Mengapa kisah cinta sesama laki-laki dalam tayangan ini justru terasa lebih aman, menyenangkan, dan memuaskan bagi penonton perempuan?
Lihatlah serial “Heated Rivalry” yang bukan hanya sekadar novel romance. Serial ini seperti menjadi bahasa kultural tentang keinginan perempuan untuk mencintai, dan bermimpi tanpa harus selalu mengorbankan dirinya sendiri.
Lewat kisah dua atlet hoki laki-laki, Serial “Heated Rivalry” menjadi ruang aman imajinatif bagi perempuan untuk menikmati cinta tanpa stereotip gender.
Belakangan ini, serial Heated Rivalry bukan cuma jadi tontonan populer di kalangan penggemar romance, tetapi juga menjadi ruang diskusi panas di internet, terutama di antara penikmat gay romance atau yang kerap disebut sebagai Boy’s Love (BL) dan male-male romance.
Serial asal Kanada yang diadaptasi dari novel ini mengisahkan rivalitas sekaligus hubungan romantis dua pemain hoki profesional, Shane Hollander dan Ilya Rozanov. Shane adalah atlet berdarah Jepang-Kanada, sementara Ilya berasal dari Rusia. Keduanya bermain untuk tim yang saling bersaing, sehingga hubungan mereka sejak awal dibentuk oleh ketegangan antara kompetisi, ego, dan ketertarikan personal yang tak terhindarkan.
Diadaptasi dari novel kedua dalam seri Game Changers karya Rachel Reid, Heated Rivalry membawa dunia olahraga yang maskulin ke dalam narasi romansa queer yang intim dan emosional.
Ceritanya bergerak dari kompetisi, hingga negosiasi perasaan yang rumit antara dua atlet yang hidup di bawah sorotan publik dan tekanan karier profesional.
Baca juga: Film ‘Na Willa’ Mengajak Kita Menjadi Anak Perempuan dengan Dunia yang ‘Sempurna’
Sejak tayang perdana pada 28 November lalu, serial ini cepat menarik perhatian audiens dari berbagai demografi. Jacob Tierney, kreator Heated Rivalry, mengadaptasi novel tersebut setelah membacanya di masa pandemi Covid-19. Dari teks yang awalnya hanya dinikmati pembaca, Tierney berhasil menerjemahkannya ke layar menjadi kisah romansa laki-laki queer yang hangat, rapuh, tanpa kehilangan denyut kompetitif dunia hoki yang jadi latarnya.
Di media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram, percakapan tentang Heated Rivalry ramai digerakkan oleh penonton sekaligus pembaca perempuan.
Sejak lama, genre romance memang didominasi audiens perempuan, sehingga ketertarikan mereka pada male-male romance atau MM romance bukanlah hal baru. Audiens perempuan tidak hanya mengonsumsi cerita, tetapi juga “menghidupkan” fandom-nya. Mereka mengekspresikan ketertarikan itu lewat berbagai bentuk kreasi, mulai dari menulis fanfiction, membuat fan edit, hingga merangkai potongan adegan yang emosional atau sensual yang kini marak beredar di TikTok dan Instagram.
Audiens perempuan tertarik secara emosional, bukan semata karena chemistry dua tokohnya, tetapi karena relasi yang ditawarkan terasa berbeda dari romansa arus utama yang biasa menempatkan perempuan dalam posisi tertentu.
Baca juga: Bridgerton Season 4, Kisah Cinta Yang Melegitimasi Ketimpangan Kelas dan Rapuhnya Kedaulatan Perempuan
Dengan perempuan yang menikmati genre MM romance, hal ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Mengapa kisah cinta sesama laki-laki justru terasa lebih aman, menyenangkan, dan memuaskan bagi penonton perempuan dibandingkan banyak cerita cinta heteroseksual yang selama ini dianggap mewakili pengalaman mereka?
Ketertarikan perempuan pada Heated Rivalry sebenarnya tidak berdiri sendiri. Serial ini hadir dalam tradisi panjang genre gay romance yang telah lama dikonsumsi dan dikembangkan oleh perempuan.
Dalam budaya populer Asia, genre ini dikenal luas sebagai Boy’s Love atau BL, yang juga disebut danmei, tanbi, atau yaoi (Madill & Cardo, 2020, h.1). Kehadiran Heated Rivalry di ruang global hari ini bisa dibaca sebagai kelanjutan dari sejarah panjang bagaimana perempuan menemukan ruang imajinatif melalui cerita cinta sesama laki-laki. Pengaruh BL pun meluas melampaui penggemar awalnya dan menjangkau pengguna internet umum yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan khusus pada genre ini.
Perempuan memang sudah lama menjadi penikmat utama genre romance. Namun, romansa heteroseksual sering datang bersama beban: perempuan digambarkan sebagai pengelola emosi, pihak yang harus memahami, memaafkan, dan mengorbankan diri agar hubungan berjalan.
Tokoh perempuan kerap menjadi penyangga psikologis tokoh laki-laki, bukan subjek yang utuh dengan konflik dan hasratnya sendiri.
Cinderella Complex dalam Romansa Heteroseksual
Mengapa perempuan kemudian banyak mengonsumsi queer media salah satunya adalah karena perempuan yang sudah terlalu sering digambarkan sebagai penopang cerita utama sang laki-laki untuk mencapai tujuan kehidupannya.
Hal ini dikenal juga sebagai “Cinderella Complex” yang pertama kali dikenalkan oleh Colette Dowling seorang therapist di New York pada tahun 80an dalam buku Women’s Hidden Fear of Independence. Cinderella Complex sendiri adalah bagaimana perempuan memiliki ketakutan untuk menjadi independen dan tanpa sadar adanya rasa untuk ingin selalu dijaga dan dilindungi (Xu, Zhang, & Wang, 2019, h.3).
Nama Cinderella sendiri sudah tak asing tentunya bagi siapapun yang menyukai kisah putri dan pangeran karangan Disney. Cinderella “menunggu” pangerannya untuk menyelamatkan dia dari cengkeraman ibu dan saudari tirinya. Melalui kisah ini, perempuan diminta untuk menerima semua tekanan yang dia hadapi dan menunggu hari semua akan dibalas dalam bentuk laki-laki. Cinderella berpusat pada asumsi bahwa perempuan harus cantik, sopan, anggun, rajin, dan patuh.
Narasi Cinderella complex ini yang kemudian terus menjadi narasi utama hampir setiap hasil industri media dengan genre romansa. Tokoh perempuan sering dibingkai memiliki ketergantungan emosional pada tokoh laki-laki untuk meraih hidup yang bahagia. Tokoh laki-laki digambarkan dekat dengan petualangan sementara tokoh perempuan lebih diarahkan pada relasi romantis. Hal tersebut menunjukkan bahwa produk budaya kerap menanamkan peran gender stereotipikal ke dalam narasi mereka yang pada akhirnya memunculkan ketimpangan gender (Xu, Zhang, & Wang, 2019, h.1).
Baca juga: Internalized Misogyny dalam Film Perselingkuhan Menjebak Kita Pada Narasi ‘Istri Sah vs Pelakor’
Di sinilah Heated Rivalry terasa berbeda. Hubungan Shane dan Ilya tidak dibangun di atas pembagian peran gender yang timpang. Tidak ada perempuan yang harus menjadi “ibu emosional”, tidak ada tubuh perempuan yang di objektifikasi. Yang ada adalah dua karakter laki-laki dengan ego, trauma, ambisi, dan kerentanan yang sama-sama diberi ruang. Bagi banyak pembaca perempuan, ini menghadirkan fantasi relasi yang tidak dibebani hierarki gender.
Dalam banyak relasi heteroseksual, perempuan secara kultural dituntut menjadi pengelola emosi: menenangkan, memahami, menunggu, dan memaklumi. Beban ini sering hadir juga dalam cerita cinta populer.
Tokoh perempuan digambarkan harus “kuat”, “sabar”, dan “menyelamatkan” laki-laki dari kekosongan hidupnya. Di Heated Rivalry, beban itu tidak jatuh ke satu pihak. Shane dan Ilya sama-sama belajar berkomunikasi, cemburu, takut kehilangan, dan berproses. Tidak ada yang otomatis lebih dewasa hanya karena gendernya.
Bagi pembaca perempuan, ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk imajinasi relasi yang lebih adil. Cinta tidak lagi menjadi pekerjaan sepihak.
Fandom Perempuan dan Ruang Bernafas dari Stereotipe
Diskursus di fandom memperlihatkan bahwa banyak perempuan merasa cerita seperti ini memberi mereka ruang bernapas. Mereka bisa menikmati romansa tanpa harus menempatkan diri sebagai tokoh yang terseret dalam ekspektasi patriarkal.
Hal ini tampak, misalnya, dalam kolom komentar video TikTok yang membahas Heated Rivalry. Seorang pengguna menulis, “girls love BL because we yearn for what they have, the equality in relationship, without compromise and not being belittle,” yang menekankan kerinduan pada relasi yang setara tanpa perendahan.
Komentar lain menambahkan, “portraying men with emotional depth and vulnerability,” yang menunjukkan daya tarik pada representasi laki-laki yang emosional dan rapuh. Bahkan penggemar lama BL selama sepuluh tahun menyatakan persetujuannya terhadap pandangan tersebut. Respons-respons ini memperlihatkan bahwa bagi banyak perempuan, queer romance bukan sekadar hiburan, tetapi ruang imajiner untuk melihat hubungan yang lebih egaliter, bebas dari pola dominasi yang sering hadir dalam romansa heteronormatif arus utama.

Dalam romansa heteroseksual mainstream, perempuan sering diminta membayangkan diri mereka sebagai karakter yang “dipilih”, “diselamatkan”, atau “diubah” oleh laki-laki. Sedangkan dalam Heated Rivalry, perempuan menjadi pengamat yang aman. Tidak ada tubuh perempuan yang harus dikorbankan demi drama. Hal ini juga disadari oleh kreator serial ini Jacob yang mengatakan bahwa perempuan merespons cerita queer karena mengeluarkan mereka dari zona berbahaya (source: https://mega-asia.com/lifestyle/culture/heated-rivalry-women-fantasy/ ). .
Baca juga: ‘The Housemaid’: Cerita PRT dan Lika-Liku Perempuan Lepas dari Jerat KDRT
Hal ini berkaitan juga dengan sejarah panjang genre male-male romance atau slash fiction yang sejak dulu banyak ditulis oleh perempuan untuk perempuan. Bukan karena perempuan ingin menggantikan identitas queer, tetapi karena menulis romansa MM romance membuat perempuan merasa punya kendali atas emosi, hasrat, relasi, dan makna cinta, sambil melawan cara lama yang membatasi perempuan dalam narasi romantis dan seksual (Fang, 2021, h.12). Dengan kata lain, ketertarikan perempuan pada Heated Rivalry bukan soal fetish semata, melainkan tentang pencarian bentuk cinta yang tidak mengurung perempuan dalam peran lama. Ini menjadi semacam kritik kultural yang tidak selalu tersampaikan, tetapi dirasakan.
Dalam banyak romansa di film ataupun novel heteroseksual populer, laki-laki kerap digambarkan dingin, sulit berkomunikasi, dan minim kehadiran emosional, sementara perempuan dituntut sabar dan memahami. Pola ini bukan sekadar kesan subjektif penonton.
Huimin Xu dan kawan-kawannya dalam artikel “The Cinderella Complex: Word embeddings reveal gender stereotypes in movies and books” menganalisis ribuan film dan novel. Ia menemukan adanya asymmetrical emotional dependency, di mana kebahagiaan karakter perempuan jauh lebih dipengaruhi kehadiran laki-laki dibanding sebaliknya. Mereka juga menunjukkan bahwa karakter laki-laki lebih sering didefinisikan lewat aksi, sementara perempuan melalui kualitas relasional dan emosional, dirangkum dalam ungkapan “men act and women appear” (Xu, Zhang, & Wang, 2019, h.8). Artinya, budaya populer memang membangun laki-laki sebagai subjek yang tidak dituntut kerja emosional, sementara perempuan diposisikan sebagai pihak yang memahami, menunggu, dan mengelola perasaan.
Mencari Representasi yang Tidak Melelahkan
Heated Rivalry menawarkan kebalikan dari pola narasi arus utama. Dominasi dan maskulinitas Ilya tidak menjadi pusat cerita sebagaimana dalam banyak romansa konvensional. Serial ini tetap menampilkan sisi Ilya sebagai laki-laki biseksual yang rapuh, terjebak antara hasrat, ketakutan, dan tekanan keluarganya, sekaligus seseorang yang diam-diam menginginkan kelekatan emosional, bukan sekadar kemenangan atau kontrol.
Shane pun demikian, dengan identitasnya sebagai atlet Asian-Canadia yang menjadi beban representasi baginya. Perspektif ini membuat Shane dan Ilya hadir sebagai subjek yang utuh, masing-masing berhadapan dengan konflik batin, keluarga, dan karier. Relasi mereka tidak hanya dipenuhi ketegangan erotik, tetapi juga emosional. Keberanian mereka untuk membuka diri, mengakui ketakutan, dan hadir bagi satu sama lain.
Representasi laki-laki yang emosional dan hadir secara afektif dalam Heated Rivalry seperti dihadirkan sebagai respons terhadap kejenuhan pada figur laki-laki yang dingin dan tertutup dalam romansa populer. Hal ini juga disadari oleh salah satu pemerannya, François Arnaud, yang mengatakan, “Women, but really everyone, is really tired of emotionally unavailable men. To see people open up in that way and characters show up emotionally on TV is a rarity. And I think we’re ready for it.”
Lalu, fenomena ini juga memperlihatkan kegagalan industri budaya pop dalam menyediakan romansa heteroseksual yang benar-benar setara.
Jika perempuan lebih nyaman menikmati hubungan dua laki-laki ketimbang membaca kisah perempuan dan laki-laki, berarti ada sesuatu yang salah dalam cara perempuan selama ini direpresentasikan. Bukan penontonnya yang bermasalah, melainkan imajinasi romantis yang ditawarkan kepada mereka terlalu sempit.
Baca juga: Gwan-sik dan Standar Baru Laki-laki Sehat Emosional

Maka, popularitas Heated Rivalry di kalangan perempuan bisa dibaca sebagai sinyal budaya. Perempuan bukan hanya mencari cerita menarik atau menghibur, tetapi juga narasi yang tidak menguras emosi mereka secara struktural. Mereka ingin membaca cinta tanpa harus menanggung beban moral, psikologis, dan gendered expectation yang biasa dilekatkan pada tokoh perempuan.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi mengapa perempuan menyukai Heated Rivalry, tetapi mengapa begitu sedikit cerita cinta yang memberi perempuan ruang aman seperti itu.
Jika budaya pop terus menulis perempuan sebagai alat naratif, bukan subjek utuh, maka wajar jika perempuan mencari rumah emosionalnya di cerita yang tidak menjadikan perempuan sebagai tokoh utamanya.
Dan di situlah Heated Rivalry menjadi lebih dari sekadar novel romance. Ia menjadi bahasa kultural tentang keinginan perempuan untuk mencintai, dan bermimpi tanpa harus selalu mengorbankan dirinya sendiri.
Referensi:
Fang, Y. (2021). Blurring boundaries: How writing slash fanfiction empowers young women in Mainland China. Columbia Undergraduate Research Journal, 5(1).
Madill, A., Ross, K., & Cardo, V. (2020). The yaoi/Boys’ Love/danmei audience. Encyclopaedia of gender, media and communication. Wiley, Blackwells.
Xu, H., Zhang, Z., Wu, L., & Wang, C. J. (2019). The Cinderella Complex: Word embeddings reveal gender stereotypes in movies and books. PloS one, 14(11), e0225385.
Sumber foto cover: imdb
(Editor: Luviana Ariyanti)





Comments are closed.