Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menelusuri Jejak Dakwah dan Perlawanan Kiai Ahmad Rifa’i di Kalisalak Batang

Menelusuri Jejak Dakwah dan Perlawanan Kiai Ahmad Rifa’i di Kalisalak Batang

menelusuri-jejak-dakwah-dan-perlawanan-kiai-ahmad-rifa’i-di-kalisalak-batang
Menelusuri Jejak Dakwah dan Perlawanan Kiai Ahmad Rifa’i di Kalisalak Batang
service

Kembali saya diperjalankan di sebuah wilayah yang pernah menjadi tilas atau bekas tempat singgah dari seorang tokoh yang berpengaruh dalam kancah perjuangan melawan penjajah kolonial Belanda. 

Selain itu juga sebagai wilayah dari jalan dakwah untuk membawa amanat yang bersambung dari gurunya sampai pesan itu juga bisa kita jalani, kini, hingga nanti untuk anak cucu mendatang. 

Setelah menelusuri jaringan murid Syekh Ahmad Rifa’i atau Mbah Rifa’i di Wonosobo yang diceritakan oleh seorang warga Rifa’iyah. Pada Sabtu, (7/2) siang kami bisa singgah dan melanjutkan sebuah “suluk” di Kalisalak, Limpung Kabupaten Batang.

Kalisalak ini menjadi salah satu wilayah singgah K.H. Ahmad Rifa’i, lebih tepatnya menurut penuturan sebelum diasingkan ke Ambon, Mbah Ahmad Rifa’i pernah membuat pondok di Kalisalak, Limpung Kabupaten Batang.

Kiprahnya dalam berdakwah di Kalisalak ini bisa dibilang berpengaruh, melalui karyanya sebuah kitab dengan nadhom, atau syi’ir hingga tembang ia karang dengan ditulis beraksara pegon (teks arab berbahasa Jawa). 

Kitab yang dikarang oleh Mbah Ahmad Rifa’i ini pun banyak, kisaran 60-an kitab dan ajarannya dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, seperti ushuluddin, fiqih dan tasawuf, seperti halnya yang tertuang di dalam kitab-kitab tarjumah karangannya termasuk dalam kitab al-waraqat al-ikhlash

K.H. Ahmad Rifa’i pun mengikuti imam madzhab yang sama dalam bidang tauhid atau ushuluddin seperti yang dianut oleh orang-orang Ahlussunah wal Jama’ah, secara fiqih pun ia juga sosok yang mengawal fikih Syafi’i.

Diceritakan pula oleh salah satu penggiat Duta Baca Buku di Kabupaten Batang, Aqila mengatakan bahwa menurut cerita tutur yang berkembang di sekitar Batang khususnya oleh warga Rifa’iyah, bahwa terdapat tulisan dari K.H. Ahmad Rifa’i yang katanya menuliskan kalimat “merdeka, merdeka, merdeka..” dalam sebuah kitabnya. 

Hanya saja ketika dicari, tulisan kalimat tersebut tertuang pada kitab apa, masih belum bisa ditemukan atau dikroscek ulang, sekadar kisah tutur yang dipercaya bagian dari gerakan Mbah Ahmad Rifa’i bersemangat membela Tanah Air. 

Meskipun terkait dengan pemantik dari K.H. Ahmad Rifa’i ini dalam pergulatan melawan penjajah kolonial ini juga ada banyak riwayat yang mengisahkan. 

Misalnya seperti menyamakan bahwa pihak kolonial Belanda itu kafir, hingga ada sebuah fatwa pula, ketika menikah di penghulu kolonial zaman dahulu, dalam istilah warga Rifa’iyah disebut “Tajdidun Nikah” atau negesi kembali akad nikah.

Pemahaman akad ulang pernikahan ini di beberapa wilayah oleh warga Rifa’iyah ada yang masih melaksanakan selepas akad di KUA, biasanya dari pihak mempelai nikah memasrahkan kepada Kiai Rifa’iyah yang dianggap sah untuk dijadikan saksi dan penghulu.

Meskipun terdapat beberapa ajaran yang bisa dianggap kurang relevan untuk diterapkan dalam beberapa aspek di era kekinian. Tetapi hal itu bisa juga dibilang sebagai bagian dari kehati-hatian (ikhtiyat) dan sifatnya jika dimaknai pada era sekarang dalam segi hakikatnya bisa diterima. 

Memang jika dibenturkan dengan teori Barat atau menganut zaman modern bakal dianggap tidak relevan atau kurang tepat, soalnya cara pandang atau pijakannya berbeda.

Juga dalam perjalanan dakwah hingga kini pun sudah tidak ada sekat atau jarak apapun sebab landasannya adalah rahmatan lil ‘alamin, dengan dakwah yang santun, saling menghormati.

Nah, kembali ke jejak Mbah Ahmad Rifa’i lainnya, menurut Khabib, selaku juru pelihara museum K.H. Ahmad Rifa’i di Limpung ini mengatakan, “pada zaman penjajahan Belanda, tanah Kalisalak memang bekas pondok Syekh Ahmad Rifa’i, terkenal memiliki jaringan murid-muridnya yang tersebar ke beberapa wilayah. Wilayah tersebut terutama di Jawa Tengah, Jawa Barat bahkan sekarang sudah melebar sampai ke luar pulau.” Tambah Khabib, ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Jejak peninggalan K.H. Ahmad Rifa’i ini selain bentuk kitab yang telah disalin oleh para murid-muridnya, ada jejak sebuah kaligrafi terpampang di masjid Nurul Jamal, tempat takaran zakat fitrah yang terbuat dari tempurung kelapa. 

Masih menurut Khabib ada jejak berupa batu ukir yang sekarang ini sudah dipindahkan ke masjid Baitul Muttaqin Karanganyar Limpung. Sebab, terdapat kisah yang unik pula, dahulu batu tersebut dianggap benda keramat. 

“Jadi setiap malam Jumat Kliwon ramai yang berdatangan orang-orang meminta nomer pada benda tersebut maka biar aman lebih baik diamankan.” Jelas Khabib, singkat Selasa (10/2) sore.

Bahkan ada sebuah peninggalan lain yang sampai sekarang ini dilestarikan, yaitu Batik Rifa’iyah, tepatnya di Desa Kalipucang Wetan Kecamatan Batang, batik tersebut berciri khas motif flora, fauna. Misalnya motif yang tidak utuh (terpotong), dan pola remukan. Lain lagi seperti motif Pelo Ati yang memiliki makna filosofis spiritual, yaitu (kebersihan hati) hingga motif alas roban dan motif lainnya yang kaya akan pesan filosofis.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.