Wed,20 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Hari Kebangkitan: Rupiah Melemah dan Anak Muda Kehilangan Arah

Hari Kebangkitan: Rupiah Melemah dan Anak Muda Kehilangan Arah

hari-kebangkitan:-rupiah-melemah-dan-anak-muda-kehilangan-arah
Hari Kebangkitan: Rupiah Melemah dan Anak Muda Kehilangan Arah
service

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai penanda lahirnya kesadaran kolektif anak bangsa untuk bangkit dari keterbelakangan dan penjajahan. Kebangkitan itu dahulu tidak dimulai dari kemewahan kekuasaan, tetapi dari kegelisahan kaum terdidik yang melihat rakyat hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan ketidakberdayaan. Mereka sadar bahwa bangsa yang besar tidak boleh terus bergantung kepada kekuatan asing dan tidak boleh kehilangan martabat di negerinya sendiri.

Namun lebih dari seabad kemudian, pertanyaan pentingnya adalah: apakah bangsa ini benar-benar sedang bangkit, atau justru sedang berjalan dalam ketidakpastian? Ketika nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.600 terhadap dolar Amerika, pertanyaan itu menjadi semakin relevan. Sebab di balik angka ekonomi yang terlihat di layar berita, ada jutaan anak muda Indonesia yang sedang cemas memikirkan masa depan mereka: pekerjaan yang sulit didapat, biaya hidup yang terus naik, dan harapan yang semakin terasa jauh.

Bagi sebagian elite, pelemahan rupiah mungkin dianggap sekadar dinamika pasar global. Namun bagi rakyat kecil, terutama generasi muda yang baru lulus sekolah, kuliah, atau pesantren, keadaan ini terasa sangat nyata. Harga kebutuhan pokok bisa naik, biaya pendidikan semakin berat, dan perusahaan-perusahaan mulai menahan perekrutan tenaga kerja. Dalam situasi seperti ini, yang paling rentan bukan para pemilik modal besar, melainkan anak-anak muda yang sedang mencari jalan hidup dan tempat berpijak di tengah kerasnya keadaan ekonomi.

Hari ini banyak anak muda hidup dalam suasana ketidakpastian. Mereka tumbuh dengan janji bonus demografi, tetapi berhadapan dengan lapangan kerja yang sempit. Mereka didorong untuk sekolah tinggi, tetapi setelah lulus justru kebingungan mencari pekerjaan yang layak. Tidak sedikit sarjana yang akhirnya bekerja serabutan, menjadi pekerja informal, atau menganggur dalam waktu lama. Di desa-desa, banyak anak muda mulai kehilangan harapan. Sebagian memilih merantau tanpa kepastian, sebagian lagi tenggelam dalam media sosial, judi online, pinjaman digital, hingga budaya instan yang merusak mentalitas kerja keras.

Ironisnya, di tengah situasi ekonomi yang semakin berat, sebagian anak muda justru tumbuh dalam budaya yang memuliakan kemewahan instan. Media sosial dipenuhi pamer gaya hidup, jabatan dipandang sebagai jalan mencari fasilitas, dan kesuksesan sering diukur dari seberapa cepat seseorang kaya. Anak-anak muda akhirnya hidup dalam tekanan psikologis: ingin berhasil cepat, tetapi kesempatan nyata semakin sempit. Dalam keadaan seperti itu, banyak yang akhirnya mudah frustasi dan kehilangan arah.

Yang lebih memprihatinkan, generasi muda hari ini juga mengalami krisis keteladanan. Mereka melihat para pemimpin negeri sering lebih sibuk membuat pencitraan daripada memberi arah. Pernyataan-pernyataan yang keluar kadang terasa jauh dari realitas kehidupan rakyat. Ketika rupiah melemah dan ekonomi terasa berat, rakyat justru disuguhi komentar-komentar yang terkesan meremehkan keadaan. Padahal anak muda membutuhkan kejujuran, keseriusan, dan keberanian pemimpin dalam menghadapi persoalan bangsa.

Di sinilah pentingnya keteladanan para pemimpin negeri. Sebab pidato tentang nasionalisme tidak akan bermakna jika rakyat melihat gaya hidup elite justru semakin jauh dari kesederhanaan dan empati sosial. Anak muda tidak hanya mendengar apa yang dikatakan pemimpin, tetapi memperhatikan bagaimana mereka hidup, bersikap, dan memperlakukan kekuasaan. Ketika pemimpin memberi contoh hidup sederhana, bekerja serius, dan mau mendengar kritik, maka di situlah pendidikan kebangsaan berlangsung secara nyata. 

Tetapi ketika yang tampak justru kegaduhan politik, saling sindir, dan perebutan kepentingan, maka generasi muda pun tumbuh dalam kebingungan tentang nilai apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan negeri ini.

Anak muda belajar bukan hanya dari buku sekolah, tetapi juga dari perilaku elite negara. Ketika mereka melihat korupsi terus terjadi, hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, pejabat gemar bermewah-mewahan di tengah kesulitan rakyat, maka yang rusak bukan hanya ekonomi, tetapi juga moral generasi. Mereka bisa kehilangan keyakinan bahwa kerja keras dan kejujuran benar-benar dihargai di negeri ini. Dalam jangka panjang, ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar melemahnya nilai tukar rupiah.

Kebangkitan bangsa sejatinya dimulai dari keteladanan. Dahulu para tokoh pergerakan nasional hidup sederhana, berpikir besar, dan menjadikan rakyat sebagai pusat perjuangan. Mereka tidak membangun citra melalui media sosial, tetapi membangun kesadaran melalui pendidikan, organisasi, dan pengorbanan. Mereka memahami bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas manusia, bukan sekadar proyek pembangunan atau statistik pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional tahun ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Negara tidak cukup hanya membangun jalan, gedung, atau infrastruktur fisik, tetapi juga harus membangun harapan generasi muda. Anak-anak muda membutuhkan pekerjaan yang layak, pendidikan yang terjangkau, dan ruang untuk berkembang. Mereka membutuhkan iklim sosial yang sehat, bukan suasana politik yang penuh kegaduhan dan permusuhan tanpa akhir.

Kita juga perlu jujur bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Masyarakat, dunia pendidikan, pesantren, tokoh agama, dan keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk mental generasi muda. Anak muda harus diajarkan bahwa kehidupan tidak dibangun dengan budaya instan. Mereka perlu dibekali daya tahan, kemampuan berpikir kritis, akhlak, dan keberanian menghadapi kenyataan hidup. Sebab bangsa yang kuat tidak lahir dari generasi yang mudah menyerah atau hanya pandai mengeluh.

Namun demikian, negara tetap memiliki tanggung jawab utama untuk menciptakan sistem yang adil. Sebab sekuat apa pun mental anak muda, mereka akan sulit berkembang jika peluang kerja semakin sempit, biaya hidup terus naik, dan akses ekonomi hanya dikuasai kelompok tertentu. Kebangkitan bangsa tidak akan pernah terwujud jika generasi mudanya justru hidup dalam rasa putus asa.

Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya tentang mengenang sejarah masa lalu, tetapi tentang menyelamatkan masa depan. Dan masa depan itu hari ini sedang dipertaruhkan di hadapan generasi muda Indonesia. Mereka sedang melihat, menilai, dan belajar dari apa yang dilakukan para pemimpin negeri ini. Apakah mereka mendapatkan teladan tentang kesederhanaan, kejujuran, keberanian, dan pengabdian? Ataukah justru menyaksikan kegaduhan, pencitraan, dan perebutan kepentingan yang semakin menjauh dari penderitaan rakyat?

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.