Di dalam gerbong yang hancur itu, ada tas berisi ASI yang disimpan dengan hati-hati untuk bayi yang menunggu di rumah. Empat hari sebelumnya, di sebuah daycare, puluhan anak menangis tanpa suara di ruang yang seharusnya aman.
Mubadalah.id – Dalam satu minggu, dua peristiwa terjadi dan keduanya meninggalkan luka yang sama. Perempuan pekerja kembali menjadi korban.
Salingers, saya rasa Minggu ini terasa ganjil. Bukan hanya karena dua peristiwa terjadi dalam waktu yang berdekatan, tetapi karena keduanya seperti membuka satu lapisan realitas yang selama ini kita abaikan bahwa menjadi perempuan terutama ibu yang bekerja masih berjalan di atas sistem yang rapuh.
Daycare dan Runtuhnya Kepercayaan
Pertama, kasus kekerasan terhadap puluhan anak di sebuah daycare di Yogyakarta, ruang yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi lokasi kekerasan. Kasus daycare di Yogyakarta membuka luka yang dalam. Bukan hanya bagi anak-anak yang menjadi korban, tetapi juga bagi para ibu yang mempercayakan anak mereka di sana.
Daycare, dalam logika sosial modern, adalah simbol dukungan terhadap perempuan bekerja. Ia adalah solusi atas keterbatasan waktu, ruang, dan tenaga.
Namun ketika ruang itu justru menjadi lokasi kekerasan, kita perlu bertanya, Apakah daycare di Indonesia benar-benar dirancang sebagai ruang aman, atau sekadar menjadi solusi darurat tanpa pengawasan memadai? Pada realitanya banyak daycare berdiri tanpa standar yang jelas. Tanpa pelatihan tenaga pengasuh yang memadai. Tanpa sistem pengawasan yang ketat.
Satu pertanyaan di kolom komentar yang menggugah emosi saya sebagai seorang perempuan tatkala menyimak berita kegagalan sistem day care tersebut.
“Kok tega sih anak dititipin?”
“Itulah kenapa perempuan harus menjadi ibu rumah tangga”
Kalimat ini bukan hanya menyakitkan, ia menunjukkan bagaimana perempuan sering menjadi korban ganda, korban sistem, sekaligus korban stigma sosial.
Perempuan diajarkan untuk menjadi “ibu ideal” yang selalu hadir, selalu mengasuh, selalu mengorbankan diri.
Gerbong Perempuan dan Ilusi Perlindungan
Kedua, tabrakan antara rangkaian KRL Commuter Line dan Kereta Argo Bromo Anggrek yang menghancurkan gerbong khusus perempuan, menewaskan dan melukai puluhan penumpang.
Di dalam gerbong itu, ada perempuan yang baru kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Ada tubuh-tubuh lelah yang hanya ingin pulang. Ada kehidupan yang tidak pernah menyangka bahwa rutinitas bisa berubah menjadi tragedi. Perempuan tidak sedang mencari bahaya. Namun mereka selalu berada lebih dekat dengan risiko.
Beberapa penumpang terjebak di dalam, menunggu terevakuasi di tengah kondisi yang kacau dan penuh kepanikan. Dan angka itu tidak kecil. Sekitar 14 hingga 16 orang meninggal dunia, dan 84 lainnya luka-luka. Namun angka-angka tidak pernah cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi.
Di dalam gerbong itu, ada perempuan yang baru saja selesai bekerja. Ada yang mungkin sedang membuka ponsel, membalas pesan rumah. Ada yang sedang memikirkan anaknya, apa sudah makan, apa sudah tidur.
Dalam spekulasi saya, mungkin beberapa dari mereka memilih gerbong perempuan karena merasa itu adalah ruang paling aman di tengah padatnya perjalanan. Ironisnya, ruang yang mereka pilih karena rasa aman justru menjadi titik paling fatal. Ironisnya, justru rasa aman yang membuat orang memilih ruang itu berujung menjadi titik paling fatal.
Solusi yang Salah Arah: Memindahkan Risiko, Bukan Menyelesaikan Masalah
Di tengah duka, muncul wacana yang memantik polemik. Usulan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan bahwa gerbong khusus perempuan sebaiknya dipindahkan ke bagian tengah. Sementara posisi ujung depan dan laki-laki diisi oleh laki-laki.
“Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujarnya.
“Jadi yang laki-laki di ujung, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” katanya.
Sekilas, ini terdengar seperti solusi.
Namun jika kita telaah lebih dalam, wacana ini justru mengungkap cara berpikir yang bermasalah. Kita kembali meminta perempuan menyesuaikan diri terhadap risiko. Alih-alih memperbaiki sistem keselamatan secara menyeluruh, pihak terkait hanya memindahkan potensi bahaya.
Pertanyaannya sederhana.
Mengapa keselamatan harus dipertukarkan?
Jika bagian tertentu berbahaya, maka yang harus kita perbaiki adalah sistemnya bukan mengganti siapa yang menjadi korban.
Dalam perspektif keadilan, ini bukan solusi. Ini hanya redistribusi risiko. Dan selama logika ini kita pertahankan, akan selalu ada kelompok yang terkorbankan.
Keadilan yang Belum Hadir
Dua peristiwa ini seharusnya mengarah pada satu hal, akuntabilitas. Dalam kasus daycare, di mana pengawasan? di mana regulasi?. Dalam kasus transportasi: mengapa sistem keselamatan bisa gagal? siapa yang bertanggung jawab?
Dalam kacamata masyarakat yang hilang empati, seolah-olah mereka salah karena bekerja dan menitipkan anak di Daycare. Seolah-olah mereka salah karena mempercayai sistem. Padahal, keadilan tidak boleh berhenti pada empati. Ia harus menuntut perubahan.
Tulisan Satu Minggu dua luka ini bukan berbicara kemalangan dalam satu waktu. Tapi membuka pola yang terus berulang. Kita sudah sering menjumpai kekuatan dan perjuangan perempuan. Kita tidak kekurangan itu semua. Sungguh perempuan punya medan tempurnya masing-masing. Kita hanya kekurangan perlindungan. Kekurangan sistem yang berpihak, dan ruang aman yang nyata.
Fakta paling pahit dari semua ini adalah perempuan sudah terlalu terbiasa hidup dalam sistem yang tidak sepenuhnya melindungi mereka. []





Comments are closed.