KABARBURSA.COM – Platform investasi saham Stockbit mencatat lonjakan signifikan dalam aktivitas transaksi sepanjang awal 2026. Hingga Februari tahun ini, nilai transaksi saham yang tercatat melalui platform tersebut mencapai Rp107 triliun. Angka ini melonjak tajam, tumbuh sekitar 600 persen secara tahunan dibandingkan nilai transaksi Rp17 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Pertumbuhan pesat ini mencerminkan akselerasi adopsi teknologi investasi di kalangan masyarakat sekaligus meningkatnya kepercayaan investor terhadap platform digital. Kondisi tersebut juga mempertegas posisi Stockbit sebagai salah satu platform investasi saham terdepan di Indonesia.
HR Manager Stockbit dan Bibit, Jhohanes Silalahi, menjelaskan bahwa keunggulan utama Stockbit terletak pada perpaduan antara kemudahan akses dan kelengkapan fitur yang dimiliki. Platform ini tidak hanya menyediakan fasilitas transaksi, tetapi juga menghadirkan komunitas diskusi investor secara real-time yang memungkinkan pengguna berbagi pandangan, data, serta membaca sentimen pasar secara langsung.
Menurutnya, pengalaman investasi yang interaktif tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pengguna merasa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi.
Di sisi lain, aspek keamanan juga menjadi prioritas utama. Jhohanes menuturkan bahwa fitur pengamanan seperti autentikasi biometrik serta sistem perlindungan akun berlapis telah diterapkan guna memastikan keamanan aktivitas pengguna di dalam platform.
Sementara itu, aplikasi investasi lain yang berada dalam ekosistem yang sama, yakni Bibit—platform untuk investasi reksa dana dan obligasi—juga mencatat pertumbuhan yang signifikan. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, aplikasi tersebut telah diunduh sebanyak dua juta kali.
Saat ini, sekitar 1,7 juta portofolio investasi aktif sedang dikelola atau direncanakan melalui aplikasi Bibit. Capaian tersebut memperkuat posisi Bibit sebagai salah satu aplikasi investasi yang paling dipercaya oleh masyarakat Indonesia.
Di balik kinerja positif kedua platform tersebut, Jhohanes menilai keberhasilan itu tidak terlepas dari dukungan talenta digital yang terus berkembang di dalam organisasi. Ia menekankan bahwa perusahaan memberikan ruang yang luas bagi para profesional teknologi untuk membangun karier sekaligus berkontribusi pada sektor keuangan digital.
Bekerja dalam ekosistem produk yang digunakan oleh jutaan orang, kata dia, membuat setiap keputusan pengembangan memiliki implikasi nyata. Mulai dari penulisan kode, perancangan fitur, hingga diskusi dan eksperimen produk—semuanya berkontribusi terhadap peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Menurut Jhohanes, para talenta terbaik saat ini tidak hanya mencari tempat bekerja. Mereka juga mencari ruang untuk belajar, bereksperimen, dan menciptakan inovasi yang memiliki dampak luas.
Di lingkungan Stockbit dan Bibit, setiap individu diberi kesempatan untuk berkembang sekaligus mengambil peran dalam misi besar perusahaan, yakni memperluas akses investasi yang aman, mudah, dan terintegrasi bagi masyarakat Indonesia.
Ia menambahkan bahwa salah satu nilai penting yang dijunjung perusahaan adalah mendorong rasa kepemilikan atau ownership dari setiap anggota tim terhadap inovasi yang dihasilkan.
Seperti banyak perusahaan rintisan pada umumnya, perusahaan ini menawarkan lingkungan kerja yang dinamis dan penuh peluang. Budaya organisasi dibangun secara adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada kebutuhan pengguna.
Jhohanes menilai para talenta digital yang ingin mengasah kemampuan di bidang teknologi finansial dan pasar modal akan menemukan tantangan yang relevan sekaligus ruang pembelajaran yang berkelanjutan di dalam perusahaan.
Pertumbuhan bisnis sepanjang 2025 juga membuka peluang yang lebih luas bagi para profesional muda untuk berkembang bersama perusahaan.
Dengan visi memperluas inklusi keuangan serta membangun ekosistem investasi digital yang kredibel, perusahaan membuka pintu bagi talenta digital terbaik di Indonesia untuk bergabung dalam perjalanan tersebut.
Seiring strategi ekspansi bisnis yang terus berkembang pada 2026, kebutuhan terhadap talenta muda yang inovatif pun semakin meningkat. Pada akhirnya, membangun masa depan finansial Indonesia tidak semata tentang teknologi, melainkan juga tentang manusia yang berada di balik inovasi tersebut.(*)





Comments are closed.