Program pangan dengan tanam jagung di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, hampir setahun berlalu. Alih-alih membawa hasil maksimal, petak-petak jagung yang petani tanam gagal panen karena lokasi lahan tak cocok. Berdasar informasi yang Mongabay himpun, ada beberapa desa di Mentawai terpilih sebagai proyek percontohan program ini.Antara lain di Pagai, Sipora dan Siberut. Tanpa ada pilihan, masing-masing desa pemerintah wajibkan untuk menanam jagung sejak 2025. Fransiskus Xaverius, Kepala Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Taraet Borsa, Sipora mengatakan, baru menanam jagung setelah pemerintah mewajibkannya. Semula, mereka merencanakan untuk menanam di tiga lokasi. Namun, karena pertimbangan efektivitas, dia putuskan di satu lokasi. “Rencananya satu hektar di Betumonga, satu hektar di Maktutungan, dan satu hektar di tempat lain. Tapi setelah dipertimbangkan, pengurus bisa kewalahan kalau tersebar di banyak lokasi. Akhirnya diputuskan di satu tempat saja,” katanya. Total ada tiga hektar lahan dia siapkan untuk program ini. Setiap hektar dia perkirakan bisa menghasilkan 8-10 ton. Namun, karena lokasi lahan tak sesuai, jagung-jagung yang terlanjur ditanam amblas terkena banjir. Xaverius katakan, ada dua hehktar lahan yang BUMDes sewa untuk program ini. Saat proses penanaman berlangsung, sekitar 30-40 orang terlibat dengan upah masing-masing Rp125.000 per hari. Dia sayangkan minimnya petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) terlibat dalam program ini. Bahkan, selama pelaksanaan program, tak sekalipun petugas datang ke lokasoi. “Itu yang membuat kami seperti berjalan tanpa arah. Kami tidak tahu tahapan masa tanam, setelah berapa hari harus melakukan apa, dan seterusnya,” katanya. Fransiskus Xaverius, Kepala BUMDes Taraet Borsa, Sipora di lokasi lahan tanam jagung yang masih tergenang air.…This article was originally published on Mongabay
Nasib Petani Ketika Program Tanam Jagung Masuk Mentawai
Nasib Petani Ketika Program Tanam Jagung Masuk Mentawai





Comments are closed.