
Waktu kerap hadir bukan sebagai garis lurus, melainkan sebagai jeda—ruang di mana manusia menimbang dirinya sendiri. Barangkali di sanalah hari raya selalu bermula: bukan pada gema, bukan pada keramaian, melainkan pada keraguan yang lirih. Manusia kerap berdamai dengan dunia, tapi tidak dengan dirinya sendiri.
Kalimat itu seperti gema jauh dari pemikiran bahwa seluruh kesengsaraan manusia berasal dari ketidakmampuannya duduk diam di sebuah kamar. Kita lari—ke luar, ke orang lain, ke perayaan—karena sunyi di dalam terlalu gaduh. Maka Idul Fitri, atau hari raya apa pun, sering menjadi panggung yang kita siapkan untuk menutup percakapan yang tak pernah selesai dengan diri sendiri. Kita berdiri di ambang pintu, seperti anak yang ragu mengetuk rumahnya sendiri.
Di luar, kemenangan diumumkan. Takbir menggema. Meja penuh. Pakaian baru dipakai seolah-olah sejarah telah ditutup dengan rapi. Tapi kemenangan, kita tahu, sering terlalu cepat diberi nama. Ia seperti keputusan politik yang tergesa—mengumumkan damai sebelum luka benar-benar dijahit. Dalam sejarah, Treaty of Versailles pernah menandai akhir perang, tapi juga menyimpan benih perang berikutnya. Barangkali dalam diri kita, hal serupa terjadi: perayaan yang terlalu dini, rekonsiliasi yang belum selesai. Di dalam diri, ada sesuatu yang belum usai.
Sebuah percakapan yang tertunda. Sebuah luka yang tak sempat diberi nama. Kita memaafkan orang lain dengan mudah—atau setidaknya mengucapkannya. Tapi memaafkan diri sendiri? Itu wilayah yang lebih sunyi, lebih gelap, dan sering kita hindari. Sigmund Freud pernah menyebut bahwa manusia tidak sepenuhnya tuan atas dirinya sendiri. Ada ruang-ruang tak sadar yang terus bekerja, menyimpan konflik yang tak kita akui. Maka ketika hari raya datang, yang kita rayakan sering bukan kemenangan, melainkan jeda—sebuah penundaan dari perang yang masih berlangsung.
“Tak ada kemenangan yang benar-benar tiba jika diri sendiri masih menjadi medan perang.”
Kalimat itu tidak menawarkan penghiburan. Ia justru menyingkap sesuatu: bahwa pulang bukanlah peristiwa, melainkan proses yang tak pernah selesai. Dalam tradisi sufistik, seperti diisyaratkan oleh Jalaluddin Rumi, perjalanan manusia adalah lingkaran—kita pergi untuk kembali, tapi kembali sebagai orang yang berbeda. Namun bagaimana jika kita tak pernah benar-benar sampai?
Hari raya, dengan segala kemeriahannya, mungkin hanya sebuah tanda: bahwa kita diundang untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya—apakah perang itu masih berlangsung? Dan jika jawabannya ya, maka kemenangan belum tiba. Kita baru saja berdiri di ambang.
Puasa, dalam banyak tafsir, bukanlah sekadar jeda dari lapar. Ia adalah penundaan dari keinginan untuk selalu benar. Sebuah latihan sunyi yang, seperti diingatkan Al-Ghazali, bukan pertama-tama menyentuh tubuh, melainkan kehendak—yang sering lebih liar dari rasa lapar itu sendiri.
Kita ingin menang.
Keinginan itu diam-diam menyusup ke mana-mana: ke dalam doa, ke dalam maaf, bahkan ke dalam kesunyian. Kita memohon ampun, tapi masih berharap menjadi pihak yang dibenarkan. Seolah-olah pengampunan adalah pengadilan, dan kita diam-diam ingin keluar sebagai pemenang.
Di titik itu, Idul Fitri menjadi ganjil jika dibaca sebagai perayaan kemenangan.
Ia lebih menyerupai sebuah pengakuan—bahwa kita belum selesai. Bahwa pulang bukanlah peristiwa yang sekali jadi, melainkan perjalanan yang berulang, penuh salah arah dan lupa jalan. Seperti dalam sajak-sajak Jalaluddin Rumi, luka bukanlah akhir, melainkan celah—tempat cahaya masuk, tempat sesuatu yang retak justru menjadi kemungkinan. Maka maaf yang kita ucapkan hari ini mungkin bukan tanda bahwa semuanya telah sembuh.
Ia adalah kesediaan untuk membuka kembali apa yang pernah kita tutup rapat. Sebuah keberanian untuk tidak lagi berpura-pura utuh. Sebab yang retak, yang belum selesai, yang belum sempat kita pahami—justru itulah yang membuat kita manusia.
Idul Fitri, dengan demikian, bukan tentang siapa yang menang. Ia tentang siapa yang berani berhenti sejenak dan berkata: aku masih belajar. Belajar pulang. Belajar mengakui bahwa dalam diriku masih ada yang belum rapi. Belajar memahami bahwa memaafkan orang lain sering lebih mudah daripada memaafkan diri sendiri.
Dan mungkin, justru di situlah kemenangan kecil itu bermula—bukan ketika kita berdiri di atas orang lain, melainkan ketika kita tidak lagi merasa harus selalu menang.
Selamat Idul Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin—atas segala luka yang mungkin tak terlihat.





Comments are closed.