Bedeng-bedeng bambu berderet di samping sepetak sawah. Hamparan tanaman padi pun tampak mulai menguning dan siap memasuki masa panen. Di sampingnya, ragam tanaman hortikultura subur memenuhi kebun pangan berpembatas bambu di lahan seluas sekitar 200 meter persegi. Aneka tanaman ini dari Kelompok Perempuan Wela Nara perempuan yang berada di Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kelompok beranggotakan 10 orang ini merupakan dampingan dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan Amati Indonesia. Yayasan ini banyak mengajari mereka bagaimana mengolah kebun pangan secara organik. “Kami mulai menanam aneka sayuran ini di akhir tahun 2025 lalu,” kata Monika Udis, Ketua Kelompok Perempuan Wela Nara, Jumat (8/5/26). Ada sawi, tomat dan kacang panjang siap panen. Ada juga tanaman wortel, kangkung dan juga pakcoy. Mereka mengatur masa tanam agar pemanenan bisa berlangsung tiap hari. Untuk pengairan, ibu-ibu ini mengambilnya dari mata air Wae Betong di dalam kawasan hutan yang mereka salurkan menggunakan bambu. Kebetulan, lokasi kebun berbatasan langsung dengan hutan Mbeliling. Kawasan hutan ini terdiri dari hutan lindung seluas 72, 4 kilometer persegi dan hutan konservasi 41, 8 kilometer persegi. Mata air dari kawasan hutan ini tak pernah kering meski di musim kemarau. Dengan siklus panen 3-4 bulan, kebun ini sudah 12 kali panen. Sebagian mereka jual, sebagian untuk bagi-bagi ke setiap anggota. “Hasil penjualan sudah terkumpul Rp6.000.000. Uangnya akan kami gunakan untuk membeli bibit tanaman lagi,” sebut Monika. Kelompok Kebun Mama Teka Iku,Kabupaten Sikka sedang panen kacang tanah di kebun pangan kelompok yang berada di dekat kawasan…This article was originally published on Mongabay
Upaya Mama-mama Flores Berdaulat Pangan sampai Konservasi Lahan
Upaya Mama-mama Flores Berdaulat Pangan sampai Konservasi Lahan





Comments are closed.