Mubadalah.id – Di sebuah gang permukiman yang cukup tenang di sudut kota, kami sebut Gang Buntu, sesuai namanya, kalau kita masuk dan mengikuti jalannya sampai ujung. Tidak akan ada lagi cabang jalan lain. Gang itu berakhir tepat di sebuah rumah yang menghadap ke arah barat.
Dari kejauhan orang asing mungkin akan melihatnya sebagai jalan mati yang tidak menawarkan apa-apa. Tapi bagi saya, Gang Buntu adalah saksi betapa hangatnya sebuah penerimaan.
Ruang Aman di Ujung Gang Buntu
Ada pemandangan yang mungkin bagi sebagian orang luar terasa ganjil, tapi bagi saya cukup mengharukan. Pagi itu, saya kembali melihat seorang anak duduk di roda tepat di depan rumah tetangga. Ibu/ nenek yang menjaga meninggalkannya sebentar. Bukan karena lalai, tapi karena percaya. Sementara itu si anak asyik berjemur sambil disapa orang-orang yang lewat.
Kalau kita memakai kacamata skeptis, mungkin kita akan bertanya “Kok ibu/ neneknya tega meninggalkan anak/ cucu sendiri di ujung jalan gang?” Tapi bagi saya yang melihatnya hampir setiap hari, ini adalah bukti nyata dari kepercayaan (trust) dan kesalingan.
Para tetangga merangkul keberadaan anak tersebut sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang sekaligus membentuk ikatan rasa keluarga sesama penduduk di gang kecil.
Bahkan tidak jarang, nenek dari anak tersebut kerap mengajak cucunya pergi menghadiri pengajian tadarus Al-Qur’an ketika bulan Ramadan. Ibu-ibu yang hadir di pengajian bahkan turut antusias menyambut dan memberikan do’a dengan hangat.
Di Gang Buntu ini anak tersebut bukanlah sebuah objek kasihan, melainkan subjek yang punya hak untuk ada, saling menyapa, bersama-sama membersamai dan dibersamai.
Relasi Setara di Al Mashduqi
Cerita di Gang Buntu itu juga mengingatkan keseharian saya sebagai salah satu pengajar di Lembaga Pendidikan SMP dan MA Al Mashduqi. Sekolah kami berbagi lingkungan dan selasar, lorong penghubung antar gedung dengan teman-teman dari Sekolah Luar Biasa (SLB).
Saya sering memperhatikan bagaimana suasana di sana mengalir begitu saja tanpa sekat. Pak Satpam, guru-guru, petugas kebersihan, dan anak-anak SMP maupun MA menyambut mereka dengan interaksi hangat, anak-anak SLB menyapa orang-orang yang mereka temui dengan riang.
Yang paling berkesan adalah ketika melihat interaksi atau moment mata pelajaran olahraga di antara siswa disabilitas itu sendiri. Ada yang di kursi roda, ada yang mengobrol pakai bahasa isyarat, mereka saling mengajak dan memberikan support satu samalain dengan cara uniknya masing-masing.
Kehadiran mereka ditengah-tengah siswa SMP dan MA menjadikan lingkungan sekolah sebagai laboratorium karakter yang berharga.
Relasi Setara yang Berkeadilan
Ada satu moment yang selalu membuat kami, guru-guru tersenyum di ruang guru. Jangan bayangkan ruang guru di sekolah kami tertutup rapat dan kaku. Tidak jarang, ada saja siswa SLB yang tiba-tiba masuk. Ada yang cuma melihat-lihat, ada yang senang sekedar naik-turun tangga dan duduk berdiam ditengah.
Alih-alih menyuruh mereka keluar karena alasan salah tempat atau sibuk rapat, kami biasanya mendekati anak tersebut dan bertanya sedang melakukan apa? Mencari apa? Mau jajan apa? Atau mengajaknya untuk kembali bertemu teman-teman lain dan guru pendampingnya.
Bagi saya ini merupakan bentuk relasi setara yang berkeadilan, ketika kita melakukan penerimaan tanpa stigma. Kita mengakui martabat mereka sebagai manusia yang memiliki hak yang sama untuk mengakses sudut manapun di sekolah ini.
Refleksi Benang Merah
Di dua ruang itu, Gang Buntu tempat saya tinggal dan selasar sekolah, saya menemukan satu hal serupa, yaitu penerimaan kehadiran yang tanpa syarat. Dalam diam saya bertanya, apakah ini yang kita sebut inklusi? Atau ada sesuatu yang lebih dalam dari sekedar hidup berdampingan?
Di lingkungan tempat tinggal saya, tidak ada yang menyebut praktik itu sebagai inklusi. Tidak ada kurikulum, tidak ada program Khusus. Namun, kepercayaan tumbuh, kebiasaan terbentuk, dan relasi berjalan tanpa kecanggungan.
Sementara di sekolah, inklusi hadir dalam bentuk yang lebih sadar: mendapat sambutan, terarah, dan terjaga dalam batas-batas tertentu. Keduanya sama-sama saling menghidupkan, namun dengan cara yang berbeda.
Refleksi berikutnya adalah bagaimana cara membawa suasana hangat di gang dan sekolah tadi ke ruang publik yang lebih luas.
Dalam kacamata relasi kesalingan, inklusi tidak berhenti pada penerimaan. Ia bergerak menuju relasi yang hidup. Di mana setiap individu tidak hanya kita beri ruang, tetapi juga terakui sebagai bagian yang memengaruhi dan terpengaruhi. Bukan sekedar tentang kita menerima mereka, tapi tentang kita saling hadir dalam kehidupan satu sama lain. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah Goes to Community Garut, kerjasama media Mubadalah dengan Universitas Garut.





Comments are closed.