Mubadalah.id – Masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan, terutama yang berhubungan dengan kehamilan dan proses melahirkan, antara lain:
Pertama, HIV/AIDS. Secara fisik, seorang perempuan lebih berisiko terkena penyakit yang menular melalui hubungan seksual dibandingkan laki-laki, misalnya kemungkinan terjangkit virus HIV/AIDS.
Hal ini terjadi lantaran air mani laki-laki berada di dalam tubuh perempuan dan kuman penyakit yang dibawa oleh cairan tersebut dapat melewati vagina perempuan lalu masuk ke aliran darahnya.
Selain itu, karena sering kali perempuan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi yang dapat segera terlihat dari luar, bisa jadi ia tidak memperoleh perawatan.
Tetapi, ini lebih merupakan persoalan sosial ketimbang sekadar masalah pribadi. Perempuan sering tidak bisa mengendalikan keputusan mengenai hubungan seksual dan sering kali tidak bisa menolak melakukan hubungan seks yang tidak aman atau tanpa perlindungan.
Akibatnya, setiap tahun terdapat 165 juta perempuan terjangkit penyakit-penyakit yang tertularkan melalui hubungan seksual.
Jika tidak tertangani dengan segera, penyakit-penyakit itu dapat menyebabkan rasa sakit yang melumpuhkan, peradangan atau infeksi organ-organ reproduktif.
Bahkan ketidaksuburan atau kemandulan, berbagai kesulitan saat hamil, serta peningkatan risiko terkena kanker rahim. Secara khusus, harus kita waspadai penularan HIV/AIDS yang pasti akan menyebabkan kematian.
Kehamilan yang Terlalu Sering
Kedua, kehamilan yang terlalu sering. Di banyak tempat di dunia, antara sepertiga hingga setengah dari seluruh jumlah penduduk perempuan menjadi ibu sebelum mencapai usia 20 tahun.
Tanpa Keluarga Berencana, banyak di antara mereka yang tidak sempat menguatkan kembali kesehatan mereka di sela-sela kehamilan yang berturut-turut.
Keadaan ini menimbulkan risiko memburuknya kesehatan reproduksi perempuan, sedangkan kehamilan dan kelahiran bisa jadi disertai komplikasi.
Makin sering perempuan hamil dan melahirkan, makin kurang ia mengendalikan kehidupannya sendiri, makin sempit kesempatannya untuk memperoleh pendidikan, dan makin terbatas peluangnya untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang berguna untuk menunjang penghidupannya sendiri.
Ketiga, komplikasi kehamilan dan kelahiran. Dalam masa 30 tahun terakhir ini, jumlah kematian bayi telah berhasil dikendalikan. Namun, jumlah perempuan yang meninggal ketika hamil dan melahirkan masih saja tinggi.
Setiap satu menit sekali, ada seorang perempuan yang meninggal akibat masalah yang berkaitan dengan kehamilan. Ini berarti bahwa sekitar seperempat dari seluruh penduduk perempuan di negara-negara miskin mengalami gangguan serius akibat komplikasi-komplikasi kehamilan dan kelahiran. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 5.





Comments are closed.