KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat hingga 27 Maret 2026 belum ada satu pun perusahaan yang resmi mencatatkan saham atau initial public offering (IPO) di pasar modal domestik. Dengan demikian, dana yang berhasil dihimpun dari aksi penawaran saham perdana masih nol.
Meski demikian, aktivitas pasar modal tidak sepenuhnya sepi. BEI saat ini memiliki pipeline atau daftar antrean perusahaan yang sedang dalam proses menuju pencatatan saham.
Secara sederhana, pipeline adalah kumpulan perusahaan yang sedang mempersiapkan diri untuk melantai di bursa, mulai dari tahap awal seperti pengajuan dokumen hingga proses evaluasi oleh regulator sebelum resmi IPO.
Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan jumlah perusahaan dalam pipeline IPO saat ini mencapai 12 entitas. “Saat ini terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip Ahad, 29 Maret 2026.
Dari total tersebut, mayoritas didominasi oleh perusahaan beraset besar. Sebanyak 11 perusahaan tercatat memiliki aset di atas Rp250 miliar, sementara satu perusahaan masuk kategori aset menengah dengan rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tidak ada perusahaan dengan skala aset kecil di bawah Rp50 miliar dalam antrean IPO tahun ini.
Jika dilihat dari sektornya, pipeline IPO BEI menunjukkan dominasi sektor consumer non-cyclicals dengan porsi 3 perusahaan atau sekitar 25 persen. Sektor ini umumnya berisi perusahaan yang produknya tetap dibutuhkan masyarakat dalam kondisi ekonomi apa pun, seperti makanan dan kebutuhan pokok.
Selain itu, sektor healthcare, infrastructures, dan technology masing-masing menyumbang 2 perusahaan atau sekitar 16,7 persen. Sementara sektor energy, financials, serta transportation and logistic masing-masing diwakili oleh 1 perusahaan atau sekitar 8,3 persen.
Di sisi lain, sejumlah sektor justru belum memiliki kandidat IPO dalam pipeline, seperti basic materials, consumer cyclicals, industrials, serta properties dan real estate. Kondisi ini mencerminkan masih selektifnya minat perusahaan dari sektor-sektor tersebut untuk masuk ke pasar modal di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Tidak hanya saham, BEI juga mencatat aktivitas pipeline pada instrumen obligasi atau efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Hingga akhir Maret 2026, telah diterbitkan 45 emisi dari 30 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp50,87 triliun.
Sementara itu, dalam pipeline obligasi terdapat 28 emisi dari 20 penerbit yang tengah dalam proses penerbitan. Sektor financials menjadi yang paling dominan dengan 10 perusahaan, diikuti sektor infrastructures sebanyak 6 perusahaan. Kemudian sektor energy menyumbang 2 perusahaan, sementara basic materials dan consumer non-cyclicals masing-masing 1 perusahaan.
Adapun untuk aksi korporasi rights issue, BEI mencatat sepanjang tahun berjalan telah ada 3 perusahaan tercatat yang melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu dengan total nilai Rp3,75 triliun.
Rights issue sendiri merupakan aksi korporasi di mana perusahaan menawarkan saham baru kepada pemegang saham lama untuk mendapatkan tambahan modal.
Ke depan, pipeline rights issue masih menyisakan 1 perusahaan yang berasal dari sektor properties dan real estate. Hal ini menunjukkan bahwa sektor properti masih berupaya memperkuat struktur permodalan di tengah tantangan likuiditas dan suku bunga.
Sebagai latar belakang, pasar modal Indonesia tengah memasuki fase pasca reformasi regulasi, termasuk penerapan ketentuan free float minimum sebesar 15 persen oleh BEI guna meningkatkan likuiditas saham dan kualitas perdagangan di bursa.
April 2026 diproyeksikan menjadi momentum IPO perdana tahun ini dengan kehadiran emiten sektor transportasi dan logistik, yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk. Perseroan menawarkan sebanyak 18.000.000 lot saham kepada publik dengan kisaran harga Rp150 hingga Rp170 per saham, yang merepresentasikan free float sebesar 20,75 persen atau telah melampaui ketentuan minimum bursa sebesar 15 persen.
Dalam proses penawaran umum ini, perusahaan menunjuk PT Semesta Indovest Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek sekaligus admin partisipan, serta PT OCBC Sekuritas Indonesia sebagai penjamin emisi lainnya.
Masa penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 1 April hingga 8 April 2026, dengan pencatatan saham di BEI pada 10 April 2026. Kehadiran WBSA diharapkan menjadi pembuka keran IPO tahun ini sekaligus mencerminkan implementasi aturan baru free float di pasar modal Indonesia.(*)





Comments are closed.