Arina.id — Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter secara terbuka mendukung usulan para penggemar sepak bola untuk boikot Piala Dunia 2026 yang bakal digelar di Amerika Serikat. Hal itu ia suarakan sebagai bentuk protes atas perilaku Presiden Donald Trump dan kebijakan-kebijakan diskriminatif yang diterapkan pemerintah AS.
Blatter, memimpin FIFA dari 1998 hingga 2015, menyuarakan dukungannya melalui unggahan di platform X. Ia mendukung sikap Mark Pieth, ahli hukum asal Swiss dan mantan ketua Komite Tata Kelola Independen FIFA, yang menyarankan agar para penggemar “menjauh dari AS” menjelang turnamen besar itu.
Pieth mengatakan dalam wawancara dengan surat kabar Swiss, Der Bund bahwa pendukung sepak bola kemungkinan akan menghadapi risiko terkait kebijakan imigrasi dan tindakan keras terhadap imigran serta protes domestik di Amerika Serikat.
“Jika kita mempertimbangkan segala hal yang telah dibahas, hanya ada satu nasihat untuk penggemar: tinggalkan Amerika Serikat! Lagi pula Anda akan melihatnya lebih jelas di TV,” katanya.
Blatter —kini berusia 89 tahun— kemudian mengutip pernyataan itu dan menambahkan, “Saya pikir Mark Pieth benar untuk mempertanyakan Piala Dunia ini,” kata Blatter sebagaimana dikutip Aljazeera.
Dukungan Blatter menjadikannya figur sepak bola terbaru yang mempertanyakan kelayakan AS sebagai tuan rumah utama turnamen, yang akan dimulai pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Selain AS turnamen juga akan digelar bersama Kanada dan Meksiko.
Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Makin Luas
Kekhawatiran komunitas sepak bola internasional terhadap Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 semakin menguat. Akar kegelisahan itu tidak hanya soal sepak bola, tetapi juga terkait kebijakan dan sikap politik Presiden Donald Trump, mulai dari pendekatan ekspansionis terhadap Greenland, larangan perjalanan, hingga taktik agresif pemerintahannya dalam menangani imigran dan pengunjuk rasa di sejumlah kota di AS.
Dua pekan lalu, rencana perjalanan penggemar dari dua kekuatan sepak bola Afrika—Senegal dan Pantai Gading—kacau setelah pemerintahan Trump mengumumkan larangan perjalanan yang secara efektif mencegah warga kedua negara itu masuk ke AS, kecuali mereka telah mengantongi visa sebelumnya. Trump berdalih penangguhan tersebut dilakukan karena “kekurangan dalam proses penyaringan dan pemeriksaan”.
Larangan serupa juga berdampak pada penggemar dari Iran dan Haiti, dua negara lain yang telah lolos ke Piala Dunia. Keduanya termasuk dalam gelombang pertama kebijakan larangan perjalanan yang diumumkan pemerintahan Trump, memperluas daftar negara yang warganya berpotensi tidak bisa menyaksikan tim nasional mereka berlaga secara langsung.
Jauh sebelum mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan dukungannya terhadap wacana boikot, suara kritis sebenarnya sudah bermunculan dari kalangan pejabat sepak bola dan politisi dunia. Salah satunya datang dari Jerman.
Oke Göttlich, wakil presiden Federasi Sepak Bola Jerman, mengatakan kepada Hamburger Morgenpost bahwa sudah saatnya dunia sepak bola “secara serius mempertimbangkan” boikot Piala Dunia 2026.
“Apa pembenaran boikot Olimpiade pada 1980-an? Menurut saya, potensi ancaman saat ini justru lebih besar,” ujar Göttlich mengacu pada aksi boikot atas Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskow untuk memprotes invasi Soviet ke Afghanistan.
Sebagai figur yang juga terlibat dengan klub St Pauli—klub Hamburg yang dikenal memadukan sepak bola dan sikap politik berhaluan kiri—Göttlich menepis anggapan bahwa boikot akan merugikan para pemain profesional. Ia menegaskan bahwa kepentingan atlet tidak bisa ditempatkan di atas nyawa manusia.
“Nyawa seorang pemain profesional tidak lebih berharga daripada nyawa banyak orang di berbagai wilayah yang secara langsung maupun tidak langsung diserang atau diancam oleh tuan rumah Piala Dunia,” tegasnya.
Seruan boikot kini meluas melampaui Eropa. Di Afrika Selatan, pemimpin oposisi utama Julius Malema mendesak Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan (SAFA) dan tim nasional mereka untuk menarik diri dari Piala Dunia 2026.
“Bafana Bafana (julukan Timnas Afsel) harus mundur. SAFA harus mengambil keputusan untuk menarik diri dari segala hal yang berkaitan dengan Piala Dunia di Amerika,” kata Malema dalam wawancara yang dikutip Aljazeera.
Ia bahkan membandingkan pemerintahan Trump dengan rezim apartheid di Afrika Selatan, menuding AS tidak menghormati hukum internasional. “Banyak negara menolak berdagang dengan Afrika Selatan karena pelanggaran HAM. Maka kita juga harus memboikot Piala Dunia di Amerika dan segala sesuatu yang terkait dengannya,” ujarnya.
Di Inggris, sejumlah anggota parlemen di House of Commons menyerukan agar Inggris dan Skotlandia menarik diri dari turnamen, menyusul ancaman Trump untuk mencaplok Greenland. Mereka mendesak pemerintah Inggris untuk “mempermalukan Trump” melalui boikot Piala Dunia.
Sementara itu di Belanda, lebih dari 100.000 penggemar telah menandatangani petisi daring yang meminta tim nasional memboikot turnamen tersebut. Namun Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) menyatakan belum berencana menarik diri.
“KNVB terus memantau perkembangan geopolitik dan tetap berkoordinasi erat dengan pemerintah Belanda,” demikian laporan media setempat.
Gelombang kritik dan seruan boikot ini menunjukkan bahwa Piala Dunia 2026 kian sulit dipisahkan dari pertarungan nilai, politik, dan legitimasi global—jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.





Comments are closed.