Mubadalah.id – Bulan Syawal alias bulan lebaran telah lewat. Kini, umat Islam sudah memasuki bulan Dzulqaidah, satu dari empat bulan mulia (arba’atun hurum) yang Allah hadiahkan kepada hamba-Nya, selain bulan Dzulhijjah, Muharram, serta Rajab.
Namun, penting kiranya untuk berefleksi tentang perayaan lebaran di berbagai penjuru dunia tahun ini. Misalnya, ledakan demi ledakan membumbung ke langit Yerusalem tatkala para jemaah salat Idulfitri berkumpul di sekeliling Masjidil Aqsa.
Takbir menggema bersama hamburan jemaah yang lari oleh rasa takut. Jumat (20/3) pagi waktu setempat, militer Israel menembakkan gas air mata untuk mencegah para jemaat mendirikan salat idulfitri. Padahal, bagi umat Islam di manapun, lebaran idulfitri merupakan salah satu momen istimewa.
Selepas sebulan berpuasa, beridulfitri menjadi momen paling membahagiakan. Di hari inilah syiar Islam tegak berdiri bersama gema takbir, tahlil, serta tahmid memuji Sang Empunya Jagad sedari tenggelamnya surya hingga naiknya imam ke mimbar khutbah.
Idulfitri adalah momen penyucian diri dan perayaan atas nikmat dan ampunan tuhan. Secara bahasa, id dalam bahasa Arab memang berarti kembali. Sementara, kata fithri bermakna ciptaan. Sehingga. ketika keduanya ber-idhafah (joinment), maknanya kurang lebih menjadi kembali kepada ciptaan awal.
Maksudnya, seseorang bersih dan suci tanpa noda dosa seperti saat pertama kali lahir ke muka bumi dalam wujud sesosok bayi kecil. Namun, luka di Yerusalem, di tepi-tepi Masjidil Aqsa, damai kesucian itu tak ada. Anak kecil dan orang dewasa berhamburan dalam ketakutan dan rasa ngeri.
Takbir dan derap langkah larilah yang tampak dari potret kamera para wartawan. Sementara, letupan peluru terus memekik di udara. Saat umat Islam telah mengalah dengan kebijakan penutupan Masjidil Aqsa, hari itu mereka pun tetap tak boleh beribadah.
Ganasnya Israel menindas kaum Muslimin
Otoritas Israel telah menutup Masjidil Aqsa sejak berlangsungnya perang kontra Iran pada akhir Februari 2026 lalu. Entah apa yang militer Israel sangsikan, praktik ibadah bagi warga Palestina benar-benar begitu membikin militer Israel fobiatik.
Padahal, di momen Ramadan, dahaga akan ibadah tentu mendera setiap umat Islam. Mereka tak angkat senjata, juga tak menenteng senapan, namun mereka seolah begitu berbahaya. Politisi dan dan ulama Palestina, Syekh Raed Salah, telah mengecam keras kebijakan sepihak itu.
“Azan tak boleh. Salat tak dapat izin. Ibadah Jumat mendapat larangan. Kegiatan tarawih pun tidak memperoleh perkenan. Umat Islam beribadah dalam kedinginan, rintik hujan, serta semribit angin di luar Masjidil Aqsa,” seru Syekh Salah.
Tak berselang lama, beberapa jam seusai menyuarakan seruan itu, militer Israel menangkapnya. Mereka meringkusnya saat menghadiri undangan buka bersama di rumah satu keluarga di Yerusalem. Syekh Salah mesti kembali meringkuk di balik jeruji besi usai bebas pada akhir 2021 lalu.
Kala itu, Syekh Salah bebaskan dari penjara selepas 17 bulan mendekam bersama dinginnya sel bui. Israel menjebloskannya tanpa proses hukum yang jelas. Mereka menuduh Syekh Salah sebagai provokator terorisme dan pendukung organisasi militer ilegal.
Yang sama dari Yerusalem dan Indonesia
Pengadilan Israel memvonisnya dengan hukuman bui selama 28 bulan pada Agustus 2020. Sementara, publik Palestina mengenal pribadinya sebagai pengarang buku dan pembela Al Aqsa. “Syekh Raed layak menyandang titel sebagai suri teladan umat,” puji Syekh Muhammad Dedew al Shanqiti.
Potret yang terjadi di Yerusalem adalah contoh nyata dari betapa umat Islam tak pernah lepas dari tindak persekusi dan diskriminasi. Di Indonesia sendiri, meski tak semengerikan Yerusalem, praktik persekusi di hari Idulfitri masih saja mewajah.
Warta beberapa media lokal menyebut jika sebagian kaum Muslimin di Sukoharjo dan Sulawesi Selatan yang berhari raya pada hari Jumat mengalami pelarangan beribadah. Hal itu tak lepas dari keterangan pemerintah dalam Sidang Isbat yang di antaranya mengharamkan idulfitri selain mengikuti keputusan negara.
Sementara di Yerusalem persekusi berlangsung oleh tentara Zionis, di dalam negeri persekusi itu justru timbul oleh tindakan dari sesama Muslim. Lebih mirisnya, pemerintah turut andil di dalamnya. Lantas, apakah peristiwa sejenis akan berulang di tahun mendatang? []





Comments are closed.