Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Satu Minggu, Dua Luka: Daycare Yogyakarta, Kecelakaan KRL, dan Luka Perempuan Indonesia

Satu Minggu, Dua Luka: Daycare Yogyakarta, Kecelakaan KRL, dan Luka Perempuan Indonesia

satu-minggu,-dua-luka:-daycare-yogyakarta,-kecelakaan-krl,-dan-luka-perempuan-indonesia
Satu Minggu, Dua Luka: Daycare Yogyakarta, Kecelakaan KRL, dan Luka Perempuan Indonesia
service

Di dalam gerbong yang hancur itu, ada tas berisi ASI yang disimpan dengan hati-hati untuk bayi yang menunggu di rumah. Empat hari sebelumnya, di sebuah daycare, puluhan anak menangis tanpa suara di ruang yang seharusnya aman.

Mubadalah.id – Dalam satu minggu, dua peristiwa terjadi dan keduanya meninggalkan luka yang sama. Perempuan pekerja kembali menjadi korban.

Salingers, saya rasa Minggu ini terasa ganjil. Bukan hanya karena dua peristiwa terjadi dalam waktu yang berdekatan, tetapi karena keduanya seperti membuka satu lapisan realitas yang selama ini kita abaikan bahwa menjadi perempuan terutama ibu yang bekerja masih berjalan di atas sistem yang rapuh.

Daycare dan Runtuhnya Kepercayaan

Pertama, kasus kekerasan terhadap puluhan anak di sebuah daycare di Yogyakarta, ruang yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi lokasi kekerasan. Kasus daycare di Yogyakarta membuka luka yang dalam. Bukan hanya bagi anak-anak yang menjadi korban, tetapi juga bagi para ibu yang mempercayakan anak mereka di sana.

Daycare, dalam logika sosial modern, adalah simbol dukungan terhadap perempuan bekerja. Ia adalah solusi atas keterbatasan waktu, ruang, dan tenaga.

Namun ketika ruang itu justru menjadi lokasi kekerasan, kita perlu bertanya, Apakah daycare di Indonesia benar-benar dirancang sebagai ruang aman, atau sekadar menjadi solusi darurat tanpa pengawasan memadai? Pada realitanya banyak daycare berdiri tanpa standar yang jelas. Tanpa pelatihan tenaga pengasuh yang memadai. Tanpa sistem pengawasan yang ketat.

Satu pertanyaan di kolom komentar yang menggugah emosi saya sebagai seorang perempuan tatkala menyimak berita kegagalan sistem day care tersebut.

“Kok tega sih anak dititipin?”

“Itulah kenapa perempuan harus menjadi ibu rumah tangga”

Kalimat ini bukan hanya menyakitkan, ia menunjukkan bagaimana perempuan sering menjadi korban ganda, korban sistem, sekaligus korban stigma sosial.

Perempuan diajarkan untuk menjadi “ibu ideal” yang selalu hadir, selalu mengasuh, selalu mengorbankan diri.

Gerbong Perempuan dan Ilusi Perlindungan

Kedua, tabrakan antara rangkaian KRL Commuter Line dan Kereta Argo Bromo Anggrek yang menghancurkan gerbong khusus perempuan, menewaskan dan melukai puluhan penumpang.

Di dalam gerbong itu, ada perempuan yang baru kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Ada tubuh-tubuh lelah yang hanya ingin pulang. Ada kehidupan yang tidak pernah menyangka bahwa rutinitas bisa berubah menjadi tragedi. Perempuan tidak sedang mencari bahaya. Namun mereka selalu berada lebih dekat dengan risiko.

Beberapa penumpang terjebak di dalam, menunggu terevakuasi di tengah kondisi yang kacau dan penuh kepanikan. Dan angka itu tidak kecil. Sekitar 14 hingga 16 orang meninggal dunia, dan 84 lainnya luka-luka. Namun angka-angka tidak pernah cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi.

Di dalam gerbong itu, ada perempuan yang baru saja selesai bekerja. Ada yang mungkin sedang membuka ponsel, membalas pesan rumah. Ada yang sedang memikirkan anaknya, apa sudah makan, apa sudah tidur.

Dalam spekulasi saya, mungkin beberapa dari mereka memilih gerbong perempuan karena merasa itu adalah ruang paling aman di tengah padatnya perjalanan. Ironisnya, ruang yang mereka pilih karena rasa aman justru menjadi titik paling fatal. Ironisnya, justru rasa aman yang membuat orang memilih ruang itu berujung menjadi titik paling fatal.

Solusi yang Salah Arah: Memindahkan Risiko, Bukan Menyelesaikan Masalah

Di tengah duka, muncul wacana yang memantik polemik. Usulan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan bahwa gerbong khusus perempuan sebaiknya dipindahkan ke bagian tengah. Sementara posisi ujung depan dan laki-laki diisi oleh laki-laki.

“Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujarnya.

“Jadi yang laki-laki di ujung, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” katanya.

Sekilas, ini terdengar seperti solusi.

Namun jika kita telaah lebih dalam, wacana ini justru mengungkap cara berpikir yang bermasalah. Kita kembali meminta perempuan menyesuaikan diri terhadap risiko. Alih-alih memperbaiki sistem keselamatan secara menyeluruh, pihak terkait hanya memindahkan potensi bahaya.

Pertanyaannya sederhana.

Mengapa keselamatan harus dipertukarkan?

Jika bagian tertentu berbahaya, maka yang harus kita perbaiki adalah sistemnya bukan mengganti siapa yang menjadi korban.

Dalam perspektif keadilan, ini bukan solusi. Ini hanya redistribusi risiko. Dan selama logika ini kita pertahankan, akan selalu ada kelompok yang terkorbankan.

Keadilan yang Belum Hadir

Dua peristiwa ini seharusnya mengarah pada satu hal, akuntabilitas. Dalam kasus daycare, di mana pengawasan? di mana regulasi?. Dalam kasus transportasi: mengapa sistem keselamatan bisa gagal? siapa yang bertanggung jawab?

Dalam kacamata masyarakat yang hilang empati, seolah-olah mereka salah karena bekerja dan menitipkan anak di Daycare. Seolah-olah mereka salah karena mempercayai sistem. Padahal, keadilan tidak boleh berhenti pada empati. Ia harus menuntut perubahan.

Tulisan Satu Minggu dua luka ini bukan berbicara kemalangan dalam satu waktu. Tapi membuka pola yang terus berulang. Kita sudah sering menjumpai kekuatan dan perjuangan perempuan. Kita tidak kekurangan itu semua. Sungguh perempuan punya medan tempurnya masing-masing. Kita hanya kekurangan perlindungan. Kekurangan sistem yang berpihak, dan ruang aman yang nyata.

Fakta paling pahit dari semua ini adalah perempuan sudah terlalu terbiasa hidup dalam sistem yang tidak sepenuhnya melindungi mereka. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.