Jakarta (ANTARA) –
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog menilai kemampuan komunikasi orang tua perlu terus dilatih untuk membangun hubungan yang sehat dengan anak di tengah tantangan era digital saat ini.
Menurut Novi, banyak orang tua tanpa sadar memiliki persoalan komunikasi karena tidak terbiasa mendengarkan maupun berdialog secara mendalam dengan orang lain.
“Kalau kita diajak ngobrol lama atau mendengarkan orang lain lama, kita betah enggak? Itu sebenarnya bisa jadi ukuran,” kata Novi kepada ANTARA, Rabu.
Ia mengatakan kebiasaan komunikasi masyarakat saat ini cenderung singkat, cepat, dan berorientasi pada kebutuhan praktis sehingga kemampuan mendengarkan perlahan melemah.
Padahal, kata dia, anak membutuhkan orang tua yang mampu hadir dan mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian.
Baca juga: Psikolog: Anak perlu belajar komunikasi sebelum kenal dunia digital
“Anak-anak itu tidak butuh dinasihati terus. Mereka butuh didengarkan,” ujarnya.
Novi menilai banyak orang tua terlalu cepat memberi nasihat atau instruksi dibanding membuka ruang dialog dengan anak.
Menurut dia, pola komunikasi seperti itu dapat membuat anak enggan terbuka karena merasa tidak benar-benar dipahami.
“Jangan mudah menasihati karena itu menjadikan ruang tidak aman di rumah,” katanya.
Ia menjelaskan kemampuan komunikasi dan mendengarkan sebenarnya dapat terus dilatih, termasuk oleh orang dewasa.
Menurut dia, latihan sederhana dapat dimulai dengan membiasakan diri mendengarkan cerita orang lain tanpa memotong pembicaraan atau merasa harus segera memberi solusi.
Baca juga: Komunikasi hangat penting untuk menciptakan rumah aman bagi anak
“Kita bisa latihan dengan benar-benar mendengarkan orang lain, bahkan ketika kita tidak punya kepentingan apa pun,” ujarnya.
Novi mengatakan kemampuan mendengarkan penting karena manusia pada dasarnya membutuhkan ruang untuk berbicara dan merasa diterima.
Ia juga menekankan perubahan pola komunikasi dalam keluarga perlu dimulai dari orang tua karena anak cenderung meniru kebiasaan yang mereka lihat sehari-hari.
“The change start from the parents,” katanya.
Menurut dia, komunikasi hangat dalam keluarga tidak terbentuk secara instan, tetapi membutuhkan kesadaran dan latihan yang dilakukan secara konsisten.
Baca juga: Psikiater: Kedekatan orang tua dengan anak berperan dukung PP Tunas
Baca juga: Psikolog ingatkan orang tua bangun kualitas kebersamaan dengan anak
Baca juga: Ciptakan aktivitas menarik kurangi penggunaan gawai pada anak
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





Comments are closed.