Pada ketinggian yang nyaris menyentuh 5.000 meter di atas permukaan laut, di mana oksigen begitu tipis dan suhu bisa berubah menjadi beku dalam hitungan menit, terdapat sebuah kehidupan yang menantang batas biologi. Ia adalah Gloydius himalayanus atau pit viper Himalaya. Ular berbisa ini bukan sekadar penghuni, melainkan sosok “penjaga” sunyi di salah satu wilayah paling ekstrem di muka bumi. Penelitian filogenetik terbaru hingga April 2026 mengungkap sejarah migrasi kuno yang mengejutkan. Berbeda dengan kerabatnya di Asia Timur, leluhur ular ini diduga melintasi koridor subtropis Paleo-Tibet sekitar 14,5 juta tahun lalu. Isolasi geografis yang sangat lama ini akhirnya membentuk garis keturunan yang sangat berbeda jauh (divergent) dari semua spesies lain dalam marga Gloydius. Ular beludak Himalaya (Gloydius himalayanus) di habitat pegunungan tinggi, berjemur di atas batu di bawah langit Himalaya. Spesies ini dikenal hidup hingga hampir 5.000 meter di atas permukaan laut. Photo by: Rohit Giri CC BY-NC 4.0 Penemuan Spesies Baru di Atap Dunia Bagi manusia, berada di ketinggian 5.000 meter memerlukan persiapan fisik yang berat, namun bagi ular beludak Himalaya, wilayah ini adalah rumah. Habitat mereka membentang dari padang rumput alpine hingga tebing berbatu yang terisolasi di mana sinar matahari menjadi sumber energi utama. Sebuah studi perilaku mencatat untuk pertama kalinya fenomena dikhromatisme atau perbedaan warna tubuh serta perilaku kawin spesies ini di alam liar. Warna tubuhnya yang cokelat keabu-abuan memberikan kamuflase sempurna di antara tebing granit untuk melindunginya dari predator langit sekaligus memudahkan mereka mengintai mangsa. Peneliti mencatat bahwa ular ini memiliki metabolisme yang sangat efisien, sebuah kunci…This article was originally published on Mongabay
Hidup 5.000 Meter di Atas Laut, Inilah Ular Beludak Penjaga Lereng Himalaya
Hidup 5.000 Meter di Atas Laut, Inilah Ular Beludak Penjaga Lereng Himalaya





Comments are closed.