KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dalam sepekan terakhir menunjukkan tekanan yang tidak bisa diabaikan. Hal ini terjadi bersamaan dengan penurunan kinerja laba bersih sepanjang 2025.
Di balik angka yang tampak stabil di permukaan, terdapat dinamika arus dana dan struktur perdagangan yang mencerminkan fase distribusi bertahap.
Pada penutupan 17 Maret 2026, saham MYOR berada di level 1.840, turun 1,34 persen dibandingkan hari sebelumnya. Jika ditarik dalam satu pekan perdagangan, harga saham bergerak dalam rentang yang relatif lebar, sempat menyentuh level tertinggi di 1.920 pada 10 Maret sebelum perlahan terkoreksi hingga area 1.800.
Rata-rata harga harian juga menunjukkan tren penurunan dari 1.907 pada awal pekan menjadi 1.833 pada akhir periode, menandakan adanya tekanan jual yang konsisten.
Dari sisi arus dana, tekanan tersebut terlihat jelas. Sepanjang periode 10 hingga 17 Maret, investor asing mencatatkan penjualan bersih secara beruntun, dengan total net foreign sell mencapai sekitar Rp20 miliar lebih dalam empat hari negatif.
Pada 17 Maret saja, net foreign sell tercatat Rp4,71 miliar, dengan nilai jual asing mencapai Rp19,22 miliar, jauh di atas pembelian Rp14,51 miliar. Pola ini memperlihatkan distribusi yang cukup aktif, di mana setiap kenaikan harga cenderung direspons dengan aksi jual.
Frekuensi transaksi yang relatif stabil di kisaran 3.000 hingga 5.800 kali per hari, disertai volume yang tetap terjaga di atas 90 ribu hingga 170 ribu lot, menunjukkan bahwa likuiditas saham masih terjaga. Namun, dominasi sisi jual—khususnya dari asing—membuat pergerakan harga cenderung tertahan dan sulit mempertahankan momentum penguatan.
Laba Bersih Turun
Di tengah tekanan tersebut, kinerja fundamental MYOR menunjukkan perlambatan. Sepanjang tahun 2025, laba bersih tercatat Rp2,87 triliun, turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp3,00 triliun.
Penurunan ini terjadi meski pendapatan mencapai Rp38,68 triliun dan EBITDA berada di level Rp3,86 triliun. Margin operasional masih terbentuk, namun tidak cukup untuk menjaga pertumbuhan laba tetap positif.
Struktur keuangan MYOR masih menunjukkan keseimbangan yang relatif terjaga. Total aset mencapai Rp31,38 triliun dengan ekuitas Rp18,36 triliun. Sementara itu, total utang berada di kisaran Rp13,01 triliun, menghasilkan rasio debt to equity sebesar 0,71 kali.
Beban bunga tercatat Rp593 miliar dengan rasio EBITDA terhadap beban bunga sebesar 6,52 kali, mencerminkan kemampuan pembayaran bunga yang masih dalam batas aman.
Dari sisi profitabilitas, return on equity (ROE) berada di level 15,60 persen dan return on assets (ROA) sebesar 9,13 persen. Angka ini menunjukkan bahwa MYOR masih mampu menghasilkan imbal hasil terhadap modal dan aset, meski pertumbuhan laba mengalami tekanan.
Valuasi saham berada pada kisaran price to earnings ratio (PER) 14,39 kali dan price to book value (PBV) 2,24 kali. Dengan laba per saham sebesar Rp127,91 dan dividen Rp55 per saham, MYOR masih mencerminkan profil emiten konsumsi dengan distribusi dividen yang tetap berjalan.
Namun, dengan EV/EBITDA di level 12,49 kali, valuasi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih menempatkan ekspektasi tertentu terhadap kinerja jangka menengah.
Tekanan Asing Lemahkan Harga
Jika ditarik ke pergerakan harga, terdapat korelasi yang cukup jelas antara tekanan asing dan pelemahan harga saham. Kenaikan yang sempat terjadi pada 12 Maret, ditandai dengan net foreign buy Rp10,86 miliar, tidak mampu bertahan lama. Setelah itu, tekanan jual kembali mendominasi dan membawa harga turun secara bertahap.
Struktur ini menunjukkan bahwa pergerakan MYOR dalam jangka pendek tidak hanya ditentukan oleh fundamental, tetapi juga oleh dinamika arus dana. Ketika akumulasi tidak berlanjut dan distribusi menjadi dominan, harga cenderung bergerak dalam pola melemah meski secara valuasi belum terlihat ekstrem.
Dengan kombinasi penurunan laba, valuasi yang masih relatif moderat, serta tekanan jual asing yang konsisten, saham MYOR saat ini berada dalam fase penyesuaian. Pergerakan harga yang tertahan di bawah level psikologis 1.900 mencerminkan adanya keseimbangan baru antara minat beli dan tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda.
Dalam konteks ini, perdagangan MYOR tidak hanya mencerminkan kondisi internal perusahaan, tetapi juga bagaimana pelaku pasar membaca ulang ekspektasi terhadap sektor konsumsi di tengah dinamika yang lebih luas.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.