
Pulang subuhan saya nlusup nlusup lewat kebun belakang rumah Lik Mitro dan Mbah Pademo, kemudian melintas rumah halaman Yu Beruk untuk memangkas jalan menuju rumah. Aktivitas menyambut lebaran warga RT saya sudah mulai nampak. Pagi-pagi ini Lik Mitro sudah terlihat ngekrek janur dari pelepahnya, untuk nanti dibikin selongsong ketupat. Mbah Arjo terlihat di serambi belakang sedang marut kambil, nampaknya akan bikin santan untuk masak opor ayam.
Setelah menyeberang jalan saya melihat Lik Plenthi seorang diri ngangkat-ngangkat perabot rumah yang sudah usang untuk diletakkan di serambi samping rumah. Rumahnya kelihatan kosong, lega, dan luas. Tetapi aneh menurut pandangan banyak orang termasuk saya. Di saat orang-orang pada sibuk beraktivitas menyambut lebaran, termasuk ada yang menambah perabot rumahnya, eeee ini kok Lik Plenthi malah mengosongkan rumahnya.
Maka saya sempatkan mampir barang sejenak untuk ngobrol.
“Eeee eee ada Mas Dokter, ayo mampir, sudah lama ndhak ketemu,”
sapa Lik Plenthi dari belakang saya, ketika saya mengendap-endap hendak melihat apa yang ada di dalam rumah.
“Walahhh… sampeyan ki lho Lik bikin kaget saja,” jawab saya.
“Sini masuk, masuk… duduk di bawah ya,” sambut Lik Plenthi.
“Iya Lik…, kok ini…”saya tak melanjutkan pertanyaan saya karena masih ragu.
“Kok apa…Mas dokter,” sahut Lik Plenthi.
Nah ini kesempatan saya untuk langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa maksudnya.
Saya meletakkan pantat saya di alas tikar pandan yang dingin. Ruangan dengan ukuran 4x6m yang ditinggali Lik Plenthi seorang diri nampak kelihatan lapang, karena tak ada satu perabot pun yang ada di dalam ruangan itu. Semua sudah dikeluarkan di samping rumah. Ada satu set meja kursi, dipan, lemari tua dari bambu yang sudah sebagian dimakan rayap.
Pemandangan yang sangat kontras dengan tetangga di samping kiri kanannya, di mana hampir semua orang beraktivitas untuk menyambut lebaran dengan segala aktivitasnya. Tetapi Lik Plenthi malah mengosongkan rumahnya. Tidak bikin aktivitas menyambut lebaran sebagaimana orang lain melakukannya. Bikin ketupat kek, masak kek atau apalah yang menggambarkan keriangan menyambut lebaran.
“Lik, kok Sampeyan tidak bikin kupat? Tidak bikin opor? Malah perabot rumah dikeluarkan, di mana nanti akan meletakkan toples nastar, kacang dan emping sebagaimana lebaran taun tahun lalu?”
Saya berondong Lik Plenthi dengan pertanyaan-pertanyaan itu saking penasarannya saya dengan fenomena di rumah Lik Plenthi ini.
“Mas dlDokter…., maaf ya…, menurut saya akhir Ramadlan dan kemudian awal Syawal dengan Idul Fitrinya, tidak lalu disambut dengan kembul bujana, makan kupat – opor sekenyang-kenyangnya, ngemil kacang mete, emping, nastar ataupun roti coklat sampai perut penuh….”
“Bukan itu saya memaknai ‘fitri kembali’,” lanjut Lik Plenthi.
“Lalu…..? Saya kok belum paham Lik, maafkan otak saya yang bebal ini!” jawab saya.
“Mas Dokter lihat, kenapa saya mengeluarkan perabot lama saya ini” tanya Lik Plenthi.
“Itulah yang ingin saya tanyakan, dan kenapa saya pagi-pagi ini mampir ke sini,” jawab saya.
“Yang saya kerjakan dengan mengosongkan rumah ini hanyalah simbolik saja, agar ponakan-ponakan yang datang besok pas lebaran bisa paham makna puasa yang mereka kerjakan!” terang Lik Plenthi.
“Mas dokter sudah dan sedang berpuasa kan?” tanya lik Plenthi.
Saya mengangguk pelan, dan tambah bingung dengan pertanyaan ini.
“Apa makna dan tujuan Mas Dokter berpuasa?” tanya Lik Plenthi.
“Lhaaa…, bukankah puasa untuk menahan diri Lik? Dan agar kita mencapai derajat takwa!” jawab saya yakin.
Namun Lik Plenthi ternyata mempunyai jawaban yang mengagetkan saya.
“Mas, dalam puasa, manusia tidak hanya menahan makan minum syahwat, tetapi juga amarah, kesombongan dan ego. Secara spiritual puasa adalah dekonstruksi ego manusia. Ego biasanya dibangun oleh kebutuhan fisik kepemilikan keinginan. Ketika semua itu dibatasi, manusia mengalami kesadaran eksistensial bahwa dirinya lemah dan bergantung pada Tuhan.
Puasa adalah tahap pembersihan diri dari dominasi nafsu. Puasa adalah proses pengosongan diri (Takhalli), sehingga kalau diri ini sudah ‘kosong’ maka kita siap menerima isian yang sejati, sang empunya diri kita, Nur Ilahi.”
“Inilah simbol kekosongan ruang ini, sehingga kalau ruang ini kosong, maka ruang ini siap menerima perabot yang baru yang lebih indah,” papar Lik Plenthi.
Wajahnya serius, tetapi penyampaiannya sangat lembut dan pelan.
“Nah…,” sambungnya.
“Setelah diri kita kosong, maka kita mulai isi dengan isian-isian yang kita kerjakan selama Ramadlan ini. Isian spiritual, agar komunikasi kita dengan Tuhan akan semakin nyata. Kita berusaha menyamakan frekuensi kita yang sangat rendah ini dengan frekuensi Tuhan yang sangat tinggi.”
“Bagaimana caranya? Yaa kita isi dengan kegiatan kegiatan spiritual seperti Tarawih, kemudian Tadarus Qur’an, yang bukan sekadar membunyikan huruf, tetapi bagaimana kita menyerap nilai wahyu, sehingga cara pikir dan tujuan hidup kita di-reset oleh nilai wahyu dari Qur’an. Guru-guru saya bilang ini adalah Tahalli (menghias diri), tentu dengan hal yang baik.”
“Jelek jelek gini saya pernah nyantri lho Mas Dokter….”
Saya tak bisa berkata-kata mendengar wejangan Lik Plenthi, yang jauh dari perkiraan saya semula.
“Mas Dokter, saya lihat beberapa hari terakhir ini selalu datang ke masjid jam dua pagi, dan pulang ke rumah jam tiga, apa yang Mas Dokter lakukan? Bukankah Mas Dokter melakukan retreat spiritual? Mas Dokter sesaat menarik diri dari kesibukan sosial dan duniawi, melakukan kontemplasi total yang disebut dengan i’tikaf. Apa sih tujuannya?’ Lik Plenthi nyerocos tak terbendung.
“Mas Dokter berusaha mencapai kesunyian batin, karena dalam kesunyian ini Mas Dokter menjadi lebih peka akan kehadiran Tuhan. Lailatul qadar. Itulah Tajalli, hati berhasil menyingkap kehadiran nur ilahi.”
“Sesudah itu, datanglah Idul Fitri…!”
“Bagi saya Mas, Idul Fitri adalah awal saya untuk memulai perjalanan hidup sesungguhnya.”
“Bukan perayaan, bukan pesta, bukan makan ketupat dengan opor ayam, bukan pula acara pembagian ‘ang pao’ kepada anak – ponakan.”
“Idul Fitri adalah momen reintegrasi sosial dengan kesadaran baru hasil gemblengan kawah Ramadlan sebulan.”
“Saya butuh ‘baju kerja’ bukan baju baru.
Saya butuh energi baru, bukan dua piring ketupat lontong dan sambal kreni. Saya butuh meja kosong untuk bisa menaruh bunga kasturi, bukan meja yang berisi 1001 macam makanan bergizi. Saya butuh ruang kosong, agar ada tempat untuk hadirnya Nur ilahi.”
“Jadi tujuan akhir praktik spiritual sebulan yang Mas Dokter lakukan itu bukan untuk menjauhi dunia, melainkan untuk kembali ke dunia nyata dengan kualitas lebih baik.”
“Gemblengan sebulan diharapkan tercermin dalam perilaku sosial yang lebih empatik, adil, dan penuh kepedulian.”
“Nabi tak pernah mencontohkan idul fitri dengan baju baru, tetapi hatimu dan cara pandang hidupmu yang baru. Nabi tak pernah mencontohkan menyambut idul fitri dengan pesta pora, tetapi cukup dengan makan kurma satu biji atau tiga.”
Lik Plenthi kemudian diam. Saya pun tambah terdiam, menghayati apa yang Lik Plenthi katakan. Masuk ke kalbu, sangat berisi, dan selalu terngiang.
Pertemuan saya dengan Lik Plenthi sepertinya sudah diatur oleh Allah. Lik Plenthi yang kutemui kali ini memang dikirim untuk menyadarkan saya akan esensi ‘kembali fitri’. Akan saya ingat betul pelajaran perjalanan spiritual dari Lik Plenthi yaitu: Takhalli – Tahalli – Tajalli.
Taqobbalallahu Minna wa Minkum
Minal ‘Aidin Wal Faizin





Comments are closed.