Tue,4 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Gelombang Migran dari Maroko ke Ceuta Tewaskan 72 Orang, Ratusan Anak Terlantar Tanpa Pendamping

Gelombang Migran dari Maroko ke Ceuta Tewaskan 72 Orang, Ratusan Anak Terlantar Tanpa Pendamping

gelombang-migran-dari-maroko-ke-ceuta-tewaskan-72-orang,-ratusan-anak-terlantar-tanpa-pendamping
Gelombang Migran dari Maroko ke Ceuta Tewaskan 72 Orang, Ratusan Anak Terlantar Tanpa Pendamping
service

Jakarta, Arina.id—Gelombang penyeberangan migran dari Maroko menuju wilayah kantong Spanyol di Ceuta, Afrika Utara, memicu krisis kemanusiaan yang menewaskan sedikitnya 72 orang. Di tengah tragedi tersebut, ratusan anak di bawah umur tanpa pendamping terlantar setelah terpisah dari keluarga mereka saat berusaha mencapai wilayah Spanyol.

Sebagian besar migran menempuh perjalanan berbahaya dengan berenang atau memanjat pagar perbatasan yang memisahkan Maroko dan Ceuta. Banyak anak mengalami trauma setelah menyaksikan anggota keluarganya tenggelam di laut atau terpisah selama perjalanan.

Seorang anak laki-laki asal Maroko berusia delapan tahun mengaku terpisah dari ibunya setelah diselamatkan dari laut. “Saya melihat orang-orang menginjak mayat. Sekarang kami seperti anak-anak yang mengemis di jalanan,” tulis Aljazeera dikutip Selasa (4/8).

Menurut laporan, sekitar 60.000 migran menyeberang dari Maroko ke Ceuta dalam beberapa hari terakhir. Meski lebih dari 48.000 orang telah dipulangkan atau kembali secara sukarela ke Maroko, ratusan anak tanpa pendamping masih berada di Ceuta dan berhak memperoleh perlindungan berdasarkan hukum Spanyol.

Fasilitas perlindungan anak yang dikelola pemerintah Spanyol dilaporkan telah penuh. Akibatnya, sebagian anak bergantung pada bantuan warga setempat untuk memperoleh makanan dan tempat berlindung.

Sesuai Pasal 35 Undang-Undang Spanyol Tahun 2000 tentang hak-hak orang asing, setiap anak migran tanpa pendamping yang ditemukan aparat wajib diberikan perlindungan dan penanganan segera oleh layanan perlindungan anak. Sementara itu, migran dewasa dapat mengajukan permohonan suaka. Namun, warga Maroko umumnya menghadapi persyaratan yang ketat untuk memperoleh perlindungan kemanusiaan. Jika permohonan ditolak, mereka akan menjalani proses deportasi.

Seorang jurnalis Associated Press (AP) menyaksikan tentara Spanyol mengawal seorang anak laki-laki asal Maroko yang menangis dan memohon agar tidak dipulangkan. Setelah warga setempat meyakinkan aparat bahwa anak tersebut masih di bawah umur, ia akhirnya diserahkan kepada Garda Sipil Spanyol untuk mendapatkan perlindungan, bukan dipulangkan ke Maroko.

Selain warga Maroko, sejumlah migran dari negara lain juga masih berada di Ceuta, di antaranya warga Sudan yang melarikan diri dari perang, warga Palestina dari Gaza, warga Afghanistan, serta migran dari beberapa negara Afrika lainnya.

Pusat penampungan migran di Ceuta kini telah melebihi kapasitas. Fasilitas yang hanya mampu menampung sekitar 600 orang itu penuh sesak, sementara pasokan makanan semakin terbatas. Banyak migran terpaksa tidur di ruang terbuka, di sepanjang pantai, maupun di kawasan perbukitan sekitar Ceuta sambil menunggu kepastian nasib mereka.

Lima jenazah tambahan ditemukan di sepanjang garis pantai Ceuta pada Minggu. Otoritas Spanyol juga menyebut lebih dari 1.000 orang telah mendapatkan perawatan medis sejak lonjakan migran dimulai pada Kamis.

Perwakilan Pemerintah Spanyol di Ceuta, Miguel Angel Perez, mengatakan kondisi di kota tersebut mulai membaik meski upaya pemulihan masih terus dilakukan. Namun, kantor berita Spanyol EFE memperkirakan jumlah korban jiwa masih dapat bertambah.

Garda Sipil Spanyol telah memulai proses identifikasi terhadap 72 jenazah yang ditemukan. Pengambilan sidik jari dan sampel DNA ditargetkan selesai paling lambat akhir pekan depan. Menurut pejabat forensik Garda Sipil, Carlos Atuchi, sebagian besar korban meninggal akibat tenggelam, sementara lainnya tewas terinjak-injak saat berusaha memanjat pemecah gelombang dan pagar perbatasan.

Kementerian Dalam Negeri Maroko menyatakan penyeberangan massal tersebut dipicu oleh informasi yang menyesatkan di media sosial, aktivitas jaringan penyelundup manusia, serta kesalahpahaman terhadap putusan pengadilan Spanyol yang melarang pemulangan segera terhadap migran yang dicegat di laut.

Sebelumnya, Pemimpin Ceuta, Juan Jesus Vivas, mengatakan kamar mayat kota sempat menerima hingga 88 jenazah, termasuk korban dari upaya-upaya penyeberangan yang terjadi beberapa pekan sebelumnya. Ia juga menyebut otoritas Maroko menemukan sejumlah jenazah di laut, meski belum ada data resmi yang diumumkan.

Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menyatakan hampir seluruh migran yang memasuki Ceuta telah kembali ke Maroko. Meski demikian, tragedi tersebut kembali memicu perdebatan politik di Eropa mengenai kebijakan migrasi dan pengamanan perbatasan.

Sebanyak 22 negara anggota Uni Eropa menyerukan koordinasi penanganan perbatasan. Italia memutuskan kembali memberlakukan pemeriksaan perbatasan dengan Spanyol, sementara pemerintah Spanyol memasang penghalang terapung di perairan Ceuta untuk mencegah penyeberangan ilegal.

Di saat yang sama, media sosial diramaikan narasi antiimigran dengan tagar #StopIslam yang disebarkan kelompok sayap kanan. Sejumlah politisi memanfaatkan tragedi tersebut sebagai alasan untuk mendorong pengetatan kebijakan migrasi, sehingga krisis kemanusiaan di Ceuta kini berkembang menjadi isu politik yang kembali memecah perdebatan di Eropa.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.