Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. BRIN Ingatkan Sinyal Dini Kemarau Panjang Meski Hujan Masih Turun

BRIN Ingatkan Sinyal Dini Kemarau Panjang Meski Hujan Masih Turun

brin-ingatkan-sinyal-dini-kemarau-panjang-meski-hujan-masih-turun
BRIN Ingatkan Sinyal Dini Kemarau Panjang Meski Hujan Masih Turun
service

Jakarta, NU Online

Hujan yang masih mengguyur sejumlah wilayah, khususnya di Pulau Jawa, tidak serta-merta menandakan musim kemarau belum tiba. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru mengingatkan adanya sinyal awal kemarau panjang yang berpotensi lebih kering dan panas pada 2026.

Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa hasil pengamatan terkini menunjukkan fenomena El Nino mulai terbentuk. Hal ini ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang semakin signifikan.

“Suhu terpanas hingga anomali lebih dari lima derajat Celsius telah terjadi di lapisan permukaan timur Pasifik dan lapisan tengah (subsurface) ekuator. Aktivitas awan yang minim juga mulai terjadi di wilayah tenggara Indonesia, ditandai anomali outgoing longwave radiation (OLR) yang positif. Ini berarti tutupan awan berkurang dan menjadi sinyal kemarau mulai terbentuk secara konsisten,” ujarnya, dikutip NU Online, Rabu (6/5/2026).

Ia menyoroti hujan sporadis yang masih terjadi di Jawa tidak menggagalkan pembentukan El Nino. Menurutnya, hujan tersebut lebih dipengaruhi ketidakstabilan atmosfer akibat dinamika perairan di selatan Jawa, tepatnya di Samudra Hindia.

“Hujan di Jawa saat ini lebih merupakan dampak dinamika lokal, termasuk pengaruh vorteks di Samudra Hindia yang diprediksi bertahan hingga Juni. Namun, kondisi ini bersifat sementara dan tidak mengubah kecenderungan menuju kemarau yang lebih kering,” jelasnya.

Erma menilai pemerintah daerah belum sepenuhnya responsif terhadap sinyal dini kekeringan. Padahal, potensi deret hari tanpa hujan yang lebih panjang perlu diantisipasi sejak dini.

“Jika Jawa masih mengalami hujan sporadis, ini seharusnya dimanfaatkan untuk memanen air hujan sebagai cadangan menghadapi kemarau. Tanpa langkah antisipatif, kita berisiko menghadapi krisis air yang berulang setiap tahun,” tegasnya.

Ia juga memperingatkan bahwa periode Juli hingga Oktober 2026 berpotensi menjadi fase paling kering. Kombinasi El Nino dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan akan memperkuat intensitas kemarau.

“Dampaknya bukan hanya berkurangnya hujan, tetapi juga peningkatan suhu udara yang signifikan. Kesiapsiagaan harus dimulai sekarang, bukan menunggu kondisi memburuk,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.