Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Masyarakat Modern dan Matinya Kepakaran Islam

Masyarakat Modern dan Matinya Kepakaran Islam

masyarakat-modern-dan-matinya-kepakaran-islam
Masyarakat Modern dan Matinya Kepakaran Islam
service

Mubadalah.id – Di tengah arus pengetahuan yang semakin kompleks, kita berhadapan dengan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak berpijak kepada arah dan otoritas yang jelas. Lembaga pendidikan seperti universitas hanya fokus mencetak gelar tetapi lupa degan misi keilmuan yang harus terbangun. Hari ini, yang mengadopsi pengetahuan bukan hanya pendidikan tetapi sudah menjadi media masa yang siapa saja boleh berbicara pengetahuan.

Padahal, dahulu, untuk mendapatkan fatwa atau penjelasan mengenai pengetahuan atau hukum Islam yang rumit, seseorang harus menempuh perjalanan jauh demi menemui seorang yang ahli atau ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Proses ini tidak mudah karena  melibatkan filter sosial dan intelektual yang ketat. Hanya mereka yang benar-benar teruji kapasitasnya yang terakui sebagai pakar.

Namun, hari ini, benteng otoritas tersebut tampak runtuh. Fenomena yang Tom Nichols sebut sebagai “The Death of Expertise” (Matinya Kepakaran) kini merambah ke dunia Islam. Yang di mana arus informasi digital yang masif sering kali menenggelamkan suara-suara jernih para ahli di balik kebisingan opini publik.

Pergeseran Otoritas: Dari Sanad ke Algoritma

Penyebab utama dari merosotnya posisi pakar Islam dalam masyarakat modern adalah demokratisasi informasi yang kebablasan. Internet telah mengubah cara manusia mengonsumsi ilmu agama. Sekarang, setiap orang memiliki akses langsung ke teks-teks primer tanpa perlu melalui guru atau metodologi yang tepat. Akibatnya, terjadi “banalisasi agama”, di mana masalah teologis yang kompleks diperlakukan seperti komoditas yang bisa terpilih sesuai selera pasar.

Dalam masyarakat modern yang serba cepat, kedalaman ilmu sering kali terkalahkan oleh kecepatan dan gaya penyampaian. Seorang tokoh yang memiliki jutaan pengikut di media sosial, meski mungkin minim latar belakang pendidikan formal Islam (seperti penguasaan bahasa Arab, ushul fiqh, atau musthalah hadits), bisa mereka anggap lebih otoritatif daripada seorang doktor di bidang syariah.

Algoritma media sosial tidak bekerja berdasarkan kebenaran substansial, melainkan berdasarkan keterlibatan (engagement). Siapa yang paling provokatif, paling “relate”, atau paling fasih berbicara dalam durasi 60 detik, dialah yang menjadi rujukan utama.

Ilusi Pengetahuan

Ini tentu bukan masalah satu-satunya yang lahir dalam perkembangan pengetahuan abad ini. Kita bisa megamati bahwa Masyarakat modern hari ini menderita apa yang dalam psikologi disebut sebagai Dunning-Kruger Effect, di mana seseorang yang hanya tahu sedikit tentang suatu subjek merasa sangat ahli.

Dengan membaca satu atau dua artikel singkat atau menonton potongan video pendek, seseorang merasa sudah cukup kompeten untuk mendebat pendapat imam-imam besar atau cendekiawan yang telah menghabiskan puluhan tahun meneliti satu bab ilmu.

Dalam kasus ini,  diperparah oleh semangat anti-elitism yang memandang pakar sebagai sosok yang kaku, tradisional (konservatif), dan tidak relevan. Masyarakat modern cenderung mencari pembenaran atas gaya hidup mereka. Bukan mencari bimbingan untuk memperbaiki diri. Hal ini melahirkan apa yang kita sebut sebagai “pasar agama”, di mana menentukan kepakaran tidak lagi oleh kualitas keilmuan, melainkan oleh sejauh mana sang tokoh mampu memuaskan keinginan audiensnya.

“Matinya kepakaran” bukan sekadar masalah hilangnya kepercayaan bagi para ulama, tetapi juga ancaman nyata bagi stabilitas sosial. Ketika kepakaran terabaikan, tafsir-tafsir agama menjadi liar. Fenomena radikalisme sering kali berakar dari pemahaman agama yang dangkal dan terputus dari tradisi intelektual Islam yang moderat. Tanpa bimbingan pakar yang memahami konteks sejarah dan metodologi pengambilan hukum, ayat-ayat suci sering kali “dipersenjatai” untuk kepentingan politik atau kebencian.

Selain itu, masyarakat modern kehilangan kedalaman spiritual. Agama tidak lagi menjadi perjalanan intelektual dan batin yang mendalam, melainkan sekadar rangkaian kutipan motivasi yang hambar. Kepakaran Islam yang sesungguhnya bukan hanya soal menghafal teks, tetapi tentang kemampuan melakukan ijtihad, mendialogkan teks suci dengan realitas zaman yang terus berubah tanpa menghilangkan esensi ketuhanan.

Krisis Otoritas Keilmuan

Menghadapi tantangan ini, dunia Islam tidak bisa sekadar bernostalgia pada masa lalu. Para pakar dan lembaga pendidikan Islam tradisional harus mulai beradaptasi dengan bahasa masyarakat modern. Kepakaran harus mampu hadir di ruang-ruang digital tanpa harus kehilangan integritas ilmiahnya. Ilmu agama harus kita kemas secara menarik namun tetap berbasis pada metodologi yang ketat (manhaj).

Di sisi lain, masyarakat perlu kita didik kembali tentang etika menuntut ilmu (adab al-‘alim wa al-muta’allim). Menghargai pakar bukan berarti mengikuti secara buta (taklid), melainkan mengakui bahwa ada disiplin ilmu tertentu yang memerlukan dedikasi waktu dan ketekunan untuk kita kuasai. Membedakan antara “informasi” dan “ilmu” adalah langkah pertama untuk menghidupkan kembali otoritas intelektual dan keilmuan.

Dalam hal ini, matinya kepakaran Islam dalam masyarakat modern adalah cerminan dari krisis otoritas keilmuan yang lebih luas di era disrupsi. Ketika semua orang merasa berhak berbicara tentang segalanya tanpa dasar, yang tercipta bukanlah kemajuan melainkan kekacauan berpikir.

Islam, sebagai agama yang sangat menghormati ilmu dan juga memuliakan pemiliknya, dan umat Islam dituntut untuk merujuk pada ahli ilmu. Menghidupkan kembali kepakaran berarti menyalamtkan wajah agama dari penyempitan makna dan memastikan bahwa cahaya ilmu tetap hidup di tengah rimbunya informasi yang meyesatkan. Tanpa pakar, agama hanya menjadi gema dari prasangka kita sendiri. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.