga akhir perjalanan adalah bentuk pendampingan spesial atauistimewa. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah tidak dibiarkan sendiri dalam menjalani misi mulia. Allah selalu memberikan pertolongan, bimbingan, dan penjagaan kepada hamba-Nya yang terpilih.
Hal ini menjadi keyakinan bagi kita bahwa Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan bertakwa saat menghadapi ujian, meskipun pertolongan itu kadang tidak terlihat secara kasat mata. Wallahu a’lam.





Comments are closed.