Tue,5 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Antropolog Soroti Wacana Hutan Meratus jadi Taman Nasional

Antropolog Soroti Wacana Hutan Meratus jadi Taman Nasional

antropolog-soroti-wacana-hutan-meratus-jadi-taman-nasional
Antropolog Soroti Wacana Hutan Meratus jadi Taman Nasional
service

Polemik rencana usulan perubahan fungsi status kawasan hutan  Meratus dari hutan lindung ke taman nasional menarik perhatian antropolog mancanegara. Mereka menilai, semangat perlindungan kawasan yang jadi alasan pendorong taman nasional harusnya mengandalkan masyarakat adat atau lokal. Anna Lowenhaupt Tsing, antropolog yang terkenal lewat studi etnografi multispecies, kapitalisme, dan antropologi lingkungan termasuk kajiannya pada Komunitas Dayak Meratus, menekankan pentingnya melihat gagasan dari sudut pandang orang adat. Sebab, ribuan tahun sudah Masyarakat Adat Meratus hidup di lingkungan kaya dan beragam. Hutan dan dan pegunungan bukan sekadar ruang ekologis, melainkan sumber penghidupan sekaligus penghubung antara masa lalu dan masa depan. “Upaya pelestarian di Meratus semestinya belajar dari masyarakat adat dan bekerja bersama mereka, bukan justru meminggirkannya,” katanya pada Mongabay. Menurut dia, praktik pelestarian bukan hal baru bagi Masyarakat Adat Meratus karena sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Profesor di Departemen Antropologi University of California, Santa Cruz ini mengingatkan, setiap inisiatif konservasi akan berpotensi gagal jika hanya melayani kepentingan elite yang jauh dari kawasan itu. Sebaliknya, pengakuan identitas dan hak masyarakat adat di Meratus jadi kunci menjaga komunitas dan lanskap itu. Jadi, wacana taman nasional di berbagai belahan dunia pun tak lebih dari alasan untuk merampas hak-hak masyarakat adat. Padahal, mereka yang turut membentuk lanskap itu. Taman nasional, justru berisiko merusak wilayah yang hendak dilindungi itu. Pembangunan jalan, misal, bisa menjadi salah satu penyebab pengikisan lahan dan deforestasi. Tidak hanya di Meratus, juga di kawasan pegunungan tropis lainnya. Pembangunan lintasan dengan permukaan keras, katanya, berpotensi menghancurkan bentang alam dengan skala lebih luas. “Penggusuran Masyarakat…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.