Pemerintah Kota Pontianak secara bertahap resmi meninggalkan sistem penumpukan sampah terbuka (open dumping) yang usang, beralih pada teknologi sanitary landfill di TPA Batulayang demi menyelamatkan lingkungan dari ancaman lindi dan gas metana.
Selama bertahun-tahun, lanskap Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Batulayang di Pontianak identik dengan sebuah monumen kelam konsumsi manusia: gunungan limbah yang menjulang dan menguar aroma tak sedap yang menusuk rongga dada. Di bawah terik matahari khatulistiwa, lautan sampah itu membusuk secara perlahan. Sementara saat hujan lebat mengguyur, air akan meresap ke dalam tumpukan, menciptakan lindi beracun yang diam-diam menyusup ke dalam nadi bumi.
Itulah potret usang sistem open dumping atau pembuangan terbuka. Ribuan ton sampah harian dari seantero kota sekadar dibuang, ditumpuk, dan diratakan oleh alat berat tanpa perlakuan khusus. Bumi dibiarkan menanggung beban berat dari racun limbah seorang diri. Namun, pemandangan menyesakkan itu perlahan mulai tanggal. Hari ini, TPA Batulayang tengah bersiap menyambut napas baru yang jauh lebih ramah lingkungan.
Tepat pada Rabu (29/4/2026), di bawah langit Pontianak yang cerah, sebuah transformasi ekologis tengah berdenyut nyata. Pemerintah Kota Pontianak secara resmi menabuh genderang perubahan besar dengan menghentikan secara bertahap praktik open dumping yang sarat petaka. Sebagai gantinya, mereka mulai mengadopsi metode yang jauh lebih beradab, saintifik, dan terkontrol: sanitary landfill dan controlled landfill.
Langkah radikal ini bukanlah tanpa pemicu. Saat meninjau langsung kesibukan di kawasan TPA Batulayang, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengenang kembali sebuah momentum krusial yang menjadi titik balik dari sistem pengelolaan sampah di wilayah administratifnya. Teguran dan arahan dari pemerintah pusat menjadi katalisator utama.
“Sesuai saran dari Menteri Lingkungan Hidup pada saat datang bulan Juni 2025 di sini, beliau minta supaya TPA yang open dumping ini ditutup. Sekarang kita sudah mulai tutup,” ujar Edi menceritakan proses panjang transisi tersebut.
Membangun Benteng Pelindung Bumi
Kini, di atas hamparan lahan seluas 4,5 hektare, fasilitas sanitary landfill dan controlled landfill yang baru telah rampung dibangun dan mulai beroperasi penuh. Berbeda 180 derajat dari cara lama yang menyiksa tanah dan mencemari air tanah, sistem baru ini memperlakukan bumi dengan penuh kehati-hatian layaknya seorang pasien.
Sebelum tumpukan limbah rumah tangga menyentuh tanah, dasar area terlebih dahulu dilapisi dengan lembaran geotextile yang tebal dan kedap air. Lapisan ini bertugas sebagai tameng, memastikan tidak ada setetes pun racun cair yang meresap ke dalam akuifer air tanah di bawahnya.
Lebih jauh ke dalam anatomi fasilitas ini, sebuah sistem “pernapasan dan pembuluh darah” buatan telah ditanam di bawah tumpukan sampah. Jaringan pipa menjulur secara strategis untuk menangkap gas metana—gas rumah kaca sisa dekomposisi organik yang mudah terbakar dan kerap memicu ledakan di area TPA. Di saat yang bersamaan, pipa-pipa lain difungsikan sebagai jalur khusus yang mengalirkan air lindi—cairan pekat mematikan dari sari pati sampah—menuju Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPAL).
“Air lindinya masuk ke pengolahan, ke IPAL, sehingga sampahnya tidak mencemari lingkungan,” jelas Edi memaparkan keunggulan teknologi tersebut.
Lewat kecanggihan sistem IPAL ini, cairan lindi yang tadinya menjadi ancaman ekologis paling menakutkan, dijinakkan secara kimiawi dan biologis. Air hasil olahan yang telah dipastikan aman tidak lantas dibuang percuma. Aliran air tersebut dimanfaatkan kembali menjadi siklus sirkular yang berguna, seperti untuk menyiram lanskap tanaman di sekitar TPA dan mencuci armada truk operasional sebelum mereka kembali ke jalanan kota.
Untuk memastikan seluruh sistem ini benar-benar berjalan sesuai baku mutu lingkungan yang ketat, Pemkot Pontianak juga berkomitmen melakukan uji laboratorium. Kualitas air lindi yang diproses dan kualitas udara ambien di kawasan TPA maupun pemukiman sekitarnya akan terus dipantau secara berkala.
Menyembuhkan Luka Masa Lalu
Lalu, bagaimana nasib gunungan sampah lama yang merupakan sisa peninggalan sistem open dumping? Alih-alih dibiarkan menjadi tumpukan sejarah yang beracun, gundukan sampah raksasa itu kini ditutup rapat menggunakan terpal pelindung dan urukan tanah.
Layaknya proses penyembuhan luka pada kulit, kawasan lama tersebut direhabilitasi secara ekologis. Pemerintah kota telah memetakan rencana untuk melakukan penghijauan lewat penanaman berbagai jenis pohon buah-buahan. Akar-akar pohon ini kelak akan mengikat tanah dan mengubah area mati tersebut menjadi ruang hijau yang kembali bernapas.
Meski implementasi sanitary landfill merupakan sebuah lompatan besar bagi Pontianak, Edi menyadari bahwa ini hanyalah fase transisi awal. Garis akhir sesungguhnya dari misi penyelamatan lingkungan ini adalah penerapan sistem pengelolaan sampah yang terpadu dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Saat ini, Pemkot Pontianak tengah menanti terealisasinya pembangunan pusat pengelolaan sampah terpadu yang masuk dalam radar program Local Service Delivery Improvement Project (LSDIP) yang digawangi oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.
“Insyaallah kalau itu jadi, masalah sampah di Kota Pontianak bisa teratasi,” tegasnya dengan nada optimis, menyiratkan harapan akan kolaborasi strategis antara pusat dan daerah.
Pada akhirnya, proyek ambisius TPA Batulayang ini tidak lagi dirancang sekadar sebagai tempat peristirahatan akhir bagi segala jenis limbah. Visi besarnya adalah mengubah paradigma dan budaya membuang sampah masyarakat Pontianak.
“Harapan kita tahun 2029 sudah mulai berjalan pusat pengelolaan sampah terpadu. Jadi nanti yang dibuang ke sini hanya residu saja. Kalau sekarang masih sekitar 450 ton per hari, nanti bisa di bawah 100 ton per hari,” pungkas Edi.
Sebuah harapan komprehensif yang jika benar-benar terwujud, tidak hanya akan meringankan beban daya tampung lahan di TPA Batulayang, tetapi juga mewariskan pijakan bumi Pontianak yang jauh lebih bersih, sehat, dan lestari bagi generasi esok yang akan datang. Perjalanan masih panjang, namun langkah pertama untuk tidak lagi meracuni bumi sendiri, kini telah resmi diambil.




Comments are closed.