Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Siapa Sangka? Laki-laki Justru Lebih Ingin Punya Anak daripada Perempuan

Siapa Sangka? Laki-laki Justru Lebih Ingin Punya Anak daripada Perempuan

siapa-sangka?-laki-laki-justru-lebih-ingin-punya-anak-daripada-perempuan
Siapa Sangka? Laki-laki Justru Lebih Ingin Punya Anak daripada Perempuan
service

Bincangperempuan.com- Biasanya dalam iklan atau media populer, perempuan digambarkan sebagai pihak yang paling mendambakan anak. Gagasan tentang “naluri keibuan” sering dipakai untuk menjelaskan seolah-olah keinginan memiliki anak adalah sesuatu yang secara alami melekat pada perempuan.

Namun, temuan survei dari Pew Research Center menunjukkan gambaran yang sedikit berbeda. Dalam survei terhadap responden usia 18–34 tahun yang belum memiliki anak, laki-laki justru lebih banyak yang mengatakan ingin memiliki anak di masa depan dibandingkan perempuan. Sebanyak 57 persen laki-laki menyatakan ingin memiliki anak suatu hari nanti, sementara pada perempuan angkanya 45 persen. Selain itu, 21 persen perempuan mengatakan tidak ingin memiliki anak sama sekali, dibandingkan 15 persen laki-laki.

Temuan ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah perempuan sekarang semakin tidak ingin memiliki anak? Atau justru selama ini keinginan perempuan sering disalahpahami karena norma sosial yang sejak awal menempatkan mereka sebagai calon ibu secara otomatis?

Mengapa laki-laki lebih optimistis membayangkan masa depan sebagai orang tua?

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam survei tersebut lumayan mencolok. Selain lebih banyak yang mengatakan ingin memiliki anak, laki-laki juga lebih jarang menyatakan secara tegas bahwa mereka tidak ingin menjadi orang tua.

Secara keseluruhan, sekitar setengah dari orang dewasa muda tanpa anak mengatakan mereka ingin memiliki anak di masa depan. Namun, laki-laki lebih konsisten menyatakan keinginan tersebut dibandingkan perempuan, menurut temuan dari Pew Research Center.

Fenomena ini menarik karena bertentangan dengan stereotip lama yang menganggap perempuan lebih berorientasi pada keluarga. Selama ini perempuan sering diasumsikan memiliki dorongan alami untuk menjadi ibu. 

Namun, ketika data menunjukkan bahwa laki-laki justru lebih banyak menyatakan keinginan memiliki anak, itu artinya laki-laki mungkin lebih bebas membayangkan masa depan sebagai orang tua karena konsekuensi sosialnya relatif lebih kecil.

Menjadi ayah tentu membawa tanggung jawab. Tetapi dalam praktik sehari-hari, beban pengasuhan anak masih lebih banyak ditanggung oleh perempuan. Jadi wajar saja lebih banyak laki-laki ingin punya anak, sebab perubahan hidupnya tak sedrastis yang dialami perempuan.

Baca juga: Ketika Makna Provider Mengabaikan Kerja Perempuan

Mengapa Lebih Banyak Perempuan Mengatakan Tidak Ingin Punya Anak?

Dalam survei tersebut, kelompok orang dewasa usia 18–49 tahun yang tidak berencana memiliki anak, perempuan mengatakan bahwa alasan utamanya adalah karena memang tidak ingin memiliki anak. Selain itu, perempuan juga lebih sering menyebut pengalaman keluarga masa kecil yang buruk sebagai faktor yang memengaruhi keputusan tersebut.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak memiliki anak merupakan pilihan yang dipertimbangkan secara serius, bukan sekadar keputusan sementara. Bagi sebagian perempuan, keputusan tersebut berkaitan dengan pengalaman hidup, nilai pribadi, maupun pandangan tentang kualitas hidup yang mereka inginkan.

Beban Biologis, Sosial, dan Ekonomi Ketika Menjadi Ibu

Pengalaman menjadi orang tua tidak dialami secara setara oleh laki-laki dan perempuan. Perempuan masih menghadapi dampak yang lebih besar ketika memiliki anak.

Terutama pengalaman biologis perempuan yaitu kehamilan dan persalinan, yang membawa risiko kesehatan sekaligus perubahan fisik dan emosional. Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari perempuan juga lebih sering menanggung tanggung jawab pengasuhan anak.

Ketimpangan ini juga terlihat dalam dunia kerja. Berbagai penelitian menunjukkan apa yang disebut sebagai motherhood penalty, yaitu penurunan peluang karier, pendapatan, atau kesempatan promosi setelah perempuan memiliki anak. Sedangkan laki-laki yang menjadi ayah justru dapat memperoleh persepsi positif sebagai sosok yang lebih stabil atau bertanggung jawab di tempat kerja.

Penelitian yang menganalisis ratusan studi tentang kesenjangan upah menemukan adanya motherhood wage gap rata-rata sekitar 3,6 hingga 3,8 persen antara ibu dan perempuan tanpa anak. Kesenjangan ini sebagian dipengaruhi oleh terhentinya pengalaman kerja karena cuti atau jeda karier, serta kecenderungan ibu memilih pekerjaan yang lebih fleksibel meskipun dengan upah lebih rendah.

Selain itu, perempuan sering memikul apa yang disebut sebagai mental load dalam keluarga—yakni tanggung jawab tak terlihat untuk mengingat, merencanakan, dan mengatur berbagai kebutuhan rumah tangga dan pengasuhan anak. Beban ini tidak selalu tampak, tetapi dapat memengaruhi keseimbangan antara kehidupan pribadi, pekerjaan, dan keluarga.

Karena alasan-alasan inilah, kebanyakan perempuan lebih berhati-hati ketika membayangkan masa depan sebagai orang tua.

Baca juga: Meme Cangkul dan Kapak: Kekerasan terhadap Perempuan Bukan Bahan Candaan

Punya Anak Bukan Lagi Rencana Semua Orang

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam keinginan memiliki anak juga perlu dilihat dalam konteks perubahan yang lebih luas. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak generasi muda yang menunda atau bahkan memilih tidak memiliki anak.

Survei dari Pew Research Center menunjukkan bahwa 57 persen orang dewasa yang mengatakan tidak berencana punya anak menyebut alasan utamanya karena memang tidak ingin memiliki anak. Alasan lain yang juga sering muncul adalah ingin fokus pada hal lain seperti karier atau minat pribadi (44 persen), kekhawatiran terhadap kondisi dunia (38 persen), serta biaya membesarkan anak yang dianggap terlalu mahal (36 persen).

Fenomena ini juga berkaitan dengan semakin terbukanya pilihan hidup seperti childfree. Memiliki anak tidak lagi otomatis dianggap sebagai langkah yang harus diambil semua orang. Bagi sebagian orang—terutama perempuan—keputusan tersebut sering kali lahir dari pertimbangan yang cukup realistis: soal pekerjaan, kualitas hidup, hingga masa depan yang mereka bayangkan untuk diri sendiri.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.