Nama Baru dari Tanah Suci
Pada 1882, Sakman mulai membuka pengajian anak-anak. Delapan tahun kemudian, ia mengambil talqin Tarekat Qādiriyyah wan-Naqsyabandiyyah kepada sahabat seperantauannya, Syaikh Asnawi Caringin—dan diangkat sebagai mursyid, pemimpin tarekat. Ini bukan sekadar jabatan keagamaan, melainkan jaringan. Setiap anggota tarekat adalah mata-rantai yang menghubungkan pesantren-pesantren di Banten, Bekasi, Karawang, Bogor, hingga ke pesisir utara Jawa.
Setahun berselang, atas saran Syaikh Asnawi, Sakman menunaikan ibadah haji. Di Tanah Suci, ia berguru kepada K.H. M. Syadzali dan Syaikh al-Maliki al-Makki—memperdalam ilmu yang telah ia timba selama puluhan tahun di kampung-kampung berdebu Bekasi dan Banten. Di sana pula, di hadapan Ka’bah yang telah ia impikan sejak kecil, Sakman mengganti namanya.
Ia memilih nama Muḥammad Djahari. Kelak dunia mengenalnya sebagai K.H. M. Djahari Mintar al-Bantani—ulama, mursyid, motivator pejuang, dan lelaki yang membuat tentara Belanda gemetar di hadapan sehelai daun kawung.
Ada satu tanggal yang perlu kita catat: 9 Juli 1888.
Kala itu, pemberontakan petani Banten meletus di bawah pimpinan H. Wasid dari Beji. Sebanyak 1.700 petani terlibat dalam gerakan yang dirancang sejak Februari 1888 melalui pertemuan-pertemuan tertutup di Tanara, Trate, Saneja, Beji, dan Kaloran. Di pihak kolonial, 17 orang tewas—termasuk Asisten Residen, Wedana, dan sejumlah pejabat tinggi Belanda. Di pihak pemberontak, 30 orang gugur, termasuk H. Wasid sendiri, H. Usman, dan H. Ishak.
Di antara tokoh yang disebut-sebut turut merencanakan pemberontakan itu adalah H. Marzuki—dan Syaikh Asnawi Caringin, sahabat dan murid Tarekat Jahari. Sejarah mencatat peristiwa ini sebagai “Geger Cilegon”, salah satu perlawanan bersenjata paling berani terhadap kolonialisme di Nusantara (bahkan dunia) sebelum fajar abad ke-20.
Kiai Jahari bukan manusia yang hidup di luar jaringan ini, justru ia adalah simpulnya.
Ketika Syaikh Asnawi ditangkap Belanda pada 1921, Djahari yang menjemput dan membebaskannya. Ketika Asnawi ditangkap lagi pada 1926 dan dipenjarakan di Purwakarta, Djahari membebaskannya lagi. Ketika pada 1948 Asnawi ditangkap untuk ketiga kalinya dan dipenjarakan di Cianjur, Djahari—yang kala itu sudah berusia lebih dari seratus tahun—kembali membebaskannya. Belanda murka. Tapi murka Belanda tidak pernah mengubah sedikitpun arah langkah Kiai Djahari.
Kuda Putih di Antara Pos-Pos Pejuang
Ketika Proklamasi dibacakan Bung Karno pada 17 Agustus 1945 dan Republik Indonesia mulai berdiri, Djahari berada di pihak Republik—tanpa ragu, tanpa negosiasi. Baik Belanda maupun Jepang, pernah menawarinya kedudukan yang menggiurkan. Keduanya ditolak. Bagi Djahari, memilih musuh bangsa berarti mengkhianati semua yang ia perjuangkan selama puluhan tahun—dan itu adalah jenis pengkhianatan yang tidak bisa ditebus oleh jabatan apa pun.
Di masa revolusi, Djahari menjalin hubungan erat dengan Komandan Batalyon III Ḥizbullāh, K.H. Noer Alie—salah seorang panglima perlawanan yang namanya kini melekat pada bandara di Bekasi. Sebelum para pejuang berangkat ke palagan pertempuran, hampir semua dari mereka—dari Laskar Ḥizbullāh, Sabīlillāh, Samber Nyowo, Galak Hitam, Laskar Rakyat, hingga Tentara Republik Indonesia—lebih dulu menghadap Kiai Djahari. Ia memberikan sentuhan spiritual, doa, dan kata-kata yang menghidupkan kembali nyali mereka yang mungkin mulai goyah.
Mengendarai kuda putih kesayangannya, Kiai Djahari berkeliling dari satu pos pejuang ke pos lainnya—Gabus, Pulo Puter, Jatinegara, Tambun, Pisangan, dan tempat-tempat lain yang namanya kini sudah tenggelam dalam arsip dan peta yang tidak lagi banyak orang baca. Di kawasan Bekasi Utara, ia dikenal sebagai motivator pejuang kemerdekaan. Bukan dalam artian retoris—ia hadir secara fisik, di lapangan, di antara bau mesiu dan kelelahan.
Ada satu kisah dari Cemara, Karawang. Saat Djahari sedang mengontrol front pejuang, hujan tiba-tiba turun dan perbekalan habis. Ia mengumpulkan seikat batang padi, lalu berzikir, bertaḥmid, bertahlil. Lalu batang padi itu seketika berubah menjadi makanan. Saat itu, Kiai Djahari yang berusia hampir seratus tahun masih berkuda ke medan pertempuran, masih berdiri di antara para pemuda yang belum separuh usianya—dan mereka semua mendengarkannya. Itulah otoritas yang tumbuh dari setengah abad dakwahnya yang tidak pernah berhenti.
Menurut sebuah riwayat yang disampaikan turun-temurun, Presiden Soekarno—di awal kemerdekaan sengaja datang ke Kampung Ceger. Bukan untuk berpidato. Ia datang untuk berterima kasih. Kepada seorang ulama tua yang tidak pernah meminta apa-apa, kecuali bahwa bangsanya merdeka dan menjaga Islam sebagai agamanya.
Setelah pengakuan kedaulatan, Djahari memilih fokus pada pendidikan. Ia memberi restu kepada Partai Masyumi dan Partai Nahdlatul Ulama dalam Pemilu 1955, tapi menolak aktif berpolitik. Kepada K.H. Noer Alie dan K.H. Anwar Kaliabang Bungur, ia berkata: ia sudah tua, dan sisa usianya akan ia abdikan pada pembinaan umat melalui pondok pesantren.
Pada 1914—jauh sebelum revolusi bergolak—Djahari telah mengubah musala santri menjadi Masjid Jami’. Dari masjid itu, dakwahnya meluas. Santrinya berdatangan dari Banten, Bogor, Karawang, Pamijahan, Purwakarta, Cirebon, Lampung, hingga beberapa daerah di Sumatera. Pengajian setiap Senin pagi ia jadikan sarana untuk memperjelas hubungan antara ulil amri dan agama—mengajarkan bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan kaum Muslimin bukan hanya soal ganti bendera, tapi soal tegaknya tauhid dan akidah Islam di bumi ini.
Saat usianya menginjak 120 tahun—Kiai Djahari menunaikan ibadah haji untuk kesepuluh kalinya. Catatan tentang fisiknya pada usia itu terkesan seperti dongeng: jalannya masih cepat, badannya kekar, suaranya melengking nyaring. Setiap kali ia melewati kampung, masyarakat berjejer di kiri-kanan jalan menunggu untuk bersalaman. Mereka tetap berdiri sampai ia hilang dari pandangan.
Ada keterangan yang menarik tentang tangannya. Ketika jari-jarinya memukul meja atau lantai, suara yang keluar bukan suara tangan dan kayu—tapi suara besi beradu besi. Jamaah yang mendengarnya pasti merinding.
Pada Jumat, 23 Rabīʿ al-Ākhir 1392 H (1972 M), usai Subuh, Kiai Muḥammad Djahari Mintar al-Bantani menghadap Sang Khaliq, dalam usia 125 tahun. Ia dimakamkan di belakang Masjid Agung al-Ajhariyyah, Kampung Ceger, Desa Muktiwari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Makamnya ramai dikunjungi peziarah dari berbagai penjuru tanah air—terutama pada malam Jumat, saat Masjid Agung al-Ajhariyyah disarati oleh mereka yang datang bukan hanya untuk berdoa, tapi juga untuk mengingat bahwa pernah ada seseorang yang membuktikan bahwa satu kehidupan yang benar—satu kehidupan yang tidak pernah mau membungkuk di depan penjajah—bisa mengubah bentang sejarah.
Kiai Djahari mewariskan kepada kaum Muslimin: 10 masjid jami’ binaannya, 69 musala binaan, 69 Majelis Taklim Kaum Ibu, Madrasah Ibtidaiyyah, Madrasah Tsanawiyyah, Madrasah Aliyyah, Pondok Pesantren al-Ajhariyyah, dan Majelis Zikir Tarekat Qādiriyyah wan-Naqsyabandiyyah.
Bukan angka yang kecil untuk seseorang yang memulai segalanya dari kampung terpencil nun di tepian peradaban Islam.
Ada satu rincian yang disampaikan Salapian—salah seorang pemimpin perjuangan dari Tentara Keamanan Rakyat yang bermarkas di Sasak Bakar dan Cibarusah. Katanya, kalau Kiai Djahari ingin memanggil para kiai sahabat seperjuangannya, ia cukup menghubungi mereka melalui seutas tasbih. Beberapa jam kemudian, mereka berdatangan.
Keterangan itu mudah sekali dimengerti. Karena Kiai Djahari adalah simpul dari sebuah jaringan persaudaraan ulama yang begitu kuat, begitu tepercaya, dan begitu terjalin—sehingga sebuah isyarat kecil saja sudah cukup untuk menggerakkan orang-orang dari berbagai penjuru.
Itulah warisan yang sesungguhnya. Bukan bangunan fisik—meski masjid-masjid dan madrasah-madrasah itu masih berdiri. Bukan pula catatan keajaiban—meski orang-orang masih menceritakannya dengan takzim. Warisan Kiai Djahari adalah bukti bahwa ada cara lain untuk berhadapan dengan kekuasaan yang zalim: bukan dengan menunduk, bukan dengan berteriak tanpa bekal, tapi dengan membangun diri dan komunitas dengan begitu sungguh-sungguh dan begitu panjang—sampai pada akhirnya, bahkan sehelai daun di tanganmu pun terasa seperti senjata oleh mereka yang bersalah. []
Tulisan ini disusun berdasarkan catatan: Hamidullah, Dudun., Maksum, Bahar., dkk. 2016. Ulama Pejuang Kabupaten Bekasi. Majelis Ulama Indonesia: Kabupaten Bekasi; serta riwayat lisan Keluarga Besar Waliyullāh KH. Muḥammad Nawawi Jahari Mintar Ceger.





Comments are closed.