Di tengah ancaman degradasi lahan akibat ketergantungan pupuk kimia, kelompok perempuan petani kopi di Bengkulu memilih pulang ke cara-cara lama yang lebih ramah alam demi menjamin kedaulatan pangan dan kelestarian ekosistem.
Kabut tebal masih memeluk erat pucuk-pucuk pohon dadap yang menjadi pelindung tanaman kopi di lereng Bukit Barisan saat Ratna (48) mulai melangkah menyusuri jalan setapak yang licin. Di pinggangnya, sebuah keranjang bambu usang terikat erat. Bagi Ratna, dan banyak perempuan tani di dataran tinggi Bengkulu, hutan dan kebun adalah ruang hidup yang tak terpisahkan.
Namun, dalam satu dekade terakhir, ada yang berubah dari tanah yang ia pijak. Tanah yang dahulunya gembur dan hitam, perlahan berubah menjadi keras, pucat, dan seolah enggan menyerap air.
“Dulu kami pikir, kalau tidak pakai pupuk kimia yang banyak, kopi tidak akan berbuah lebat. Kami seperti berlomba-lomba menyiramkan racun ke tanah,” kenang Ratna saat ditemui di sela-sela aktivitasnya. Hasilnya memang sempat melonjak, namun itu hanya sesaat. “Lama-lama tanahnya jadi bantat (keras). Seperti tanah yang sudah kehilangan nyawa. Biaya yang kami keluarkan juga habis hanya untuk membeli obat-obatan itu saja, sementara harga kopi sering tidak menentu.”
Ratna tidak sendirian. Ia adalah bagian dari gelombang kesadaran baru di kalangan perempuan petani yang kini memilih untuk “pulang”—kembali ke pelukan kearifan leluhur yang sempat tersisih oleh narasi modernisasi pertanian yang serba kimia.
Memutus Rantai Ketergantungan
Transisi menuju pertanian organik di pedalaman Bengkulu bukanlah perjalanan yang mudah. Selama berpuluh tahun, petani telah “dijinakkan” oleh ketergantungan pada input kimia—pestisida, herbisida, dan pupuk nonsubsidi yang harganya terus melambung. Bagi para perempuan yang mengelola keuangan rumah tangga, kenaikan harga pupuk adalah horor nyata.
Teti, seorang petani yang juga aktif dalam kelompok komunitas, menceritakan betapa beratnya memutus rantai tersebut. Namun, ia melihat kerusakan lingkungan sudah di depan mata. Mata air di dekat kebunnya mulai mengecil, dan hama justru semakin kebal terhadap semprotan kimia.
“Kami kembali belajar bahwa alam sebenarnya sudah menyediakan semuanya. Kulit kopi yang dulu kami buang begitu saja dan dianggap sampah hingga menumpuk busuk, sekarang kami olah lagi jadi pupuk kompos,” ujar Teti sembari menunjukkan gundukan bahan organik yang sedang ia fermentasi.
Bagi Teti, ini adalah tindakan dekolonisasi terhadap pola pikir petani. “Ini cara leluhur kami. Mereka tidak kenal zat kimia, tapi pohon kopinya tetap bagus, tinggi-tinggi, dan umurnya bisa puluhan tahun. Kami hanya kembali ke cara itu,” tambahnya dengan nada tegas.
Perempuan sebagai Penjaga Ibu Bumi
Gerakan ini menemukan kekuatannya melalui kolektivitas. Melalui wadah seperti Konsorsium Perempuan Penyelamat Ibu Bumi (KPPI), para perempuan ini saling menguatkan. Mereka melakukan pemetaan mandiri, mendiskusikan perubahan iklim di tingkat tapak, hingga mempraktikkan pembuatan nutrisi tanaman dari bahan-bahan yang tumbuh di sekitar pekarangan.
Musda, salah satu pendamping lapangan yang telah bertahun-tahun keluar-masuk desa di kawasan penyangga hutan, menjelaskan mengapa perempuan menjadi motor penggerak utama dalam pemulihan lahan ini.
“Perempuan adalah pihak yang paling merasakan dampak jika tanah rusak. Mereka yang paling tahu saat sumber air mengering karena mereka yang mengurus urusan domestik. Mereka juga yang paling khawatir saat anak-anak mereka mulai sering sakit-sakitan karena terpapar zat kimia di ladang setiap hari,” ungkap Musda.
Menurut Musda, langkah kembali ke cara organik bukan sekadar hobi lingkungan, melainkan strategi bertahan hidup (survival). “Ini adalah cara mereka menjaga sisa-sisa hutan di sekitar kebun. Dengan metode organik dan tumpang sari, mereka tidak perlu lagi membuka lahan baru di dalam kawasan hutan karena tanah yang ada sudah kembali subur dan bisa diandalkan untuk jangka panjang,” jelasnya.
Kedaulatan di Balik Cangkul
Secara ekonomi, dampaknya mulai terasa nyata. Dengan memproduksi pupuk dan pestisida alami secara mandiri, para perempuan ini mampu memangkas biaya produksi hingga 40 persen. Dalam ekonomi rumah tangga petani, angka ini sangat signifikan untuk dialokasikan ke biaya pendidikan atau kesehatan.
Tak hanya itu, kualitas biji kopi yang dihasilkan pun perlahan membaik. Kopi organik dari lereng Bukit Barisan mulai mendapatkan tempat di pasar-pasar khusus yang menghargai keberlanjutan.
“Katanya rasa kopinya lebih asli, lebih jujur. Tidak ada rasa ‘kimia’ di lidah setelah meminumnya,” ujar Ratna bangga. Bagi mereka, pujian dari para penikmat kopi di kota adalah bonus, namun kesehatan tanah adalah prioritas utama.
Mewariskan Tanah yang Hidup
Saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, Ratna merapikan hasil petikannya. Ia melihat ke arah pepohonan kopi yang kini tampak lebih rimbun dengan mulsa alami dari dedaunan kering yang dibiarkan menutupi permukaan tanah.
Perjalanan “pulang” ini masih panjang. Tantangan berupa perubahan cuaca yang ekstrem dan fluktuasi harga global tetap membayangi. Namun, bagi para perempuan petani di Bengkulu, keyakinan mereka sudah bulat.
“Kami hanya ingin mewariskan tanah yang sehat untuk anak cucu. Kami tidak ingin mereka kelak hanya mewarisi tanah yang sudah mati dan gersang,” kata Ratna menutup pembicaraan. “Cara lama ini bukan berarti mundur, tapi justru jalan masa depan kami untuk tetap bisa bertahan di atas bumi ini.”
Di bawah bayang-bayang puncak perbukitan, wangi kopi dan tanah yang mulai pulih menjadi saksi bahwa di tangan perempuan, bumi punya kesempatan untuk bernapas kembali.





Comments are closed.