“Pemerintah bicara di podium..Mengklaim penanganan sudah aman, sudah 100%. Namun di tenda-tenda itu, aman hanyalah mimpi yang belum tiba. Bencana ini bukan hanya reruntuhan. Ia adalah ujian keadilan. Apakah negara hadir di jalan yang terputus? Apakah tangan kekuasaan menjangkau tenda-tenda di sungai pelosok sana? Hari bumi mengingatkan kita, Menjaga alam berarti menjaga manusia. Menjaga rakyat berarti menjaga manusia… Menjaga bumi.” Begitu puisi Ahmad Syafiq, anak muda dari Aceh Tengah, mengungkapkan kekecewaan, ketika aksi di Hari Bumi. Dia bergabung bersama muda mudi dari berbagai daerah ikut aksi di Jakarta. Siang itu, 24 April lalu, sekelompok muda menyusuri Jalan Gatot Subroto, Jakarta, siang, sambil membawa nisan. Bukan ke tempat pemakaman umum, mereka justru bergerak ke Gedung DPR di Senayan. “RIP Hak Atas Kehidupan” “RIP Hak Atas Lingkungan yang Baik & Sehat’” “RIP Hak Atas Pangan dan Air” Begitu antara lain tulisan tertera di nisan. Spanduk pun terbentang. “Bumi Hanya Satu” Mereka tiba di depan Gedung DPR sekitar 15.17 WIB. Bagi mereka, kondisi bumi yang kian hari memburuk membuat sulit merayakan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April. Karena itu, aksi simbolik di depan DPR untuk menuntut keadilan iklim jadi pilihan. “Kami, anak muda adalah korban dari kebijakan,” kata Muhammad Iqbal, peserta aksi. Menurut dia, suhu di Indonesia makin panas, bahkan pernah 36 derajat. Cuaca yang ekstrem dan tidak menentu membuatnya harus panas-panasan saat ke kampus di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Kondisi ini, katanya, tidak tercipta secara alami tetapi hasil serangkaian kebijakan dan ulah manusia, seperti alih fungsi lahan, penggundulan hutan masif hingga…This article was originally published on Mongabay
Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi
Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi





Comments are closed.