Sun,3 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Menagih Keadilan di Balik Laba ‘Durian Runtuh’ Industri Fosil

Menagih Keadilan di Balik Laba ‘Durian Runtuh’ Industri Fosil

menagih-keadilan-di-balik-laba-‘durian-runtuh’-industri-fosil
Menagih Keadilan di Balik Laba ‘Durian Runtuh’ Industri Fosil
service

Desakan penerapan windfall tax menguat sebagai instrumen korektif untuk membiayai transisi energi dan memperbaiki ketimpangan fiskal di tengah krisis iklim.

Di tengah riuh rendah Jakarta yang kian panas oleh suhu ekstrem, sebuah diskusi krusial pecah di jantung ibu kota. Isunya bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tentang moralitas ekonomi di tengah kepungan krisis iklim. Saat konflik di Timur Tengah memicu gejolak harga energi global, perusahaan-perusahaan fosil di Indonesia justru meraup laba raksasa—sebuah fenomena yang kini memicu desakan kuat untuk segera menerapkan windfall tax atau pajak atas keuntungan berlebih.

Bagi Sisilia Nurmala Dewi, Koordinator Kampanye 350.org Indonesia, situasi saat ini adalah sebuah paradoks yang menyakitkan. Di satu sisi, masyarakat kelas bawah harus mengetatkan ikat pinggang karena kenaikan harga kebutuhan pokok, sementara di sisi lain, korporasi minyak, gas, dan batubara berpesta di atas panggung keberuntungan yang tak terduga.

“Ketika harga energi naik karena konflik, perusahaan mendapatkan keuntungan tak terduga. Di sisi lain, masyarakat harus membayar lebih mahal, baik lewat harga maupun pajak,” ujar Sisilia dalam diskusi bertajuk “Mendorong Windfall Tax Energi Fosil di Indonesia: Keadilan Fiskal di Tengah Krisis Iklim dan Krisis Ekonomi” di Jakarta, Selasa (30/04/2026).

Sisilia memandang windfall tax bukan sekadar instrumen pajak biasa, melainkan alat korektif. Ia menegaskan bahwa sistem energi yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil saat ini sangat timpang. Ketimpangan ini harus dijawab dengan kontribusi nyata dari mereka yang paling diuntungkan oleh krisis.

“Yang mendapatkan keuntungan besar dari krisis seharusnya berkontribusi lebih besar,” tegasnya.

Amunisi untuk Transisi Hijau

Potensi dana yang bisa diraup negara dari pajak ‘durian runtuh’ ini tidak main-main. Peneliti dari Yayasan CERAH, Dwi Wulan Ramadani, memberikan gambaran angka yang bisa mengubah peta jalan transisi energi Indonesia. Dari sektor batubara saja, potensi penerimaan negara melalui windfall tax diperkirakan bisa menyentuh angka Rp200 triliun.

Alih-alih masuk ke kantong pribadi para pemegang saham, dana raksasa tersebut bisa menjadi “bensin” bagi percepatan energi bersih yang selama ini sering terkendala masalah pembiayaan.

“Kalau kita ambil sebagian dari lonjakan keuntungan ini, itu bisa digunakan untuk investasi energi terbarukan, termasuk infrastruktur dan penyimpanan energi,” kata Dwi.

Menurutnya, kebutuhan dana untuk menangani dampak bencana akibat perubahan iklim kian membengkak, sementara ruang anggaran negara semakin sempit. Maka, membagikan beban keuntungan besar dari sektor penghasil emisi adalah langkah logis sekaligus etis.

“Ini bukan hanya soal penerimaan negara, tapi juga soal keadilan. Publik sudah menanggung beban dari harga energi hingga dampak bencana, sehingga wajar jika keuntungan besar di sektor ini ikut dibagikan,” tambahnya.

Koreksi atas Ketimpangan Fiskal

Nada yang sama juga datang dari lembaga ekonomi. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyoroti betapa rapuhnya struktur fiskal Indonesia dalam menangkap peluang dari lonjakan harga komoditas. Rasio pajak Indonesia yang masih jalan di tempat—di bawah 10 persen—menjadi sinyal bahwa negara belum cukup berdaya mengambil bagian dari keuntungan global.

Peneliti CELIOS, Jaya Darmawan, membantah narasi bahwa kebijakan ini akan membebani dunia usaha secara tidak adil. Baginya, windfall tax adalah cara untuk mengambil laba yang datang bukan dari kerja keras atau inovasi perusahaan, melainkan dari keberuntungan faktor eksternal.

“Ketika harga komoditas naik karena faktor global, perusahaan menikmati keuntungan besar. Tapi negara belum mengambil bagian yang cukup dari situ,” ungkap Jaya.

Jaya memaparkan bahwa potensi dari ekspor batubara saja bisa menyumbang Rp66 triliun. Ia menepis kekhawatiran pelaku usaha mengenai tumpang tindih pungutan. “Ini bentuk koreksi atas keuntungan tak terduga, bukan pajak ganda,” tegasnya.

Saat ini, beban pajak Indonesia masih didominasi oleh pajak konsumsi seperti PPN yang dipikul langsung oleh pundak rakyat banyak. Dengan diterapkannya reformasi fiskal melalui windfall tax, diharapkan ada redistribusi beban ekonomi yang lebih adil.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Di tengah tekanan global yang belum mereda dan ketergantungan pada fosil yang masih mencengkeram, windfall tax muncul bukan hanya sebagai solusi ekonomi, melainkan sebagai komitmen nyata untuk memperbaiki keadilan bagi Bumi dan warganya yang kian terhimpit.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim. Donasi sekarang..


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.